Sabar merupakan salah satu sikap baik dan menjadi tinjauan utama dalam penyelesaian beberapa permasalahan. Kesuksesan sebuah solusi yang dihasilkan, dapat dilihat dari perhatian sebuah sikap sabar dalam jiwa dan keikutsertaan dalam pengamalan sabar akan permasalahan.

            Harus bisa dipahami bahwa penghalang terbesar dari pengamalan sikap sabar adalah hadirnya rasa marah atau emosional yang sulit untuk diluluhkan. Jadi perlu juga dimengerti dan digaris bawahi bahwa marah adalah sebuah rangkaian bara api yang dilahirkan Syaitan kedalam hati generasi Adam A.S sehingga ia mudah emosi, dadanya berdebar panas, urat sarafnya menegang, wajahnya memerah, dan terkadang ucapan dan perilakunya lebih mengerucut  pada hal kotor, keji dan segala hal jelek yang tidak pantas untuk dilakukan.

            Sejauh ini, marah terbagi menjadi dua bagian; marah baik dan marah jelek. Namun Generasi Adam A.S masih banyak yang berkolaborasi dan bermutualisme dengan sebuah rasa marah yang jelek. Banyak diantara mereka tidak bisa membedakan antara marah yang diperintah dan marah yang dilarang. Padahal kedua lini marah ini hanya diperuntulkkan bagi marah yang dinisbatkan kepada makhluk bukan pada ketuhanan. Diantara contoh marah yang diperintah adalah marah yang dilakukan karena Allah dan membela agama Allah SWT.dengan ikhlas, seperti yang dilakukan Rasulullah ketika hukum-hukum Allah SWT. dilanggar maka beliau marah sebabnya.

            Pengertian diatas bisa dibaca dengan beberepa perilaku dalam setiap harinya. Fakta lapangan memperlihatkan bahwa sikap pasti marah melanda kepada seluruh lapisan manusia. meski marah biasa dibilang sebuah thabi’at manusia, tapi momok terparah adalah ketika kaum sarungan banyak yang tidak bisa menahan  rasa marah, banyak diantara mereka yang bermusuhan, egois bahkan putus asa ketika marah sedang menimpanya. Sangat banyak mudhorot yang dilahirkn ketika kaum sarungan tidak bisa menahan marahnya, tidak hanya saling bermusuhan bahkan saling memfitnah dan menjatuhkan. Salah fatalnya terjadi dikarenakan mereka terlalu membawa perasaan yang tidak bisa mereka kondisikan. Hal ini sangat bertolak belakang dengan makna tersirat pada kaum sarungan; dimana kaum sarungan selalu mengikuti segala sunnah Rasulullah SAW. Kapanpun dan dimanapun ia berada.

            Dalam hal diatas, Penulis ingin memamparkan betapa melarangnya  Rasulullah atas perilaku marah yang membahayakan. Diriwayatkan dalam hadits oleh Abu Hurairah r.a bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi SAW, “Berilah wasiat kepadaku.” Sabda Nabi SAW: “Janganlah engkau mudah marah.” Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau, “Janganlah engkau mudah marah.” (HR Bukhari). Dari hadist tersebut Rasululah sangat malarang umatnya untuk menimbulkan sikap marah.bahkan Rasulullah mengulanginya dengan berkali-kali. Oleh sebab itu, Penulis juga ingin memaparkan bagaimana caranya untuk mencegah agar sikap marah tidak melulu datang dan mengobati ketika sikap marah telah melanda. Salah satu cara mencegah agar sikap marah tidak melulu datang adalah: kita tidak harus melulu membawa perasaan dalam segala hal, kita harus membawa perasan pada tempatnya. Bisa ketika sedang dalam forum serius, kegiatan santai dan lain sebagainya. Selain itu, kita harus sadar dan tidak merasa bahwa inilah aku, ini karena aku. Karena jika kata ‘aku’ selalu dinisbatkan dalam segala hal, maka keegoisan dan keangkuhan pasti terlahirkan.

Di antara cara yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Dalam meredam amarah adalah:

  1.  mengucapkan ta’awwudz أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.”
  2. Hendaklah diam, tidak mengumbar amarah.
  3. Dianjurkan berwudhu’.
  4. Merubah posisi,apabila marah dalam keadaan berdiri hendaklah duduk, dan apabila marah dalam keadaan duduk hendaklah berbaring.
  5. Ingatlah akibat jelek dari amarah.
  6. Ingatlah keutamaan orang-orang yang dapat menahan amarah.

          Dari sini bisa dipahami dan diambil sebuah kesimpulan, kita sebagai Kaum Sarungan yang notabenenya sebagai seorang Santri perlulah bagi kita untuk bisa mencegah dan meredam sikap marah ketika sedang melanda. Selain kita juga punya kewajiban untuk terus melestarikan sunnah-sunnah Rasulullah, dan pada intinya jadi santri jangan baperan…! Wassallam

Sumber : Kitab Hadist Arbai’n An-Nawawi, Kifayatul Atkiya Waminhajul Ashfiya’, Kitabul Adab Al-Anwar Musyarafah

Oleh: Uwasy al_Qorny

Leave a Reply

Your email address will not be published.