Final Jawara Pesantren 2022 yang digelar di Auditorium lantai III Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng kemarin adalah penanda selesainya rangkaian acara Road to Jawara Pesantren 2021-2022. Kegiatan ini berawal dari Seminar Kewirausahaan yang digagas oleh Gus Ipang Wahid (Founder Omah Asa), seminar bertemakan “Jawara Pesantren: Jagoan Wirausaha Pesantren” dilakukan via Zoom App didukung oleh Universitas Hasyim Asy’ari, Pertamina Foundation, Omah Asa, dan Koperasi Ardaya pada Desember 2021 silam.

Seminar yang dihadiri oleh banyak entrepreneur pesantren seluruh Indonesia ini juga dihadiri Prof. Dr. H. Haris Supratno (Rektor Universitas Hasyim Asy’ari), Agus Mashud (Dirut Pertamina Foundation), dan Gus Ipang Wahid (Founder Omah Asa) sebagai keynote speaker. Disebutkan dalam seminar tersebut bahwa Jawara Pesantren adalah program pendampingan bisnis oleh profesional sekaligus kompetisi adu ide bagi kalangan santri pesantren.

Menurut Farhur Rahman, S.Pd.I Ketua Kopontren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul mengatakan seminar di akhir Desember 2021 lalu itu adalah sesi pembuka rangkaian Jawara Pesantren, “Seminar itu awalan untuk inkubasi core businesses sehingga para peserta dapat mewujudkan ide-ide ini menjadi program hingga dapat diwujudkan menjadi sebuah bisnis” ujar Guru Bahasa

Sementara itu, M. Aminuddin Sofi, M.H. juga menuturkan jika seminar ini adalah teaser agar kita para santri lebih terbuka dan mau membuka aspek pleasure untuk berbicara mengenai kreativitas bisnis, “Pendampingan beberapa kali oleh pihak profesional akan dilakukan selama kegiatan berlangsung, selanjutnya seluruh peserta akan diseleksi dan dipilih 20 besar” ungkap tenaga Pendidik PPMU BAKID ini

Bakid Bangkit

Sabtu (26/3/2022) kemarin, delegasi Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul di ajang ini menempati posisi ketiga terbaik dari 20 finalis. Para finalis memiliki kategori bisnis yang bervariasi seperti jasa desain, fesyen, kuliner, kursus, parfum, peternakan, hingga jaringan ritel. Bakid Bangkit fokus ke bisnis retail yang melayani kebutuhan santri dan masyarakat sekitar pesantren. Mengusung “Konsep Integrasi UMKM Santri dan Model Bisnis Retail Pesantren”, Bakid Bangkit optimis kedepannya mampu mengembangkan bisnisnya ke bidang lain.

Model jaringan yang terintegrasi dipercaya akan dapat bertahan di tengah ketatnya persaingan bisnis saat ini, terlebih dengan penetrasi teknologi yang begitu masif akan menggerus UMKM maupun badan usaha yang tidak mampu beradaptasi. Farhanuddin Sholeh, M.Pd.I yang juga bagian dari Tim Bakid Bangkit mengungkapkan sebelum tahap final, setiap tim diwajibkan untuk mengikuti rangkaian program pendidikan fundamental kewirausahaan dengan materi yang terdiri dari: business model canvas, pengembangan produk dan riset pasar, pemasaran, literasi digital, keuangan, legal, dan presentasi bisnis yang dibawakan oleh komunitas pendidik dari Koperasi Ardaya bersama Omah Asa dan di bantu Pusat Karir dan Kewirausahaan (PKKU) Universitas Hasyim Asy’ari.

“Kami berharap dengan hasil mengikuti Jawara Pesantren ini semoga kita para santri dapat lebih bersatu dan membuka wawasan baru sehingga mampu menciptakan usaha-usaha baru dan otomatis menciptakan lapangan pekerjaan dengan lebih banyak, serta akan meningkatkan taraf ekonomi pelaku usaha yang terlibat di ekosistem bisnis itu sendiri” harapan Farhan. Ustadz Fat (sapaan Farhur Rahman, S.Pd.I) menambahkan, “Jika banyak santri mampu melakukannya tentu iklim produktif di internal pesantren akan baik, tentunya butuh dorongan dan dukungan dari banyak pihak. Kedepannya para siswa di sekolah-sekolah formal yang ada di lingkungan PP. Miftahul Ulum Bakid perlu diperhatikan pengetahuan terkait literasi keuangan dan bisnis” terang Fathur.

Leave a Reply

Your email address will not be published.