Manusia, makhluk paling sempurna yang Allah SWT ciptakan di seluruh alam semesta. Dengan akal terbatas yang di milikinya, manusia selalu ingin memecahkan misteri-misteri yang ada di alam semesta ini. Sehingga rasa keingintahuan manusia akan misteri-misteri tersebut terus bergejolak ke level yang lebih tinggi. Namun dengan terpecahnya sebagian dari pada misteri itu (terbukti secara sains) seolah-olah peranan Tuhan di dalamnya lambat laun menjadi hilang. Dan pada misteri-misteri lain yang masih belum bisa terpecahkan, manusia masih menganggapnya itu kuasa Tuhan. Tetapi jika sains sudah menjelaskannya secara ilmiah kuasa Tuhan di sini sudah tidak dianggap lagi, konsep seperti ini kemudian disebut GOD OF THE GAPS.

Salah satu pemikiran atheisme adalah menganggap bahwa konsep Tuhan (God) itu hanya untuk mengisi celah (gaps) yang tidak bisa atau belum bisa dijelaskan oleh sains. Sehingga menimbulkan sebuah gagasan bahwa ketika penelitian ilmiah berlangsung dan semakin banyak fenomena alam bisa dijelaskan secara natural, maka sedikit demi sedikit peran Tuhan akan menghilang dengan sendirinya. Seperti keyakinan nenek moyang dahulu yang menganggap bahwa gunung meletus sebagai akibat dari marahnya sang ghaib (penunggu gunung), sehingga diperlukan sesajen untuk meredam amarahnya. Namun, sekarang hal tersebut sudah tidak dianggap menjadi hal yang supernatural lagi, tetapi menjadi hal yang natural.

Jadi, seolah-olah alam semesta ini sebuah dinding puzzle besar, yang awal mulanya sebagian besar dari pada dinding puzzle tersebut masih kosong (belum diisi dengan kepingan puzzle). Kemudian untuk mendapatkan satu keping puzzle, dibutuhkan usaha yang besar dari manusia. Manusia butuh kecerdasan dan sumber daya yang cukup untuk menemukan keping demi keping puzzle tersebut. Yang menjadi pertanyaan sekarang ialah, apakah dinding tersebut sudah diisi oleh kepingan-kepingan puzzle, dan sudah menyisakan celah yang sedikit?. Akan tetapi fakta menunjukkan, meskipun sudah banyak kepingan-kepingan puzzle yang dihasilkan oleh usaha manusia, namun ruang kosong masih luas. Bahkan, celah kosong yag ada semakin rumit untuk diuraikan dan ruang lingkupnya semakin meluas.

Dari berbagai penjelasan di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa, Tuhan hanyalah sebagai pengisi celah ilmu pengetahuan. Sedangkan ilmu pengetahuan yang sudah bisa dijelaskan secara sains tidak lagi menganggap adanya peran tuhan di dalamnya, sehingga muncul istilah God of The Gaps. Namun, bagi kita kaum Aswaja anggapan seperti itu bukan hanya keliru, tetapi sudah menyalahi kaidah theologi Aswaja. Karena bagi kaum Aswaja semua ilmu pengetahuan itu merupakan kekuasaan Allah SWT, meskipun ilmu pengetahuan tersebut sudah bisa dijelaskan secara gamblang oleh sains.

Penulis: Ikmal Sholihin

Leave a Reply

Your email address will not be published.