Ketika kita mendengar lantunan Al-Qur’an ayat 56 surah adz-dzariyat وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ, akan tetapi kita tidak bertafakur lebih mendalam untuk memahami hakikat ibadah itu sendiri, sehingga banyak dari kalangan yang memahami ibadah itu cuma hanya tertuju pada rukun Islam yaitu: syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu.

Padahal ibadah itu, merupakan bentuk manifestasi penghambaan manusia kepada Allah SWT, pengamalan ibadah ini juga sebagai bukti syukur yang dilakukan seorang hamba atas nikmat Allah SWT.

Dari sini, kita pasti bertanya-tanya dalam hati. Apa sih ibadah itu? Jika meninjau ayat tersebut, apa kita hanya sekedar melaksanakan perintah dan mejauhi larangan Allah SWT saja?

Ibadah yang sebenarnya ialah kata yang mengintegrasikan dua hal yaitu rasa rendah diri dan rasa cinta kepada sang Kholiq. Oleh karena itu, dua hal tersebut tidak bisa terpisahkan sebagai penyempurna arti dan hakikat ibadah kepada Allah SWT. Ketika seorang hamba yang menyadari bahwa ibadahnya itu sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah SWT, maka pada saat itulah ibadah seorang hamba akan menjadi perisai.

Rasa rendah diri itu bisa terpisah dari rasa cinta. Namun tidak jarang rasa rendah diri yang tidak diselingi persaan cinta, dapat menimbulkan kebencian terhadap orang yang ditundukinya. Sejatinya, hakikat ibadah itu terletak pada melaksanakan apa yang dicintai dan diridhoi Allah SWT dengan penuh kepasrahan dan rasa rendah diri. Oleh sebab itu, ibadah itu harus merujuk pada tatanan yang benar, yang dibangun atas rasa cinta dan ta’dhim, karena beribadah tidak bisa dilakukan secara sembarangan yakni kemauannya sendiri. Namun yang lebih tepatnya yaitu mengikuti tuntunan Al-Qur’an dan mengikuti petunjuk ajaran Nabi Muhammad SAW.

Misalkan seorang yang sedang mengerjakan sholat dengan rasa cinta dan rasa rendah diri, maka ia akan sampai pada puncak hakikat yang sebenarnya, dalam artian sholatnya tambah rajin dan ia beranggapan bahwa ibadahnya adalah hanya bentuk sykur atas nikmat Allah SWT.

Syaikh Ibnu Athoillah berdawuh dalam kitab Al-hikam

علم قلة نهوض العباد إلى معاملته فأوجب عليهم وجود طاعته فساقهم إليه بسلاسل الإيجاب

Artinya: Allah SWT memaklumi rendah semangat hamba-Nya untuk berinteraksi dengan-Nya, maka dari itu Dia mewajibkan adanya ketaatan untuk mereka sehingga Dia menggiring mereka kepada-Nya dengan belenggu kewajiban.

Dapat disimpulkan bahwa hakikat ibadah itu tidak hanya terbatas pada bentuk sholat saja, akan tetapi ibadah itu memiliki segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah SWT baik berupa perbuatan atau kutipan atau dilakukan secara terang-terangan atau tidak.

Tulisan salah satu santri PP Miftahul Ulum Bakid

Editor: Kholili

Leave a Reply

Your email address will not be published.