Headlines

Memahami Ayat-ayat Teguran Pada Nabi SAW Dalam Al-Qur’an

Oleh: Moh. Ghufron Hidayatullah, SH., M.Ag. (Alumni dan Pengurus PPK Alif Lam Mim Surabaya)

Dalam banyak ayat-ayat al-Qur’an, secara teks, dijumpai ayat-ayat al-Qur’an yang kandungannya mengindikasikan seakan-akan Nabi ﷺ tidak memiliki sifat-sifat terpuji sebelumnnya (ditegur). Sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللّٰهَ وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَالْمُنٰفِقِيْنَۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ 

Wahai Nabi, bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.”

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ

Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh.”

Ayat-ayat tersebut dan sejenisnya harus dipahami bahwa Nabi ﷺ bukan berarti sebelumnya tidak bertakwa, menaati kemauan orang-orang kafir, tidak memiliki sifat memberi maaf, tidak memerintah hal yang makruf dan mengikuti kemauan orang-orang bodoh. Sama sekali tidak demikian, bahkan, perintah yang ada pada ayat-ayat tersebut dan sejenisnya bukanlah baru agar Nabi ﷺ memiliki sifat terpuji itu, akan tetapi perintah untuk meneruskan sifat-sifat terpuji  Nabi ﷺ sebelumnya, hal itu karena Nabi ﷺ telah memiliki sifat-sifat terpuji tersebut sebelumnya sebagaimana yang sudah maklum dalam literatur-literatur fakta sejarah. Atau makna ayat itu seakan-akan perintah pada Nabi ﷺ akan tetapi yang dituju objeknya adalah Umatnya, agar umatnya meneladani sifat-sifat Nabi ﷺ tersebut.

اِنَّآاَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَآ اَرٰىكَ اللّٰهُۗ وَلَا تَكُنْ لِّلْخَاۤىِٕنِيْنَ خَصِيْمًاۙ 

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad ﷺ) dengan hak agar kamu memutuskan (perkara) di antara manusia dengan apa yang telah Allah ajarkan kepadamu. Janganlah engkau menjadi penentang (orang yang tidak bersalah) karena (membela) para pengkhianat.”

Ayat ini turun berkaitan dengan Qatadah bin Al-Nu’man yang barang barang dagangannya dicuri, kemudian menuduh bani Abiriq dari golongan orang-orang munafik dan sekelompok orang-orang beriman. Nabi ﷺ menegurnya seraya bersabda, “Engkau menuduh Ahli Bait yang dikenal keislaman dan kebaikannya, lalu menuduh mereka mencuri tanpa bukti yang nyata.”

Qatadah berkata, “Aku tarik kembali (tuduhanku).” Kemudian turunlah ayat itu. Sedangkan konteks firman-Nya,( خَصِيْمًاۙ  ) seakan-akan teguran kepada Nabi ﷺ karena cenderung kepada orang-orang munafik dan menantang mereka yang tidak bersalah. Sungguh beliau tidak mungkin seperti itu, karena beliau adalah orang yang terpercaya dan amanah adalah sifat beliau sebelum menjadi Rasul. Beliau adalah orang yang menjauhi hal yang tidak baik dan dikenal baik dan bersih.

Pendapat Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki ayat tersebut maknanya adalah, “Wahai Muhammad, teruslah pada perjalanan hidupmu yang diridhai dan akhlakmu yang suci dengan tidak membantu orang-orang munafik, menolong mereka, atau membela mereka. Firman-Nya lagi: 

وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدٰى فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ 

Seandainya Allah menghendaki, tentu Dia akan menjadikan mereka semua mengikuti petunjuk. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang bodoh.”

Makna ayat ini, menurut Sayyid Muhammad al-Maliki adalah, “Teruslah konsisten pada pengetahuan dan ilmu serta penghindaranmu dari orang-orang yang bodoh.”

Kesimpulan: Dari penjelasan Ulama, interpretasi dan analisis darinya, menyimpulkan bahwa sama sekali Nabi ﷺ bukanlan objek teguran, akan tetapi motivasi pada beliau agar tetap dalam kebaikan sesuai dengan ilmu dari Allah ﷻ dan sifat-sifat kebaikan sebelumnnya. Atau ayat itu disampaikan kepada Nabi akan tetapi objek atau khitabnya adalah kepada Ummatnya agar mengikuti sunnah kebaikan beliau. Wallahua’lam.

Leave a Reply