Perkembangan teknologi sekarang sudah tidak terbatas, mulai sejak di publikasikannya industri 4.0 negara maju mulai berlomba-lomba untuk membuat sumbangsih pada dunia untuk mempermudah pekerjaan manusia, mulai dari alat transportasi hingga alat komunikasi yang bervariasi. Di samping memberi efek positif seperti dengan adanya pesawat  yang dapat memangkas ribuan jarak kilometer, dengan Hendpone satu tekan saja dunia seakan ada di geengamannya, tapi di samping itu perkembangan teknologi memiliki efek negatif yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Dari generasi muda samapi tuapun tak dapat dipisah dari yang namanya teknologi. Sehingga timbul candu yang dapat merusak kehidupan sosial mereka.

                Hal ini juga merambat pada kita sebagai santri yang tak luput dari perecikan efek negatifnya teknologi, seperti penyebaran berita hoax hingga pacaranpun tak bisa dielakkan, terlebih lagi ketika di rumah. Pacaran semacam tradisi yang harus terealisasi hingga menyebabkan efek yang begitu parah terhadap proses pembelajarannya seperti halnya gak kerasan hingga rindu yang tak berkesudahan dan ironisnya sebagian santri diperbodoh oleh kerinduan yang semu, diperbudak asmara hingga pelajaran pun menjadi tumbalnya.

                Ada sebuah maqolah “asmara membuat laki-laki dan perempuan cenderung murah” bukan tanpa alasan, memang kenyataannya begitu. Dahulu saja politik kerajaan menjadi berantakan gara-gara masalah wanita, hubungan persaudaraan menjadi gerah gara-gara percintaan semu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, bukan cintanya yang bermasalah tapi pelakunya membuat kesucian cinta terkontaminasi oleh polesan dunia.

                Santri yang produktif tak harus didorong oleh penyemangat semu yang Cuma menumbuhkan semangat dalam jangka pendek. Menuntut ilmu juga tak harus terpacu oleh buaian kata-kata pasangan. Ingat ! iblis menanam beribu-ribu macam jerat di tingkah pola wanita.

                Ada berbagai macam cara untuk mensuplime semangat kita, salah satunya ialah berlomba-lomba dalam kebaikan dengan cara menumbuhkan semangat kompetitif dalam kancah pendidikan, iri dalam masalah ke intelektualan merupakan pemicu untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan dan memperluas khazanah islam. Waallahu a’lam.

Oleh : Fahrur Rozi A.06 (juara 1 lomba karya tulis ilmiah Majalah Dinding)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *