Ngabdi kepada Tokoh bagi mayoritas Murid merupakan sebuah keharusan. Mindset yang sudah mengakar ini, kelihatanya perlu kembali dikaji ulang. Terlihat dari beberapa kasus yang terjadi, pengkhidmatan yang berlebih menjadi salah satu faktor kesempatan sebagian kalangan tokoh untuk berbuat sewenang wenang.

Pembahasan awal saya ini menggunakan bahasa Tokoh, tidak dalam bahasa Guru. Sebab bagaimanapun bahasa Guru dalam standar haqiqatnya bukan sekedar penyampai Ilmu. Meminjam bahasa mas Dilan, Guru itu di Gugu dan di Tiru. Sedang dalam bahasa kitab pesantren Guru adalah sosok yang tidak hanya Alim tapi Amil.

وعنه ﷺ أنه قال “لا يكون المرء عالماً حتى يكون بعلمه عاملاً”

Artinya : Tidaklah seseorang dikatakan Alim sehingga dia mengamalkan ilmunya.

Kembali kepembahasan utama. Berbicara tentang Ta’dzim, bisa kita pelajari bersama dari awal mula proses penciptaan manusia. Wabilkhusus antara Allah dan para Malaikat, sebagai makhluk yang tercipta sebelum diciptakan manusia.

Ketika Allah berkata bahwa akan menciptakan makhluk sebagai Khalifah di Muka Bumi, malaikat sedikit mengkritisi kehendak Allah tersebut. Dalam kritik Malaikat ini jika kita pahami dengan jernih mengandung makna bahwa Ta’dzim bukan kemudian melepaskan kecerdasan, apalagi menihilkan kehormatan diri sehingga hilang kendali.

Para Malaikat berkata : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S Al Baqarah 2:30)

Kritis bukan Su’ul Adzab. Kritis bukan Ghibah. Kritis bukan melawan tanpa memahami maksud rahasia. Akan tetapi terlepas dari hal itu dihadapan Guru yang sebenar benarnya, bukan Guru Guruan sebagaimana yang tadi saya maksud, Husnudzon dalam setiap ahwal Nya merupakan perkara wajib.

Dengan memegang teguh makna Jawaban Allah  kepada para malaikat atas kritik yang dilontarkan :

 ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

 “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”.

Dibahasakan untuk seorang Guru “Aku lebih mengetahui apa yang kalian maksud (Murid/santri)”.

Firman Allah kepada Malaikat ini merupakan sebuah peringatan penting bahwa dalam menjadikan seseorang sebagai sosok guru perlu pertimbangan yang matang sebagai mana yang diatur oleh kitab Ta’limul Mutallim karya salah seorang ulama’ Madzhab Hanafi Imam Azzarnuji. Sebab berguru berarti ta’dzim lahir dan bathin.

Dari firman Allah kepada malaikat itu pula menjadi Guru berarti wajib berusaha menjadi manusia yang Inni A’lamu minka. Sehingga ketika ada ketidak mengertian bagi murid apa yang dari guru, baik dalam Aqwal, atau Af’alnya. Sang Guru bukan kemudian marah marah tanpa dasar, melainkan menampilkan Hikmah bermakna yang kemudian ditauladani dan diamalkan untuk kesuksesan Nya di Dunia dan di Akhirat.

Memang dalam satu kesempatan Sayyidina Ali Karramallhu Wajhah pernah Menyampaikan : Ana Abdu Man Allamani Harfan Wahidan. Aku adalah Budak seseorang yang mengajariku walaupun satu huruf.

Pertanyaanya : Apakah Abdun dalam maqolah ini arti dari Antonim Hurron (Merdeka) yaitu perbedaan Status sosial. Hemat saya Abdun disni dalam Arti rasa hormat tidak sampai kepada hilangnya pentasorrufan maupun hilangnya daya kritis, sebagaimana budak dalam strata sosial dimasa lalu.

Penulis: Sirojul Munir

One thought on “Ta’dzim Bukan Hilang Daya Kritis

Leave a Reply

Your email address will not be published.