Perubahan zaman yang begitu cepat, juga membawa perubahan terhadap gaya hidup seseorang. Mulai dari hal hal yang serba sulit menjadi begitu praktis. Akses informasi juga membantu kita untuk tidak terlalu bersusah payah dalam mencari tahu sesuatu. Berdiam diri di dalam rumah sekalipun, sudah cukup membuat kita tahu akan hal hal yang terjadi di belahan bumi manapun. Hal ini juga menyebabkan kita merasa tertuntut untuk memberitahu kepada dunia maya tentang aktivitas yang kita lakukan di dunia nyata.

Tak ayal, kita berlomba lomba untuk mengupdate beranda sosial media dengan segala aktivitas pribadi yang kita lakukan. Seakan akan jika tidak memposting sesuatu di dunia maya, maka akan dianggap tidak ada, wujuduhu ka adamihi. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, tidak akan luput dari yang namanya update status. Dari yang ingin memberi informasi akan suatu kejadian, atau hanya sekedar ikut ikutan karena tidak ingin dianggap ketinggalan. Semua itu terjadi pada kehidupan di masa sekarang. Umat manusia sedikit demi sedikit bertransformasi dari makhluk nyata menjadi makhluk maya.

Pada akhirnya istilah ‘pencitraan’ begitu populer disebutkan. Dimana dalam KBBI dijelaskan bahwa ‘pencitraan’ adalah, cara membentuk citra mental pribadi atau gambaran sesuatu. Sedang dalam istilah yang sering kita pahami selama ini adalah, perilaku kebaikan yang ditampakkan terhadap publik agar orang orang menganggap dirinya baik. Seperti konten konten di chanel youtube, yang memperlihatkan seseorang sedang membeli sesuatu terhadap pedagang asongan, namun membayar dengan harga di atas semestinya. Bertujuan untuk bershadaqah kepada pedagang kecil. Atau yang sering kita lihat selama ini, tentang pejabat negara yang memberikan bantuan terhadap rakyat kecil, namun di sorot dengan kamera yang begitu banyak, serta di posting di sosial media.

Memang masih banyak kalangan menganggap bahwa kebaikan itu tidak perlu di pertontonkan kepada publik. Ketika kita melakukan kebaikan, maka lakukanlah dengan ikhlas, tanpa perlu ada maksud untuk keuntungan pribadi. Toh, kebaikan yang didasarkan pada riya’ tidak akan mendapatkan pahala. Dengan adanya perilaku baik bermaksud agar popularitasnya terangkat, sama halnya dengan menjadikan mereka yang kesusahan sebagai alat kepentingan.

Dulu ketika orang orang masih belum eksis di sosial media, kebaikan dilakukan semata mata sebagai bentuk untuk membantu mereka yang sedang kesusahan. Menshadaqahkan harta sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Bahkan ibadah terbaik itu adalah dengan cara sembunyi sembunyi. Seperti cerita KH. Hamid Pasuruan, yang setiap malam membagi bagikan beras terhadap tetangga tanpa ada satu orangpun yang mengetahuinya. Atau di Madinah dulu, orang orang tidak perlu khawatir tentang persediaan gandum yang mereka miliki. Karena setiap persediaan yang mereka miliki habis, akan ada sekarung gandum yang tersedia di depan pintu rumah. Hal itu terjadi selama bertahun tahun. Sampai suatu ketika ada seorang ulama wafat, ketika dimandikan mereka menemukan sejumlah bekas warna hitam di punggungnya, seperti bekas orang yang sering mengangkat beban. Dan orang itu ialah Imam Ali Zainal Abidin.

Dulu ibadah secar sir itu memang ibadah terbaik. Namun untuk zaman sekarang, tidak bisa kita pungkiri, bahwa kemaksiatan pun sering dilakukan secara terbuka. Dan itu malah dianggap hal yang biasa, bahkan parahnya ketika hendak ditegur malah dianggap sok alim, ikut campur dengan urusan orang lain, dan dianggap mabuk agama. Lalu mengapa orang orang yang melakukan kebaikan di depan kamera dianggap sebagai pencitraan diri, sedang mereka yang mempertontonkan aurat, malah dipuji puji? Bukankah sama saja kita mendukung mereka dalam kemaksiatan dan menghalangi mereka di jalan kebaikan.

Kata Imam Abu Hasan Asy-Syadzili “Kamu kalau taat harus di tampakkan, sebagaimana mereka yang menampakkan maksiat.” Karena setiap kali kita tidak menampakkan ketaatan, maka yang akan tampak di dunia ini adalah kemaksiatan. Terlalu apriori dan menganggap segala kebaikan adalah pencitraan, sama halnya pesimis dengan kebaikan. Terkadang sebagian dari kita malah menganggap mereka riya’, pamer kekayaan dan lain sebagainya. Padahal apapun anggapan yang kita lihat, tidak akan mengugurkan kebaikan yang mereka lakukan. Masalah riya’ atau tidaknya, hanya Allah yang Maha Tahu. Hal itu cukup menjadi urusan antara Dia dan hambanya. Sedangkan kita tidak boleh sepakat dalam kesesatan, dan harus mendukung mereka dalam kebaikan. Sekian.

Oleh: Muhammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *