Cerpen Karya : Maulana *)

Terlihat di sebuah mobil yang melaju pelan membelah gelapnya malam, ada seorang suami istri yang sedang adu mulut.

               “pokoknya Abdi harus sekolah, aku gak mau tau.!!” bentak hendrik.

               “Mas, sudahlah, jangan terlalu memaksakan kehendak anak kita, biarkan abdi memilih jalannya sendiri “. Tukas Ningsih menenangkan suaminya.

               “halah, kalo Abdi tidak disekolahkan, mau jadi apa kelak? Bagaimana dengan masa depan dia kelak? Jadi ustad, omong kosong!! Emang jadi ustad dapat menghasilkan uang? Nggak kan??!!”. Sarkasnya.

               “Masya Allah mas, kamu jangan ngomong seperti itu. Abdi ingin dia berada di pesantren bukan semata ingin jadi ustad, cita-cita dia ingin mulia. Dia ingin belajar ilmu agama dan ingin menjadi anak yang sholeh, taat pada agama, dan diajarkan moral dan etika. Mas tau sendiri kan?, bagaimana nasib moral siswa-siswi di luaran sana. Hancur mas.!! Aku gak mau Abdi jadi bagian dari mereka, karena apa Mas.?? Karena Abdi cuma anak kita satu-satunya”. Ningsih sudah tak ingin melanjutkan pembicaraannya lagi, dia membuang muka ke jendela.

Baca juga :

Dapur Umum Santri (Cerpen)

               “Jika itu kemauanmu, detik ini juga kita cerai!!”

“Dan aku ingin Abdi harus memilih di antara kita!!”. Imbuhnya lagi.

Ningsih terkejut dengan apa yang diucapkan suaminya barusan. “ M-Mas- bercanda kan?”. Tanya Ningsih dengan disertai isak.

“ Aku tidak bercanda, kita sudah tak saling cocok lagi, ini juga demi Abdi, dan besok pagi kita tanyakan apa yang dia mau!”. Tuturnya. Hati Ningsih bagaikan dipukul godam, dia sedih dan harus mengikhlaskan semuanya.

“ Tapi kenapa Mas? Dan nggak dengan cara ini juga kan Mas!!” Pinta Ningsih dengan suara serak. Air mata yang Ningsih tahan , akhirnya jatuh mengaliri pipinya. Ningsih tidak menyangka keputusan yang berujung penceraian seperti ini. “Ini sudah jadi keputusanku, dan setelah kita tanyakan ke Abdi. Kita kita harus secepatnya perceraian kita ini” ucap Hendrik  dengan wajah kedepan. Ningsih hanya bias mengiyakan suaminya itu. “baik Mas, jika memang dengan cara ini yang kamu inginkan aku ikhlas”. Timpal Ningsih menyudahi pembicaraannya itu, namun Hendrik tidak menggubrisnya.

Sesekali Ningsih melihat Hendrik lewat ekor matanya, wajah yang dulu penuh kasih sayang, wajah yang selalu hangat. Kini sangatlah asing dimata Ningsih. Didalam hatinya Ningsih berdoa “ Ya Allah, berikanlah hambamu ini ketabahan dan kesabaran untruk menjalani semua ujianmu ini” hanya keheningan yang menemani mereka di dalam mobil sepanjang perjalanan.

*****

Pagi itu SD kencana 01 sangat ramai. Suasana hiruk piruk memenuhi sekolah itu, banyak para wali murid yang hadir disana mereka semua ikut serta dalam pengambilan ijazah kelulusan anaknya. Ningsih terlihat menunggu di lorong sekolah bersama dengan yang lainnya. Abdi akhirnya menunjukkan batang hidungnya. Ia terlihat keluar dari kelasnya sambil  membawa piala yang berukuran tidak terlalu besar.

“hai bund…!! lihat nih bunda, Abdi dapet apa? Hebatkan? “. Tannyanya heboh.

“Iya sayang, Abdi pinter kok. Pinter dong kayak ayah kamu”. Ucap Ningsih sambil mencubit pipinya. Ningsih tertegun sejenak dengan kalimat yang dia ucapkan barusan. Ya, Abdi memang cerdas. Mewariskan sifat cerdas ayahnya. Ia teringat dengan kejadian semalam memenuhi benaknya.

“Yaudah sayang, kita langsung pulang ya? “. Ajak Ningsih. Mereka akhirnya pulang meninggalkan sekolah. Selama didalam mobil Abdi tidak henti-hentinya berceloteh saking senangnya hari ini, didalam benak Ningsing terbesit rasa sakit hati yang mendalam. Anak semata wayangnya akan kehilangan salah satu kasih sayang dari keduanya.

“bunda dari tadi kok diem aja sih”. Ujar Abdi membuyarkan lamunan bundanya.

“e-eh, enggak kok sayang”. Ucapnya sambil kembali fokus menyetir.

*****

Hendrik menoleh saat pintu rumahnya terbuka, “Asslamualaikum ayah!!” pekiknya sambil  lari- lari kecil ke ayahnya.

“ayah aku lulus nih, dan aku dapet piala nih!!”. Ucapnya sambil menyerahkan pialanya. Namun Hendrik hanya melirik sekilas dan mengambilnya, lalu meletakkannya kembali.

“lohh ayah, ayah kenap_”. belum sempat abdi menyelesaikan kata-katanya, sudah dipotong oleh ayahnya .

“duduk!!”. Titahnya. Abdi pun duduk didepan ayahnya, disamping bundanya.

“Abdi mau melanjutkan pedidikan setelah ini kemana? Kepesantren atau kesekolah”. Tanyanya lansung ke inti pembicaraan .

“k-kenapa yah ?” . tanyanya polos.

“jawab Abdi !!”. tegasnya.

“Pesantren Yah, Abdi mau ke pesantren”. Hendrik tidak menyangka akan jawaban anaknya barusan.

“kamu yakin gak mau sekolah? ayah akan menyekolahkan kamu disekolah yang elit”. Imingnya

“enggak Yah, Abdi mau di pesantren. Abdi udah yakin akan keputusan Abdi sendiri”. Jawab Abdi sambil melirik ke ibunya.

“kamu harus sekolah Abdi ,biar berpendidikan dan sukses kayak ayah”. Imbuh Hendrik sambil menepuk-nepuk pundak Abdi.

“Maaf yah, Abdi sudah terlanjur memutuskan. Lagi pula bukan diukur dari pendidikan atau perguruan tinggi sukses itu ayah, kata pak ustad!”.

“Diam!!!”. Potong ayahnya.

“Kamu ini masih kecil udah berani membantah orang tua, baik jika itu keputusan kamu, ayah kasih kamu pilihan terakhir. Kalau kamu mau sekolah, ayah akan membiayai kamu sampai jenjang tinggi, dan jika kamu ke pesantren ayah enggak akan pernah menbiayai kamu!! Camkan itu!!”.

“Cukup mas cukup!! biarkan Abdi memilih pilihannya sendiri. Aku yang akan membiayai sendiri. Aku muak dengan egomu Mas, aku benar-benar muak sama kamu. Kamu keterlaluan!!”. NIngsih bangkit dari duduknya.

“Ayo sayang, kita pergi dari rumah ini secepatnya”. Abdi hanya bisa menangis melihat kedua orang tuanya bertengkar. Ningsih pun pergi meninggalkan suaminya, dengan sebuah piala yang tergletak dimejanya. Mereka benar-benar pergi. Meninggalkan Hendrik seorang diri.

*****

Tring..!! tring…! bunyi bel  telah menggema di penjuru pesantren. Menandakan bahwa pelajaran telah usai. Ya, Abdi telah berada di pesantren. Berkat bantuan bunda dan pamannya. Abdi berhasil nyantri di salah satu pesantren terbesar dan tertua sekabupaten di kota pisang.

“Abdi harus belajar lagi, dan minggu depan saya akan menanyakannya lagi. Paham ?“ Tanya ust. Fadil, salah satu staf pengajar di pesantren tersebut.

“iya tadz” balas Abdi seraya menganggukkan kepalanya. Setelah itu Ust Fadil berpamitan dan berdoa untuk mengakhiri pelajaran. Abdi bergegas membereskan kitab-kitabnya dan langsung beristirahat di kamarnya, walaupun hanya sejenak. Karena sesudah ini ada jam kegiatan lagi. Abdi sudah 3 bulan berada di pesanten. Sejauh ini, Abdi sangat betah dan periang. Setelah Abdi sampai pada kamarnya yang berdomisili di daerah G, dia ditegur oleh temannya.

“Abdi, kamu ditunggu tamunya di balai pengiriman”. Kata Candra teman sepantarannya.

“Beneran cand?”. Kata Abdi setengah tidak percaya. “Yaelah Abdi iya buruan, takutnya udah lama nungguin”. Kata Candra sambil meneguk gelas air putih.

“Oh iya udah, aku mau nyamperin orang tua aku dulu”. Dalam perjalanan menuju balai pengiriman, di benaknya ia bertanya-tanya kenapa sudah dijenguk, padahal dia baru dapet satu mingguan dijenguk oleh bunda dan neneknya, sedangkan jadwal biasanya kurang satu minggu lagi waktunya dijenguk. Setelah ia masuk area balai pengiriman, dia celingukan mencari ibundanya. Dia melihat ibundanya seorang diri tengah melambaikan tangan padanya. Dia mengahmpiri bundanya dan mengucapkan salam.

“Assalamualaikum bund” ucapnya sambil mencium punggung tangan Ningsih, ibunya.

“Walaikumsalam. Sehat sayang.? “ Tanya Ningsih sambil tersenyum.

“Alhamdulillah sehat. Oh iya, perasaan baru dapet satu minggu deh bunda kemari. Kenapa sudah kesini lagi?” Tanyanya polos.

“Kamu tau nggak sayang, bunda bareng siapa kesini? .

“Bareng nenek kan”. ucapnya asal. Sambil mencelingukan kepalanya, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan neneknya.

“Salah sayang..”

“ Terus siapa bund?” Tanyanya penasaran sambil menggaruk tengkuknya.

“Bunda yakin, Abdi pasti senang”. Ucapnya.

“ Siapa sih bund?” Tanya Abdi semakin penasaran dibuatnya.

“Ekhem… Ekhem” Ningsih hanya berdehem. Abdi semakin bingung dengan apa yang dilakukan bundanya. Bersamaan dengan itu keluarlah seorang lelaki bertubuh tegap dari dalam mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari tempat mereka berdua, Abdi seperti mengenali perawakannya.

“Apa kabar Andi?”. Tanya Hendrik. Ya, dia benar-benar Hendrik, ayahnya. Tanpa dikomando Abdi menghambur kedalam pelukan ayahnya dengan diiringi tangisan rindu sebagaimana anak ke orang  tua. Ya, Abdi sangat merindukan kasih sayang kedua orang tua. Hendrik dengan sangat lembut membalas pelukan anak nya. Dan mengusap kepalanya.

“Maafin ayah ya nak” bisiknya pada Abdi.

“Yah… jangan ninggalin Abdi lagi yah, Abdi gak mau kalo ayah sama bunda bertengkar. Aku mau ayah sama bunda bersatu kayak dulu lagi.” Abdi semakin menangis dalam pelukan Hendrik. Ningsih yang sedari tadi hanya melihat meraka berpelukan menangis bahagia. Bahagia melihat keluarganya yang sempat meredup kini kembali terang penuh kehangatan.

“Sayang, apa yang Abdi inginkan sekarang telah terkabul. Ayah dan bundamu beberapa minggu lalu telah resmi kembali”.

“Beneran bunda, ayah? Kalian udah nggak bertengkar lagi?” Tanya Abdi di sela-sela sesenggukan tangisnya. Mereka mengangguk bersama.

“Janji ya, jangan ninggalin Abdi lagi? Pinta Abdi sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Tanda sebuah ikatan. “Janji sayang”. Balas mereka serentak, sambil membalas jari kelingking ketiganya. Ikatan yang kuat. Mereka akhirnya terbawa suasana masing-masing.  Mereka bener-benar meluangkan kerinduan masing-masing dalam sebuah pelukan. Sampai pada akhirnya

“ Maaf pak, buk, dek. Sudah saatnya kegiatan pesantren. Dimohon agar mempersilahkan putranya mengikuti kegiatan.” Ucap satpam sambil menunjukkan deretan gigi-giginya. Mereka akhirnya tertawa bersama menyadari kejadian barusan, termasuk satpam itu.

Jika anda percaya ada pelangi sehabis hujan, maka anda harus percaya ada kebahagian sehabis perjuangan. Setelah kesulitan pasti ada kemudahan.

*) Santri Aktif PPMU Bakid Asrama G.05

Leave a Reply

Your email address will not be published.