Penulis: Ebied

Merdeka…! merdeka…! merdeka…! Itulah yang mereka inginkan dari dulu, berjuang mati – matian, rela menumpahkan darah di medan perang demi membebaskan negara dari penjajahan. Tanggal 17 Agustus 1945 mereka berhasil memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, seluruh wilayah telah mengibarkan bendera nasional sang saka merah putih dengan penuh kehormatan pada 1 September 1945 dan pengibaran tersebut terus meluas hingga ke pelosok – pelosok desa. Lalu, apakah setelah itu tidak ada pertempuran? Tidak ada penjajahan? Tentu saja ada, kota Surabaya salah satunya yang di peringati oleh negara tercinta setiap 10 November sebagai hari pahlawan.


Peristiwa itu dipenuhi dengan perjuangan, kesengsaraan para rakyat begitu pula santri, mereka semua berada di garda terdepan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia tanpa ada rasa gentar sedikitpun. Pembantaian hotel Yamato pada 27 Oktober 1945 terlaksana dengan kemarahan para massa karena di tanggal 19 September 1945 sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan M.V.Ch Ploegman mengibarkan bendera Belanda disana. Hari itu menyebabkan kematian Ploegman yang dicekik oleh Sidik. Hotel Yamato ricuh, warga ingin masuk kedalam tapi seseorang telah berhasil merobek bagian biru bendera Belanda hingga menjadi merah putih.


Jenderal Robert Mansergh pengganti Mallaby, jenderal yang tewas tertembak ketika mengendarai mobil, dia mengeluarkan ultimatum yang memerintahkan semua pemimpin dan orang Indonesia bersenjata agar menyerahkan diri dengan mengangkat tangan yang dibatasi sampai pukul 06.00, 10 November 1945. Ultimatum tersebut lagi – lagi membuat rakyat Surabaya marah, puncak pertempuran 10 November antara kedua pihak meletus sekitar tiga minggu dan memukul rata tentara Inggris hingga tak bisa berkutik. Tokoh pejuang yang menggerakkan rakyat Surabaya antara lain Sutomo, K.H. Hasyim Asy’ari, dan K.H. Wahhab Hasbullah.


Kisah perjuangan tersebut tak hanya menunjukkan sejarah negara, melainkan juga mengajarkan keteladanan, kejujuran, kegigihan, pantang menyerah dan hak untuk melakukan kewajiban sebagai pemuda pemudi Indonesia. Sebagai generasi yang meneruskan cita cita bangsa, kita wajib meneladani serta menghormati mereka yang telah gugur di medan pertempuran. Bukan sebagai pejuang, namun sebagai pelajar yang memiliki etika dan rasa sosial yang tinggi. Kita harus tahu bahwa Indonesia tidak didirikan hanya sebagai sebuah negara yang berdaulat, namun juga negara yang memiliki generasi penerus demi melanjutkan cita cita yang mulia. Selamat Hari Pahlawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *