Santri berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah orang yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan mengikuti sunnah Rasul serta teguh pendirian. Ini adalah arti dengan bersandar sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya.

Begitulah definisi santri yang di cetuskan oleh KH. Hasani Nawawi salah satu pengasuh pondok pesantren Sidogiri. Definisi ini memberikan kita pemahaman bahwa pesantren tempat santri belajar merupakan sebuah lembaga yang di dalamnya tidak di atur oleh lembaga pemerintah dan konstitusi manapun. Pesantren adalah lembaga yang memiliki pedoman tersendiri dengan visi dan misinya dalam mencetak pendidikan unggul sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

Sejak dahulu santri dan pesantren memang memiliki pijakan yang sama dalam menjalankan pendidikan nya tersebut. Tak ayal bahkan sejak sebelum definisi itu di buat atau dimana pun pesantren di dirikan ciri khas akan pendidikan nya selalu sama, tak terkecuali dalam mencetak santri berakhlakul Karimah dan sesuai dengan ajaran Allah dan Rasulnya. Mungkin dalam hal program dan sistem memiliki cara yang berbeda. Maka dari itu definisi di atas tidak dapat di rubah mulai sejak dulu sampai kapanpun, karena hal tersebut bersandar pada sejarah awal mula terbentuknya pesantren.

Dari definisi ini kemudian santri menjadi implementasi dari ajaran ajaran agama Islam kelak di masyarakat. Mulai dari tingkah laku, tutur kata, sikap, dan kualitas membaca Al Qur’an yang baik dan benar. Mayoritas masyarakat di luar kita memandang para santri bukan tentang nilai ataupun juara yang pernah di raihnya, namun lebih kepada aktivitas positif dan negatif yang di lakukan setiap hari. Liburan secara harfiah memang berarti hari bahagia para santri, karena liburan merupakan suatu momen dimana para santri menikmati waktu santainya setelah menuntaskan berbagai ujian di pesantren. Namun secara hakikat liburan menjadi waktu ujian yang sebenarnya, karena di situlah penilaian paling penting yang akan menentukan nasib baik buruknya nama pesantren beserta kyainya.

Dewasa ini memang perilaku santri ketika liburan menjadi PR besar, khususnya bagi para pengurus pesantren dan asatidz yang mengemban amanah dari kyai untuk mencetak santri yang berakhlakul Karimah. Adanya sebuah anggapan bahwa pesantren merupakan tempat yang ketat, di kekang oleh berbagai aturan dan di tekan dengan kegiatan yang padat, membuat perilaku para santri tidak terkontrol ketika liburan. Hal ini membuat anggapan dari sebagian masyarakat merasa bahwa pesantren lah yang salah dalam mendidik, atau kualitas program dari sang pengasuh tidak begitu efektif untuk membentuk karakter positif dari para santri.

Anggapan semacam ini tentu tidak salah, karena masyarakat awam memandang para santri sebagai bentuk nyata dari ajaran ajaran pesantren. Dari apa yang mereka perlihatkan pada masyarakat, hal itulah yang akan menjadi nilai baik buruknya pesantren. Pandangan semacam ini sebenarnya bisa di tepis dan di luruskan. Masyarakat hanya menilai dari sudut pandang kaca mata kuda, sebenarnya ada berbagai sudut pandang yang harus di nilai, agar tidak selalu menyalahkan pesantren sebagai institusi pendidikan yang kurang kompeten.

Ibaratkan sebuah telur, kita tidak bisa begitu saja menghakimi sang induk karena telah melahirkan telur yang busuk. Pesantren sudah sesuai dengan rel yang di tetapkan oleh para Masyayikh dan pengasuh, pesantren tidak pernah mengajari sesuatu yang buruk, apalagi peraturan peraturan yang melanggar hukum hukum agama. Faktor pergaulan juga perlu menjadi perhatian khusus, lingkungan dan teman tidak hanya di dapatkan di pesantren. Ketika liburan tidak sedikit dari para santri yang terpengaruh oleh pergaulan di luar. Selain itu masih banyak para santri yang malu untuk menunjukkan identitas nya, mereka terlalu membandingkan antara kehidupan di luar dan pesantren, sehingga banyak terpengaruh oleh oleh pergaulan pergaulan bebas.

Namun dari beberapa faktor di atas kita tidak bisa begitu saja menyalahkan kaca mata pandang masyarakat. Karena tidak semuanya akan menilai seperti itu, kadang karena ketidaktahuannya mereka menghakimi dari sebelah mata saja. Dan itu adalah sesuatu yang wajar, mengingat para santri merupakan harapan masyarakat untuk membimbing dan memberikan contoh yang baik. Perlunya membentuk jati diri bagi seorang santri di manapun dan kapanpun berada, tak peduli apapun penilaian masyarakat yang di tujukan kepada kita. Hal ini sesuai dengan definisi santri di atas, yakni teguh diri pada ajaran ajaran Al Qur’an dan Sunnah.

Pada kesimpulannya, menjadi seorang santri ibarat ikan di laut. Meskipun airnya terasa asin namun tidak mempengaruhi rasa daging dari ikan tersebut. Menjadi seorang santri bukan soal gengsi atau malah membandingkan bandingkan dengan kehidupan di luar sana. Akan tetapi menjadi santri adalah tentang pengamalan ilmu yang di dapatkan nya selama di pesantren. Dan di momen liburan adalah suatu momen penting untuk menunjukkan seperti apa jati diri seorang santri yang sebenarnya. Menunjukkan sesuatu yang baik kepada masyarakat, sehingga mereka tahu bahwa santri merupakan implementasi penting bagi ajaran ajaran agama Islam. Menjadi santri bukan tentang seperti apa pandangan masyarakat terhadap kita, tapi sejauh apa kita mampu mempraktekkan nilai nilai ajaran di pesantren, lebih lebih selama liburan.

Penulis : M. Kholili (Direktur Mading El-Ihsan)

Leave a Reply

Your email address will not be published.