Apakah perbedaan itu baik? Apakah perbedaan selalu menghasilkan pertengkaran? Atau, tidak bisakah di dunia ini berjalan tanpa adanya perbedaan, hingga seluruhnya mempunyai pendapat sama untuk satu tujuan. Bukankah itu lebih adil? Dibandingkan kita harus bertengkar terlebih dahulu, berdarah darah penuh luka, lalu diketahuilah siapa yang berdiri terakhir sebagai pemenangnya.

Kadang perbedaan selalu menghasilkan perdebatan perdebatan panjang tak berkesudahan. Ngotot, merasa paling benar, sampai sampai tak mau kalah dan memaksa orang lain agar menyetujuinya. Pertikaian terlahir dari adanya klaim klaim kebenaran, menganggap salah terhadap golongan yang berbeda jalur dan harus dikembalikan pada jalur yang benar, meskipun harus dengan kekerasan. Kemudian terlahirlah permusuhan, hingga anak cucu yang tidak tahu menahu ikut menanggung kebencian. Peperangan berkecamuk pada beberapa generasi, ribuan nyawa melayang, kota kota hancur, kelaparan di mana mana. Sebuah negara harus tumbang, karena adanya kelompok paling benar yang tak mau menerima kemajemukan.

Lontar sana lontar sini, mengajukan berbagai argumentasi, saling sikut pada segala sisi, dan kadang kadang emak emak di pasar pun sampai rebutan terasi.

Imam syafi’i, pernah berkata:”Pendapatku bisa jadi salah, dan pendapat merekalah yg benar, pendapat ku bisa jadi benar dan pendapat merekalah yg salah”.

Perbedaan terlahir karena adanya gagasan, kemudian gagasan melahirkan kesimpulan, dari kesimpulanlah tercetus ide ide brilian. Perbedaan selalu ada dalam setiap keadaan tanpa terkecuali, kecuali jika kalian hidup sendiri. Tak akan pernah ada perbedaan, tapi tak akan ada perkembangan, hidup akan terasa stagnan, karena tak ada perbandingan dalam mencetuskan gagasan. Dan mungkin kalian akan menjadi manusia maha benar. he… he… he…

Tak terkecuali di tahun tahun politik, berbeda pilihan selalu menjadi perdebatan panjang tak berkesudahan. Jangankan Politik tingkat elit, politik tingkat alit pun lebih sadis dan ekstrem. Mereka yang fanatismenya terlalu tinggi, bukan lagi dalam rangka memusnahkan pendapat lawan, tapi menghabisinya sampai nyawa menghilang. Bentrokan antara ‘orang orang’ si calon Kades A dan ‘orang orang’ si calon Kades B sudah biasa terjadi. Tak ayal, pemandangan berdarah selalu menghiasi acara 5 tahunan tersebut.

Padahal itu hanya pemilihan Kades, sedikit orang terlibat di dalamnya. ‘Orang orang’ tersebut dibayar dalam rangka meluaskan pengaruh politik, bukan meluaskan pengaruh ancaman. Tapi jika ego mulai menguasai, nafsu menjadi pengendali dan emosi tak terbendung lagi, maka akal sehat akan menjadi tumpul. Pada akhirnya hubungan keluarga menjadi renggang, pertemanan akan tercipta jarak, Orang tua akan terlihat seperti orang lain.

Kisah para sahabat juga masyhur terdengar, gejolak fitnah terbunuhnya sayyidina utsman menyisakan tragedi yang memilukan. Cerita tersebut bahkan menjadi kisah kelam umat Muslim selepas wafatnya Rasul. Terbunuhnya Sayyidina Husein sebagai mutiara Nabi, turut menjadi saksi, semoga peristiwa semacam ini tak terulang lagi. Justru, terkadang kita yang dengan beraninya menjudge mereka, mengklaim pihak ini dan itu yang salah tanpa berkaca pada diri, bahwa kita tak selevel jika dibandingkan dengan orang orang yang telah berjuang bersama Nabi.

Perbedaan hanya sekedar sudut pandang yang tak sama. Kedua duanya bisa jadi benar benar dan bisa saja salah, atau salah satunya saja yang benar dan yang satunya salah. Angka 9 bagi kita tetap terlihat seperti 9, bagi orang lain? Bisa saja terlihat sebagai angka 6. Namun tetap saja anda ngotot dan tidak mau mengakui kebenaran dari sudut pandang orang orang yang melihatnya sebagai angka 6. Menganggap mereka salah karena perbedaan pandangan yang terjadi, padahal jika anda lebih terbuka dan mau untuk melihat dari sudut pandang mereka, mungkin penilaian anda tentang angka 9 akan berubah.

Perbedaan adalah hal yang universal, oleh karenanya bukan berarti adanya perbedaan dijadikan sebagai pemicu konflik yang berakhir dengan kerugian berbagai pihak. Adanya perbedaan hendaknya dijadikan sebagai rahmat yang memberikan kita pengetahuan baru. Membuka cakrawala berfikir, sama halnya dengan kita yang terjun dari atas pesawat, jika kita tak membuka parasut maka kita tak akan selamat. Berpikir secara terbuka dan legowo dalam menerima pendapat orang lain, adalah langkah tepat untuk menerima, bahwa perbedaan ada agar kita mampu berkembang, bukan malah egois dan kolot dalam berpikir.

Lagi pula, mencoba untuk memahami apa yang dipikirkan orang lain lebih indah dan damai. Daripada terus menerus mempertahankan pendapat diri sendiri dan memaksa orang lain untuk membenarkan pendapat tersebut.

Penulis: Muhammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *