Seni membaca Al Quran sangat berkembang pesat di berbagai wilayah negeri Islam. Begitupun di negara kita (Indonesia), Tak heran jika kemudian muncul berbagai jenis seni membaca Al quran. Giat seni membaca Al Quran berkembang pesat pada awal abad ke 20.  Seni membaca Al quran ini mempunyai dua kiblat, yakni Makkah dan Mesir, yang mana keduanya memiliki karakteristik masing-masing. 

Dalam seni membaca Al quran versi Makkah, di kenal dg lagu : بَنْجَاكَهْ, حِجاَزْ, مَياَّ, رَقْبِيْ, جَهَرْكَهْ, سيْكَهْ, dan دُكَّهْ. Sedangkan, dalam versi Mesir di kenal dengan lagu : بَيَّاتِيْ, حِجاَزْ, صَباَ, رَسْت, جِهَرْكَهْ, سِيْكاَ, dan نَهَاوَندْ.

Sejak itulah di kalangan kita juga mengenal macam – macam lagu yang datangnya dari Makkah & mesir, yang mana transmisi beragam lagu membaca Al quran ini di lakukan para ulama indonesia yang menimba ilmu di Makkah dan Mesir.

Menurut literatur, lagu versi Makkah lebih disukai pada awal perkembangannya di  nusantara. Alasannya, karena liriknya yang sangat sederhana dan relatif datar. Sedangkan lagu Makkawi atau seni membaca Al quran versi Makkah itu biasa di pakai dalam Barzanji.

Berikut beberapa qari pelopor yang mengembangkan aliran Makkah di Tanah Air. Mereka adalah KH Arwani (Kudus), KH. Sya’roni Ahmadi (Kudus), KH. Munawwir (Krapyak Yogyakarta), KH. Abdul Qadir (Martapura), KH. Damanhuri (Malang), KH. Saleh Ma’mun (Banten), KH. Muntaha (Wonosobo), dan KH. Azra’i Abdurrauf (Medan).

Pada era 1960-an, seni membaca Alquran di Indonesia menjadi lebih beragam dengan hadirnya aliran Misri atau Mesir. Pada masa itu, Pemerintah Mesir mentransfer sejumlah master qari, seperti : Syekh Abdul Basith Abdus Somad, Syekh Musthofa Ismail, Syekh Mahmud Kholil Al Hushori, dan Syekh Abdul Qadir Abdul Azim.

Ternyata, umat Islam di Indonesia sangat menyukai lagu – lagu Misri. Bukan tanpa alasan. Seni membaca Alquran dari Negeri Piramida itu banyak di sukai umat muslim di Indonesia. Ternyata, karakter lagu Misri di nilai lebih dinamis dan merdu. 

Dengan beragam jenis lagu yang datangnya dari Mesir itu di nilai cocok dengan kondisi alam Indonesia. Berikut adalah sejumlah qari yang mengembangkan aliran Misri di Indonesia. Mereka adalah : KH. Bashori Alwi (Malang), KH. Mukhtar Lutfi (Jakarta), KH. Aziz Muslim (Jawa Tengah), KH. Mansur Ma’mun (Banten), KH. Muhammad Assiry (Jakarta), dan KH. Ahmad Syahid (Bandung).

Penulis: Abdul Wafi

Leave a Reply

Your email address will not be published.