Headlines

Peran Santri dalam Memperjuangkan  Dan Mempertahakan Kemerdekaan Indonesia

Penulis: Reza Pahlevi

Peran santri dalam kemerdekaan Indonesia bukan hanya turut serta dalam memerangi penjajah, di bawah komando para Kiai mereka juga meyadarkan kepada rakyat Indonesia tentang pentingnya kemerdekaan bagi suatu bangsa dan kebebasan hak asasi manusia. 
Tanggal 17 Agustus 1945 adalah hari yang selalu dikenang oleh rakyat Indonesia dan menjadi sejarah bagi perjuangan rakyat Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Perjuangan para anak pesantren yang ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Ada perlawanan santri di Sumatera Barat (1821-1828), Perang Jawa (1825-1830), Perlawanan di Barat Laut Jawa pada 1840 dan 1880, serta Perang Aceh pada 1873-1903. Sementara di Jawa Barat, ada Perang Kedongdong (1808-1819). Perang yang terjadi di Cirebon ini melibatkan ribuan santri dalam pertempurannya.

Perjuangan santri dalam menyusun kemerdekaan sangat berperan aktif, salah satu santri yang juga putra dari KH. Hasyim Asy’ari, yakni KH Wahid Hasyim, ikut andil dalam pembentukan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Kemerdekaan  Indonesia) yang kedepannya menjadi tombak dari pembacaan proklamasi itu sendiri.

Setelah dijajah selama berabad-abad oleh bangsa Portugis selama kurang lebih satu abad yaitu pada tahun 1509 M hingga 1602 M, Belanda selama kurang lebih satu setengah abad lebih yaitu pada tahun 1803 hingga 1942 dan Jepang selama 3 tahun sebelum Jepang menyerah pada sekutu setelah  AS (Amerika Serikat) menjatuhkan dua bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945. 15 Agustus Jepang mengakui kekalahan pada sekutu, namun Belanda kembali lagi ke Indonesia setelah Jepang menyerah pada sekutu tapi bangsa Indonesia berhasil mempertahankan kemerdekaannya hingga saat ini.

Beberapa bulan kemudian setelah Ir. Soekarno didampingi Moh. Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan, penjajah Belanda melalui tantara NICA kembali ke Indonesia, sehingga Pada 10 November 1945, Bung Tomo dengan orasi-orasinya dan teriakannya ‘’Merdeka atau mati’’ serta ditutup dengan teriakan takbir 3 kali lewat radio yang membakar semangat perjuangan untuk memperatahankan kemerdekaan, hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. 

Kendati demikian, Resolusi jihad Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari untuk melawan penjajah yang berhasil menyulut api semangat juang rakyat Indonesia hingga dapat mengusir penjajah dari bumi pertiwi ini. Resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari yang berisi: Pertama, hukum membela negara dan melawan penjajah adalah fardlu ain bagi setiap mukallaf yang berada dalam radius safar (Radius atau jarak tempuh diperbolehkannya mengqasar sholat); Kedua, perang melawan penjajah adalah jihad fi sabilillah, dan oleh karena itu umat islam yang mati dalam peperangan itu adalah syahid; Ketiga, mereka yang mengkhianati perjuangan umat islam dengan memecah belah persatuan dan menjadi kaki tangan penjajah, wajib hukumnya untuk dibunuh.

Perobekan warna biru bendera Belanda di hotel Yamato, yang menjadi markas sekutu di Surabaya pada 19 September 1965.
Dari berbagai daerah Kiai pondok pesantren mengirim santrinya untuk ikut andil mengusir penjajah bahkan putra Kiai ada yang ikut bertempur, seperti Jusuf Hasyim dari Pondok Pesantren Tebuireng Jombang menjadi komandan Laskar Hizbullah Jombang pada 1945, Mas Sadoellah nawawi dari Pondok Pesantren Pasuruan memimpin Laskar Hizbbullah di area Sidoarjo, Kiai Abbas Buntet Cirebon sebagai pemegang komando tertinggi Laskar Hizbullah saat pertempuran di Surabaya yang akhirnya di kenang sebagai Hari Pahlawan dan masih masih banyak lagi kisah-kisah heroik lainya.

Leave a Reply