Rindu merupakan sifat lumrah yang dimiliki setiap manusia. Terutama pada kalangan santri yang setiap harinya dijauhkan dari suatu objek yang kita cintai, seperti kedua orang tua kita, sahabat, dan kekasih. Yang mana kita pasti merasakan sebuah rasa rindu kepada mereka. Kata rindu memang sudah tidak asing di telinga kita, akan tetapi tahukah anda. Apakah rindu itu sebenarnya? Dan apakah rindu itu berat? Agar lebih jelasnya mari kita baca dan simak keterangan berikut ini.

Imam ghozali dalam kitab ihya’nya juz 4 halaman 322 menjelaskan tentang definisi rindu yaitu konsekuensi (akibat) dari adanya cinta terhadap suatu objek. Dengan dari adanya cinta, rindu juga merupakan sifat yang siapapun akan merasakannya karena cinta dan rindu tidak bisa dipisahkan dan tidak bisa diingkari. Sesuai dengan pernyataan imam ghozali

إعلم انكر حقيقة المحبة فلا بد ان ينكر حقيقة الشوق إذ لا يتصور الشوق إلا إلى محبوب

Artinya: “ ketahuilah bahwa siapapun yang mengingkari dari esensi cinta, maka juga seharusnya ingkar terhadap esensi rindu. Sebab rindu tidak bisa tergambar kecuali pada orang yang dicintai”

Rindu itu memang menyakitkan dan meresahkan sesuai dengan perkataan dilan “ jangan merindu, karena rindu itu berat ”.  akan tetapi tersimpan sebuah kenyamanan jika kita bertemu dengan orang yang kita cintai dan memang menyakitkan apabila kita terus menahannya (memendam rindu). Lebih lanjut imam ghozali mengatakan

و الشوق و إن كان الماففيه نوع لذة إذ انضاف إليه رجاء الوصال

Artinya: “Rindu meski (didalamnya) memiliki (dampak) menyakitkan, akan tetapi tersimpan suatu kenyamanan apabila terdapat suatu harapan untuk bisa bertemu dengannya (kekasih).

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa rindu merupakan konsekuensi dari adanya cinta. Dan mustahil jika rindu itu muncul dengan tanpa adanya cinta, juga sebaliknya. Semua rindu belum tentu menyakitkan dan berat, bahkan rindu itu bisa menjadi nyaman jika kita bertemu dengan seorang yang kita cintai. Hendaknya kita sebagai santri yang berada di pondok move on terhadap masalah-masalah di rumah terutama pada kekasih kita. Kita satukan niat, bulatkan tekad, dan evaluasi kekurangan untuk mencari ilmu yang barokah.

Penulis: Abd. adhim A: 05

Leave a Reply

Your email address will not be published.