Oleh: Mochammad Hisan (Alumni Tahun 2003)

“Santri dan Alumni Pondok Banyuputih (nyupote; madura) tidak bisa dipisahkan dari Aswaja an-Nahdliyah”. KH. Husni Zuhri, Pengasuh Pondok Pesantren Banyuputih Kidul Lumajang.

Ikatan Santri dan Alumni Pondok Banyuputih Kidul Lumajang atau disingkat IKSABA akan segera menggelar Silatnas ke-3, tepatnya pada tanggal 21 Januari 2022 di Aula Pondok Pesantren Banyuputih Kidul Lumajang. Dalam gelaran silaturrahim kali ini melibatkan santri dan seluruh alumni se-Indonesia dan bahkan ada yang dari luar negeri, Makkah, Madinah dan Mesir. Karenanya bisa dibilang silaturrahim tahun 2022 ini merupakan Silaturrahim Internasional.

IKSABA menegaskan jati diri kembali sebagai salah satu penjaga ajaran Islam Aswaja an-Nahdliyah. Karenanya gelaran Silatnas ke-3 dikemas dengan kegiatan Seminar Nasional bertema Meneguhkan Islam Aswaja di Bumi Nusantara. Memang, IKSABA menjadi pembela Islam Aswaja an-Nahdliyah sudah ditegaskan sedari awal sejak di bentuk pada 2016 yang lalu. Murobbi Ruhina, KH. Husni Zuhri dalam sambutannya saat pembentukan IKSABA menegaskan bahwa salah satu latar belakang dibentuknya forum santri dan alumni agar menjadi benteng dan perisai dari maraknya gempuran islam trans-nasional, baik yang ekstrim kanan maupun esktrim kiri. Esktrim kanan menanamkan pemikiran yang sangat ‘rigid (kaku), hitam putih dan sangat mudah mengkafirkan orang lain yang berbeda pemikiran.

Sebagaimana menjadi pengetahuan umum, di Indonesia ekstrim kanan mewujud salah satunya dengan wajah propaganda politik identitas mengatas namakan agama khususnya agama Islam dengan tujuan kekuasaan. Kenyataan demikian sempat menemukan momentum puncaknya pada Pilkada DKI Jakarta 2017. Kekuatan Umat Islam Indonesia dikapitalisasi untuk memenangkan calon tertentu dan menggulingkan calon lainnya. Basuki Cahaya Purnama atau yang dikenal dengan nama Ahok yang kebetulan beragama nonmuslim dipukul mundur dengan dugaan issue penistaan agama meskipun pada akhirnya karena intimidasi massa pihak pengadilan menghukum bersalah.


Tidak puas dengan kesuksesan pada Pilkada DKI, penggunaan issue agama berlanjut pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden RI 2019. Para kelompok yang haus akan kemenangan kekuasaan, menjadikan agama sebagai issu sentral dalam suksesi kedua pasangan Calon Presiden-Wakil Presiden 2019.

Kemudian, esktrim kiri mewujud dengan sekularisasi dan liberalisasi ajaran agama. Sakralitas dan kesucian ajaran agama ditafsir ulang sesuai kehendak manusia yang terbatas. Fenomena perkawinan sesama jenis, perkawinan beda agama tidak jarang kita mendengar agar mendapatkan pengakuan.

Dalam dua fakta sosiologis diataslah, pada momentum Silatnas ke-3 IKSABA menegaskan kembali sebagai penjaga kultur Islam Aswaja an-Nahdliyah sebagaimana yang sudah dinaskan oleh Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari dalam Qonun Asasi (AD/ART) jam’iyah Nahdlotul Ulama (NU). Islam yang dalam Aqidah mengikuti Imam Al-Asy’ari dan Maturidi, dalam Fiqih mengikuti 4 (empat) imam madzhab, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i dan Imam Hambali dan dalam Tasawuf mengikuti pendapatnya imam Ghazali dan Imam Junaid al-baghdadi. Dalam kehidupan sehari-hari, Islam Aswaja an-Nahdliyah hadir dengan sikap dan perilaku ramah, mengedepankan sikap perdamaian, kesejukan dan menghargai kearifan lokal (local wisdom).


Akhirnya, Selamat Bersilatnas yang ke-3 Ikatan Santri dan Alumni Pondok Banyuputih Kidul Lumajang dan selamat menegaskan diri sebagai penjaga Islam Aswaja di bumi Nusantara. Wallahu A’lam.

2 thoughts on “Silatnas ke-3 IKSABA : Meneguhkan Islam Aswaja

  1. Semoga IKSABA kedepan lebih baik lagi secara totalitas.

    Harapan kami semua IKSABA bukan hanya jadi PRISAI namun bisa menjadi PENDEKAR. (yang mampu mengendalikan prisai)

Leave a Reply

Your email address will not be published.