“Berikan aku 1000 orang tua maka akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia”. Sebuah kalimat legenda dari Ir. Soekarno yang dapat menumbuhkan rasa semangat untuk menjadi agen perubahan di masa depan. Walaupun hanya perasaan semangat, dan bukan dalam segi tindakan, paling tidak kita tidak rela melihat bangsa yang begini begini saja.

            Momentum Kongres Pemuda II pada tanggal 28 Oktober 1928, melahirkan Sumpah Pemuda yang memiliki makna filosofis tentang janji kita terhadap bangsa dan tanah air. Diantaranya ialah, pemuda berjanji untuk bertumpah darah demi bangsa dan negara hingga titik darah penghabisan. Mereka berjanji bahwa demi merebut kemerdekaan tanah air, harus rela  mengorbankan segala galanya. Entah itu harta ataupun nyawa.

            Maka dari itu pada tanggal 22 Oktober 1945, KH. Hasyim Asy’ari menyerukan jihad terhadap seluruh pemuda pemudi di tanah air untuk berperang melawan agresi militer ke II yang dilakukan oleh belanda. Dengan dipandu oleh tentara Hizbullah, seluruh pemuda dari Sabang sampai Merauke menuju Surabaya untuk mengusir hegemoni yang akan dilakukan oleh Belanda untuk kedua kalinya, sehingga kita dapat merasakan kemerdekaan seperti sekarang ini.

            Namun itu dulu, ketika Indonesia masih sibuk untuk berjuang melawan para penjajah. Bagaimana jika Sumpah Pemuda itu kita terapkan pada masa sekarang? Dimana penjajahan tidak lagi digunakan untuk menguasai sebuah negara. Akan tetapi perang pikiran menjadi tolak ukur sebuah bangsa. Sedang sumbangsih perang pemikiran pada masa sekarang hanya bisa dilakukan oleh para pemuda.

            Kenapa harus para pemuda? Toh masih banyak para orang tua yang juga mumpuni dalam menyumbangkan pemikarannya. Sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia, mulai dari Orde Lama hingga era Reformasi seperti sekarang, tidak hanya dilalui dengan jalan mulus tanpa adanya halangan. Ingat bagaimana peristiwa Rengasdengklok, yang diinisiasi oleh kaum muda hingga melahirkan proklamasi kemerdekaan. Atau selama 30 tahun lebih indonesia pernah ada pada era kecacatan berpikir, segala pendapat dan opini dibungkam sampai habis. Lalu tumbang oleh semangat perjuangan kaum muda pada tahun 1998. Dan baru baru ini perjuangan kaum muda dalam menegakkan keadilan reformasi, membuat kaum kaum tua kembali berpikir betapa pentingnya kaum muda menjadi agen perubahan.

            Generasi masa depan tidak hanya ditentukan oleh mereka yang telah renta dalam berpikir. Generasi masa depan yang akan kita hadapi kelak, juga ditentukan oleh semangat para pemuda dalam belajar, berani keluar dari zona nyaman, serta berani mencoba berulang ulang dalam segala sesuatu. Sifat para pemuda memang dikenal tidak mau patuh dan cenderung memberontak ketika mau di atur, akan tetapi hal itulah yang justru membuat bangsa ini berani keluar dari segi berpikir yang kolot.

            “Kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita siapa lagi”. Kata kata ini begitu populer di Pesantren Bakid, lebih lebih mereka yang berdomisili di daerah G. Entah darimana kata kata ini berasal dan siapa yang pembuatnya, tapi kata kata ini setidaknya selalu menjadi jargon ketika ada rapat penting staf daerah, atau menjadi maqalah yang selalu disampaikan dalam acara acara sosialisasi.

            Nyatanya kata kata tersebut memiliki makna penting yang harus dipakai oleh pemuda di zaman sekarang. Daripada hanya sibuk oleh urusan cinta dan hal yang tidak berguna, lebih baik kita bangkit, demi sebuah perubahan. Perubahan tidak akan bisa di dapat jika hanya dengan pemuda yang lebih suka rebahan dan tidak mau untuk belajar. Kesempatan untuk belajar dan berpikir kritis merupakan momen ideal yang dimiliki pada masa muda. Jika dilihat dari data, pada tahun 2022-2035 ke depan, Indonesia memasuki sebuah era yang langka dalam sejarah. Indonesia akan memiliki bonus demografi, dimana angka usia produktif akan lebih mendominasi sebanyak 64% dari total penduduk sebesar 297 juta jiwa. “Kalau bukan sekarang kapan lagi?”. Selamat Hari Sumpah Pemuda.

Penulis: Muhammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *