Tahun baru Islam yang disambut dengan bulan Muharram memiliki catatan sejarah penting untuk selalu dikenang guna mengambil secercah berlian hikmah dari aneka sejarah yang telah shohih diriwayatkan secara mutawatir tanpa ragu.

Diawali dengan pertaubatan Nabi Adam yang diterima oleh Allah; Selamatnya Kapal Nabi Nuh dari Banjir; Nabi Ayyub sembuh dari penyakit yang menjijikkan; Nabi Musa selamat dari kejaran Fira’un; Nabi Ibrahim terbebas dari siksa Namrud; Terbunuhnya Sayyidina Husein di Karbala; Dan beberapa kisah yang lain.

Dari moment sejarah tersebut akan kita bisa pahami betapa dibulan ini memiliki catatan sejarah yang begitu penting untuk diambil pelajaran bagi kehidupan selanjutnya. Tentang perjuangan, pengorbanan, kesabaran, ketegasan, dan besarnya pertolongan Allah dalam setiap perputaran kehidupan manusia.

Dari sependek pemahaman penulis selain disamping karena peristiwa awal Hijrah nabi Muhammad menuju Madinah, juga memiliki titik temu. Tanpa disadari ada satu titik temu yang penulis sadari secara sepontan.

Sebagaimana sejarah dan kejadian masa lampau yang begitu penuh tragedi dibulan Muharram ini, pergantian tahun juga menjadi ajang reflekasi diri untuk mengenang tragedi kehidupan diri yang baru dilewati ditahun sebelumnya. Jika bulan Muharram menjadi bulan mengenang sejarah pada masa lampau, maka di Awal Tahun merupakan moment untuk mengenang sejarah hidup setiap dari kita ditahun sebelumnya.

Diawal tahun ini sejenak kita merenungi firman Allah dalam surah Al Fatihah dua ayat terakhir :

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّين

Artinya: “Tunjukkanlah kami kepada jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Secara esensial dalam ayat tersebut merupakan pengajaran untuk reflesi diri terhadap kehidupan. Permohonan untuk dijadikan sebagai Umat yang hidup dijalan orang orang yang dimasa lalu telah dikaruniai Nikmat. Dan tidak termasuk golongan umat yang dimasa lalu hidup dalam kemurkaan dan kesesatan.

Guna menetralisir hal tersebut, kita harus mengenal diri kita dengan penuh kesadaran. Apa saja dosa yang kita perbuat ditahun kemarin?, Berapa orang yang telah kita sakiti hatinya?, Apakah allah meridoi setiap langkah hidup yang kita jalani?, Sudahkah kita menunaikan seluruh kewajiban?.

Tentang pentingnya belajar dari Masa lalu. Tidak heran jika Alquran lebih benyak menjelaskan sejarah umat terdahulu daripada Hukum Islam. Imam ats-Tsa’labi Shohibul kasyfi walbayan fitafsiri Al Qura’an menjelaskan, ayat-ayat Alquran yang membicarakan tentang sejarah atau kisah-kisah umat terdahulu itu dua kali lipat lebih banyak dari pada ayat-ayat yang membicarakan tentang hukum halal haram.

Walhasil dijadikanya bulan Muharram sebagai pembuka awal tahun baru merupakan pengajaran tentang pentingnya sejarah hidup dimasa lampau. Sejarah kehidupan merupakan bagian hidup yang tidak boleh dilupakan. Sejarah yang penuh dengan keburaman menjadikan hidup dimasa sekarang lebih bermakna. Sejarah hidup yang penuh kenangan bahagia menumbuhkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah Swt.

Wallahua’lamu binafsil Amri.

Penulis: Sirojul Munir

2 thoughts on “Muharram: Bulan Refleksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published.