Membahas hal yang tidak bisa dinaluri oleh akal itu bukan hal yang sangat lumrah. Dalam pembahasan kali ini, kami akan mengutip sedikit tentang orang yang tidak punya bakat namun bisa dikenal banyak orang, seperti apakah tasawwur tersebut dalam benak kita? Oke, kita bahas satu-persatu mengenai pentasawwuran tersebut. Era sekarang yang sering kita sebut era milenial mempunyai sesuatu yang sangat dibutuhkan bagi manusia, yaitu sebuah alat digital atau bisa dikatakan bergantung pada internet. Dulu sebelum kita mengenal apa itu literasi, kebanyakan orang memiliki kemampuan dalam segi tulisan, bahasa, dan tutur kata yang bisa di cerna. Namun ketika orang mengenal apa itu literasi, disinilah mereka bersaing demi menjadi orang yang diakui oleh dunia. Apalah daya bila para literatur berbentur dengan era milenial yang mempunyai saingan bukan setara dalam hal kemampuannya. Seperti para plagiat dalam segala karya orang lain, yang ingin juga diakui oleh orang berkat karya dari orang lain tersebut.

Zaman sekarang yang bisa disebut zaman edan seorang literatur sangat mudah menyelesaikan karyanya dengan menggunakan alat yang sudah memadai mereka, salah satunya dengan adanya internet mereka bisa mengaploud tulisannya menjadi sebuah buku digital yang namanya e-book. Kenapa bisa disebut zaman edan? Karena dari para literatur tidak memikirkan tentang orang yang dengan mudahnya bisa mengambil karyanya melalui sebuah internet. Disinilah para plagiat memulai kenakalannya agar bisa dikenal oleh orang banyak, yaitu mendownload buku yang berbentuk e-book tersebut lalu menulis ulang, mengganti gaya bahasa, dan mengganti bahasa tersebut dengan bahasa ilmiah biar tidak dianggap plagiasi, anggapannya. Namun, kelakuan plagiat tersebut tetap melanggar undang-undang yang diterapkan di negara kita sebagaimana yang disebut dalam Pasal 9 ayat 3 UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Negara indonesia, budaya seperti di atas akan banyak kita jumpai di berbagai tempat. Mereka tanpa menyadari atau mungkin mereka sadar tapi tidak menghiraukan bahwa media yang menyalahi undang-undang itu dilarang untuk kita konsumsi, bahkan dilarang untuk disebarluaskan. Juga kejadian tersebut dapat merugikan banyak pihak. Dan yang paling dirugikan adalah si penikmat tadi. Karena tanpa disadari mereka telah melukai dunia intelektualnya sendiri. Apalagi zamannya sekarang merupakan zaman edan yang mana orang yang berbakat kalah dengan orang yang tidak berbakat dalam hal apapun termasuk segi penulisan. Buku sudah tidak diperlukan lagi, karena anggapannya lebih mudah menggunakan internet. Sudah tidak asing di era masa kini, orang-orang sudah tidak minat untuk menciptakan hal yang begitu berharga bagi diri sendiri karena hilangnya rasa teguh pendirian akibat ulah dari plagiasi. Itulah hal yang bisa membuat para literatur gulung tikar dan menyebabkan literasi luntur di negara NKRI.

Di pesantren sendiri, kejadian ini juga sering terjadi. Baik buku bacaan seperti novel hingga kitab kuning yang dicetak secara ilegal dan kemudian disebarluaskan. Seperti kitab kaidah yang diperuntukkan untuk pengajar malah banyak kita temukan di kalangan siswa yang juga memiliki foto-copyannya. Namun sebelum itu, coba bedakan antara buku hasil syarah atau terjemah dari buku aslinya dan yang memang aslinya hanya saja digandakan. Sebagai seorang santri, kita harus bijak untuk memecahkan masalah ini. Sebab, ini bukan hanya tentang kerugian yang bersifat materi, tapi juga kerugian dalam bentuk moral bagi semua manusiawi.

Dapat disimpulkan bahwa kelakuan para plagiat di zaman edan ini, tetap melanggar undang-undang meskipun gaya bahasanya sudah dirubah dan merubah bahasa yang mudah di cerna menjadi bahasa yang sulit untuk dipahami. Jadi, yang harus kita perangi itu adalah media yang ilegal, seperti buku bajakan, pdf yang bersliweran, konten jiplakan dan lain sebagainya, baik itu media cetak maupun digital.Maka dari itu, kita yang sudah menjadi penulis jangan sampai putus asa untuk membuat suatu karya. Karena seseorang yang memiliki karya akan dikenal meski ia sudah tiada. Masalah saingan dengan plagiat, mereka hanyalah orang yang ingin dikenal di dunia edan sekarang dan ingin mempunyai suatu yang berharga melalui karya dari orang lain.

 Penulis: Rozi D 04

Editor: Muhammad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *