Barangkali kita hidup di dunia untuk sekedar kenikmatan diri. Jika memang demikian pola pikir Hedonisme menjadi satu perkara yang cocok untuk kita anut dalam setiap corak pandang kehidupan yang kita jalani.

Istilah hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme berarti suatu paham tentang kesenangan, foya foya atau saudara²nya. Jika memutar sejarah cikal bakal Hedonisme yang muncul beberapa ratus abad yang lalu itu, barangkali dalam terapannya lebih dirasakan di zaman yang sedang kita jalani saat ini. Sebab secara normal paham Hedonisme di Zaman serba Instan seperti sekarang kelihatanya lebih berpotensi mendominasi pada setiap individu masyarakat.

Contoh sederhananya : Tradisi malam mingguan sebagai ajang perehatan diri di waktu Weekend, dimalam ini khususnya masyarakat di daerah perkotaan menjadi momen berharga untuk meluapkan kejenuhanya selama satu minggu untuk sekedar nongkrong dikedai kedai kopi, bertemu dengan pasangan atau kegiatan yang sejenis.  Contoh lain seperti Produk kosmetik dibeberapa perusahaan yang saling berlomba membranding kualitas produknya sebagai jawaban dari semakin meningkatnya citra perempuan agar terlihat fiery dihadapan kaum adam. Pula seperti contoh lapak jual beli online yang semakin menjadi tempat pembelanjaan yang digadang gadang oleh semua kalangan.

Dari contoh fakta tersebut merupakan salah satu bukti bahwa di zaman serba canggih ini Hedonis tidak lagi sekedar suatu paham, akan tetapi telah menjadi tradisi mendarah daging yang tidak bisa dilepaskan dalam pergulatan hidup manusia. Senada dengan apa yang dikatakan oleh Filsuf Yunani Epikuros, Menurutnya tindakan manusia mencari kesenangan adalah kodrat alamiah.

Khittah Pesantren

Sudah seharusnya kita akui bersama. Pesantren sebagai lembaga tradisional di beberapa dekade terakhir mulai mengalami transformasi pola pikir. Hal tersebut dapat kita buktikan dari corak pandang Santri sepuh dan santri modern terhadap problematika kehidupan. Bukan merupakan suatu hal yang  mengeherankan sebenarnya, sebab memang zaman memaksa untuk perubahan tersebut.

Orang orang pesantren secara khittah, perihal Hedonisme memiliki dasar pedoman yang harus benar benar dipegang teguh kendati disaat derasnya paksaan hidup Hedonisme dari luar pesantren sedang digalakkan, seperti contoh rencana wajibnya alokasi anggaran dari pemerintah pusat ataupun daerah yang diglontorkan terhadap pesantren atau seperti politisasi pesantren yang saat ini menjadi lahan menjanjikan. Yang jangan jangan orang orang pesantren belum siap mental untuk hal itu.

Kita renungi bersama firman Allah dalam Al Qur’an :

يَٰقَوْمِ إِنَّمَا هَٰذِهِ ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا مَتَٰعٌ وَإِنَّ ٱلْءَاخِرَةَ هِىَ دَارُ ٱلْقَرَارِ

(Ghafir 40:39)  : Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.

Dalam ayat tersebut jika kita telisik tidak ada larangan Hidup Hedonisme. Yang dilarang ketika Hedonisme menjadi Fragmen seluruh perjalanan dan perjuangan kehidupan. Mudahnya Kesenangan  menjadi tolak ukur kehidupan tanpa bisa ditukar apapun

Untuk itu setelah RUU Pesantren disahkan, masyarakat pesantren tidak sampai terlena hingga lupa Khittah. Memang benar kita harus berterima kasih kepada para anggota DPR yang telah memperjuangkan hal tersebut, sebab dengan begitu sebagai warga pesantren memiliki payung hukum setara undang undang. Tapi semoga bayang bayang alokasi tidak menjadi tolak ukur mati matian

Sebab bagaimanapun melestarikan pesantren pada haqiqatnya bukan melestarikan gedung mewah nan megah, namun upaya maksimalnya management qolbu yaitu dengan cara meningkatkan pendidikan anak didik berupa ilmu dan amal para salafunas sholeh.

Semoga pesantren di negara kita ini tetap memegang Khittahnya, ditengah tengah fitnah pesantren yang semakin menjalar oleh kelalaian sebagian oknum pesantren yang telah terpengaruh paham Hedonisme itu.

Penulis: Sirojul Munir

Leave a Reply

Your email address will not be published.