Penulis: Sholehuddin/eL-Hijrah

Pada dasarnya, telah kita ketahui bahwa kehidupan dunia ini dipenuhi dengan fatamorgana. Dan bisa saja Allah menjadikan semua manusia sama atau saling berbeda. Bahkan menjadikan semua makhluk sebagai satu-satunya yang tunggal. Semua serupa, tidak sedikitpun beda atau bahkan bisa jadi ada yang sangat berbeda dari masing-masing manusia. Akan tetapi, secara nash ataupun realitas semua itu tidak Allah lakukan. Maka tidak heran apabila manusia yang ada sangat beragam. Mulai dari bentuk fisik, pola pikir, atau arus logika satu persatu.


Allah berfirman didalam al-qur’an :
ولو شاء الله لجعلكم أمة واحدة ولكم ليبلوكم في ما اتا كم فاستبقوا الخيرات إلي الله مرجعكم جميعا فينبأكم بما كنتم فيه تختلفون
“Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu ummat(saja).tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberiannya kepadamu,Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan ,hanya kepada Allah lah kembali kamu semuanya,lalu diberitahukannya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu” Qs, Al-maidah[4] :48


Dalam penciptaannya, Allah menitipkan sebuah akal pada masing-masing manusia. Akal ini yang kemudian membuat ragam pola pikir, cara dan terka di masing-masing manusia. Akal ini memiliki fungsi yang sangat vital. Karenanya Allah selalu memerintah manusia agar pandai memfungsikannya dengan baik dan maksimal, sebagaimana jamak kita temukan redaksi didalam al-Qur’an: Afala ta’qilun? Afala tatadzakkarun ? Afala tatafakkarun ? semua itu adalah ajakan sekaligus sindiran bagi manusia yang tidak banyak menggunakan akal sehatnya untuk menuju jalan yang benar dan meninggalkan perintah perintah Allah dan rasulnya.


Pernyataan diatas dapat kita pahami dan resapi akan semua hal yang telah terjadi pada kita sendiri. Bagaimamana cara kita selanjutnya sebagai manusia ? untuk jawabannya cara apa yang kita lakukan tidak ada lain ialah menjalani sesuatu yang telah menjadi kewajiban dan menjadikan pola pikir kita sebagai tumpuan mau kemana kita kembali dan berlindung nantinya. Selaras dengan kandungan ayat dalam Qs. Adz-dzariat :[51-50] yang Artinya : ”Maka segeralah lari(kembali) kepada Allah dengan cara berlindung kepada-Nya.” Hal itu bisa diwujudkan dengan banyak berdo’a dan mengadu dalam munajat kepada Allah. Kita perlu mengadukan keadaan nafsu yang tak pernah henti membujuk pada kelalaian, sedangkan jiwa begitu ringkih untuk menolak ajakannya yang begitu dahsyat. Maka tidak diragukan lagi jika seseorang mengambil cara ini untuk mengobati ketergantungannya pada hal-hal materi sehingga jalan keselamatan akan tampak begitu nyata.


Dengan banyak meminta perlindungan kepada Allah atau dalam bahasa kitab suci disebut aksi lari menuju inilah tak sedikit dari para sahabat rasul serta generasi salaf saleh berikutnya memberikan keteladanan kepada kita. Bukan dengan mengungsi dari gua ke gua yang lain upaya mereka mempertebal dan memperkuat keimanannya. Melainkan dengan banyak berzikir, merasa selalu diawasi dan diperhatikan oleh Allah SWT. Sehingga perasaan selalu diawasi itu membuahkan rasa malu untuk sekejap saja lalai dari Allah SWT.
Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *