Oleh : Zainuddin *)

Rasanya tidak berlebihan kalau mengatakan beliau adalah sosok panutan yang sederhana tapi pengabdiannya kepada Pondok Pesantren Banyuputih sangat sempurna.

Dengan menjadi murid beliau mulai dari sekolah MADIN dan Formal  sampai saya lulus, beliau selalu memberikan motivasi kepada semua santri, kepada semua Ustadz dalam mengabdi kepada Guru dan Pondok Pesantren. Beliau selalu berpesan kepada kita semua, jangan pernah bosan untuk belajar, membaca kitab yang akan diajarkan, atau kalau bisa memperbanyak referensi sebagai tambahan bahan di kelas.

Kesederhanaan beliau dalam semua hal yang patut kita ikuti, bahkan saat ini beliau di pesantren masih dalam posisi menjadi Diriktor MADIN, kepala MA Diniyah dan Kepala Kantin, namun semua itu tidak pernah merubah sikap tawaddu’ dan kesufiannya beliau untuk menyapa santri dengan sebutan ”Cah”, bahasa yang menurut saya mingindikasikan keakrapan dan kedekatan antara Guru dan Murid.

Yang membuat saya sendiri sangat malu kepada Beliau, setiap beliau mempunyai jadwal mengajar di pesantren beliau selalu hadir lebih awal daripada Ustadz yang lain, karena niat tulus beliau dalam mengabdi, berangkat dari  kediamannya ba’da subuh karena khawatir terlambat dan khawatir didahului ustadz yang dari dalam kata beliau “saya malu kalau sampai didahului Ustadz yang dari dalam”. Sebenarnya tujuan beliau tidak lain hanya untuk memberikan teladan bagi kita semua, sebagai sama-sama pengabdi agar lebih disiplin dalam mengabdi kepada pesantren.

Hal lain, yang membuat kita salut dan malu sama beliau, disaat beliau dalam keadaan sakitpun, selama mampu untuk menahan rasa sakitnya, beliau tetap berangkat untuk mengajarkan ilmunya di Pesantren, bahkan terkadang beliau lebih mementingkan pesantren dari pada urusan keluarga, karena dawuhnya “ketika kita mendahulukan urusan pesantren maka urusan keluarga juga akan ikut terselesaikan dengan mudah” Subhanallah. 

Tidak hanya itu saja, beliau juga selalu memberikan solusi yang solutif baik itu berkaitan dengan masalah pesantren atau bahkan masalah berumahtanggapun beliau selalu memberikan arahan dan binaan bagaimana cara berumahtangga yang baik. Sebenarnya tulisan ini tidak cukup untuk merepresentasikan sosok beliau yang sangat luar biasa, baik dalam aspek Keilmuan dan wawasan beliau yang memang sudah sangat lama mengabdi di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih kidul Lumajang.

Selamat jalan Guru dan orang tuaku, saya yakin dan bersaksi bahwa engkau adalah Ahli Surga, semoga amalmu dan ilmumu akan selalu kita ingat dan kita amalkan, amin ya Rab!

*) Murid Almarhum al-Ustadz H. Ali Husnan, S.Pd

3 thoughts on “Pengabdian Tanpa Koma (Mengenang Alm. Al Ustadz H. Ali Husnan, S.Pd)

  1. Masyaallah, semoga Beliau Murobbiruhina H. Ali Husnan Selalu mendapat keridhoan dari Allah SWT. Amin Amin Ya Rabbal Alamin

  2. Maskipun Saya Belum Di Ajar Beliu Di Ponpes. Saya Sangat Merasakan Kehilangan Sosok Yang Menjadi Inspirasi Bagi Saya. Semoga Allah Mengampuni Dosanya Dan Menerima Amal Ibadah Nya Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published.