Lumajang –  Untuk kali kesekian, Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Miftahul ulum Lumajang menggelar seminar umum bagi seluruh Mahasiswa dan Dosen Pengajar.  Kegiastan ini dicoveri dengan istilah Bincang santai para Masyarakat STISMU Lumajang. Kegiatan ini juga dinarasumberi oleh Dr. Abdul Aziz S.H, S.Pd.I, M.Pd.I. salah satu Alumni Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih kidul Jatiroto Lumajang yang sampai detik ini beliau masih menjabat sebagai Sekretaris umum Majlis ulama Indonesia (MUI) kota Bandar Lampung dan juga aktif sebagai Dosen ahli  Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung. Dalam kegiatan ini Waka III STISMU Lumajang ; Dr. Zainuddin M.Pd. juga ikut serta dan memoderatori jalannya kegiatan siang itu. Selain itu, Ketua STISMU Lumajang Mochammad Hisan, S.Pd.i, M.Sos.  juga ikut serta dan duduk bersama disebelah kanan Narasumber pada kegiatan hari itu.

Kegiatan tersebut berlangsung  hampir 3 jam, tepat pada Sabtu, 02 Juli 2022 kemarin. Dimana tema dalam kegiatan itu  diusung dari sebuah keseharusan seseorang yang notabenenya sebagai Santri, yaitu ‘’Diaspora Peran kaum Sarungan’’  Diaspora jika dalam KBBI berarti masa tercerai-berainya suatu bangsa yg tersebar di berbagai penjuru dunia dan bangsa tsb tidak memiliki Negara. Namun dalam kegiatan ini dimaknai lebih mengerucut; yaitu sebuah masa dan keadaan dimana telah terpetakan secara pasif  dan sebuah  Mobitalisasi sudah seharusnya berjangka,  mengalir  dan membawa perubahan dalam ukuran orizontal atau vertikal agama dan kenegaraan. Pengantar dalam bincang santai ini, Narasumber memberikan beberapa bungkahan orasi yang bertujuan agar peran kaum sarungan lebih dikenal, diakui dan tidak selalu berada diujung kaki kenegaraan. Bahkan beliau juga menambahkan “sudah menjadi keseharusan dalam segala pos lini atasan, kaum sarungan juga seharusnya berperan dan terpapar, bahkan kalaau bisa, skala paling kecil adalah Kepala desa karena jika yang memimpin dan yang mengatur adalah kaum sarungan maka kemungkinan besar negara dan kebedaraan masyarakat sesuai dengan yang diharapkan” kata Abdul Aziz.

Tak hanya itu, beliau juga memberikan saran agar kaum sarungan juga aktif dalam literasi baca tulis, “kaum sarungan harus mampu dan bisa dalam bidang baca tulis karena mereka yang berada di jalur terlalu kanan dan jalur yang terlalu kiri (tidak moderat sama sekali) juga berhasil mengadopsi desakan public dengan begitu pasifnya , seakan-akan keadaan sedang baik-baik saja”. Narasumber juga sempat bercerita ketika beliau pernah menjadi Wakil rakyat lampung dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Pesantren di Yogyakarta bahwa” dalam RUU tersebut masih banyak campur tangan yang dapat melunturkan jatidiri sebuah Pesantren, untungnya pada saat itu bebrapa wakil rakyat yang Santri dan paham literasi tulisan dapat kompak dan sejalur dalam musyawarah. Sehingga mengahsilkan UU Pesantren yang sesuai dengan jatidiri pesantren” Paparnya.

Pada intinya dalam terakhir pengantar beliau, beliau mengajak kepada semua lapisan kaum sarungan untuk mendiaspora, bangkit dan berperan agar mereka yang tidak sejalur tidak bisa nerusak dan mempengaruhi kepebribadian kaum sarungan. Beberapa orasi narasumber berhasil membangun semangat para peserta bincang santai pada waktu itu, hal ini terbukti  saat dimana para Peserta bincang santai begitu aktif dalam sesi Tanya jawab kemarin. Di akhir acara Moderator juga menyimpulakan dengan sebuah anjuran” Kita sebagai Kaum sarungan harus menjadi Pekerja yang tidak dikerjain, menjadi Pemain yang tidak dimainin, oleh sebab itu mari kita; kaum Santri untuk membawa perubahan yang sebenar-benarnya”, tuturnya. (UWQ)

Leave a Reply

Your email address will not be published.