Tingkah laku santri merupakan ruh pertama yang terpandang dalam dirinya. Sehingga tidak heran jika seorang santri menjadi tauladan bagi orang-orang yang berada di sekitarnya. Namun, terkadang hal itu menjadi terbalik, jika santri tidak mengerti terhadap tugas tugasnya, yaitu menjadi baik, menjalankan perintah allah dan menjahui larangannya.

Dari sekian banyaknya tingkah laku santri yang menimbulkan kebaikan, itu disebut sebagai Akhlak Al Karimah, juga ada yang buruk hal ini disebut dengan Akhlaq Al-Dzamimah. Dari kedua akhlaq tersebut muncullah berbagai macam akhlaq seperti sabar, tawaddu’ dan salah satunya yaitu muru’ah, ini yang termasuk akhlak mulia.

Juga dari akhlak yang tercela muncul, seperti sombong, riya’ dan ghibah serta yang lainnya. Namun disini kami akan membahas salah satunya, yaitu muru’ah. apa sebenarnya muru’ah tersebut? Apakah cuma sebagai tameng agar kita lebih leluasa ataukah sebagai penghias diri sebagai santri.

Di dalam kitab Hasyiystul Qolyubi juz 3 halaman 236 karangan imam al-qolyubi dikatakan:

عن ارتكاب الخصال الرذيلة انها صفة تمنع صاحبها

Artinya: sesungguhnya sifat muru’ah itu dapat mencegah seseorang untuk melakukan perkara-perkara yang hina.

Dari ungkapan tersebut, sudah jelas bahwa sifat muru’ah akan mendorong seseorang agar mengerjakan sebuah kebaikan. Bukan seperti persepsi kita selama ini, yaitu ketika membawa sesuatu dan sesuatu itu hina bagi dirinya, sehingga merasa kehormatannya akan menurun. Padahal sesuatu yang kita anggap hina belum tentu juga muru’ah. Hal ini tentu sangat menyimpang dari arti muru’ah itu sendiri yang akan menyebabkan salah kaprah dalam menilainya.

Juga dikatakan oleh Imam Zainuddin Al-Malibariy di dalam kitab fathul mu’in halaman 146

قوله:ولامن غيرذي لاحياء له ومن لا حياء له يقول ما شاء وهي توقى الادناس عرفا فيسقطهاالاكل والشرب في السوق والمشي فيه كاشفارأسه أوبدنه لغيرسوقي وقبلة الحليلة بحضر ةالناس وإكثارمايضحك بينهم اولعب شطرنج اورقص بخلاف قليل الثلاثة.

Artinya: orang yang tidak mempunyai sifat muru’ah maka ia tidak mempunyai rasa malu dan orang yang tidak mempunyai rasa malu maka ia akan mengatakan sesuatu dengan tanpa perhitungan, Sedangkan muru’ah adalah menjaga diri dari perkara yang hina. Dan sesuatu yang menggugurkan sifat muru’ah adalah memakan, meminum serta berjalan dengan tanpa menggunakan kopyah atau dengan tanpa menggunakan baju bagi orang yang bukan penduduk pasar, mencium istrinya ditempat keramaian manusia, membuat semua orang yang berada disekitarnya banyak tertawa, bermain catur, dan berjoget.

Jadi, muru’ah tersebut merupakan sifat yang harus benar-benar dijaga oleh kita dengan menjauhi sesuatu yang buruk baik ketika sendiri, maupun bersama dengan orang lain. Buanglah perasangka yang tidak sesuai dengan muru’ah yang telah didenifisikan oleh ulama’, agar kita tidak salah kaprah dalam memaknainya. Karena banyak dari kita menjadikan kata muru’ah sebagai tameng agar dirinya lebih leluasa. Muru’ah merupakan perilaku dalam rangka menjauhi ajakan syahwat dan nafsu. Kemanusiaan, kepribadian dan kehormatan terjadi karena mengingkari ajakan syahwat dan ajakan emosi. Yaitu dengan beradab baik dihadapan orang lain, mempunyai rasa malu, tidak memperlihatkan sesuatu yang dibenci orang lain dan menjadikan orang lain sebagai cermin bagi diri sendiri.

Oleh: Anas Saifullah, anggota redaktur Mading El Ihsan

Leave a Reply

Your email address will not be published.