MU.BAKID.COM-Selasa 16 Agustus Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bakid menggelar Istighosah dan do’a bersama untuk mendoakan para Pahlawan yang telah gugur dalam membela tanah air dan keutuhan NKRI yang bertempat di Masjid Jami’ Miftahul Ulum. Acara ini di mulai setelah berjemaah sholat maghrib yang dihadiri oleh bapak koramil Jatiroto, Kh. Ahmad Syaikhu selaku wakil Katib PCNU Lumajang dan diiikuti oleh semua Santri. Kh. Husni Zuhri selaku pengasuh memberikan sambutan pada acara tersebut “Acara pada malam ini bukan hanya sekadar tradisi dan ikut-ikutan melainkan untuk menghargai jasa Tokoh dan Pahlawan yang berkorban dalam memperjuangkan kemerdekaan dan keutuhan NKRI”. Dawuh beliau dalam sambutannya, ada beberapa pesan beliau yang disampaikan dalam sambutannya “Menurut peribahasa jangan hanya pandai memetik buah namun juga harus bisa menanam buahnya pula, artinya bahwa kita jangan hanya pandai dalam mengambil jasa namun juga harus bisa memberi jasa pula,” Beliau meneruskan dawuhnya “Barang siapa yang hanya bisa mengambil jasa tanpa bisa memberi jasa kembali maka dipersilahkan untuknya untuk berjoget di atas kuburan artinya hanya bisa mengambil jasa-jasa orang yang sudah meninggal.” Pungkas beliau.

Istighosah termasuk minta tolong, memohon kepada Allah agar diberikan qolbin salim (hati yang bersih), Qolbin salim ini tidak cukup hanya dengan iman dan bertaqwa kepada Allah SWT namun juga harus selamat dari penyakit hati yang lima yaitu sombong, mencari pujian, egois, riya’ dan dengki. Sebagaimana telah disebutkan dalam Al-Qur’an surah As-Syuara’ ayat 88-89 : يوم لاينفع ولابنون الا من اتى الله بقلب سليم. Arti: ‘’(yaitu) Hari di mana harta dan anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.’’

Acara ini juga merupakan ungkapan syukur dan rasa berterima kasih kepada para pejuang yang mana telah kita rasakan buahnya saat sekarang, Dari Abu Hurairah nabi pernah bersabda : “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (Riwayat Abu Daud).

Berlanjut pada pembacaan sholawat nabi Ad-Diba’ dan Mahallul Qiyam yang dipimpin oleh group sholawat Al-Mawaddah yang serentak diikuti oleh para santri, kemudian dilanjutkan dengan motifasi kebangsaan mengenai sejarah perjuangan Indonesia dalam menghadapi penjajahan mulai dari masa Belanda, Jepang hingga merdeka, yang disampaikan oleh Kh. Ahmad Syaikhu selaku wakil katib PCNU Lumajang, acara pun ditutup dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Kh. Husni Zuhri dan semua santri serentak mengaminkan doa beliau.

Pewarta: Reza

Editor: Kholili

Leave a Reply

Your email address will not be published.