Headlines

Manusia : Bercengkrama Dengan Perbedaan.

Penulis: Sirojul Munir, Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Jika hidup di tamtsillkan seperti manusia, saya rasa sifatnya hampir sama seperti Dasamuka, salah satu karakter sastra perwayangan. Dalam mitologi Hindu, dikisahkan dia adalah Raja Alengka yang bertentangan terhadap Rama. Dasamuka dipercaya memiliki sepuluh muka, dimana jika diibaratkan hidup, ia memiliki banyak sisi. Kehidupan senantiasa berubah-ubah, bisa panas, dingin, naik, turun, hijau, kuning, atau merah, tergantung  dilihat dari sisi mana. Lalu datanglah makhluk bernama manusia, menyatu dengan kehidupan, bercengkerama, dan lahirlah perspektif yang berbeda.

Kendatipun demikian, manusia sering kali terkung – kung dalam kandang. Enggan menggali hal-hal apa pun di sekitar, enggan menggali kepercayaan sendiri, enggan mempertanyakan keyakinan dan perkara yang sudah benar-benar terlihat. Padahal untuk benar-benar ingin menikmati hidup, sebagai manusia selayaknya mengambil ibroh dari elang. Coba bayangkan elang yang terbang tinggi, berani turun ke bawah untuk mencengkeram mangsanya dengan tanpa takut resiko. Jika seandainya satu sayapnya patah, sehingga tidak lagi terbang lepas, maka ia akan mati karena tidak mengikuti naluri mangsanya. Demikian pula manusia, kita dianugerahi akal budi untuk selalu dilatih dan diasah, terbuka lepas dengan perkara baru, dan tidak takut keluar dari kandang.

Pemikiran ini saya dapatkan ketika di dalam Bus saat perjanan menuju Surabaya. Bertemu dengan seseorang yang bertato, berambut panjang, dan berbadan besar. Saya terpaksa duduk di dekatnya kendati wajahnya yang terlihat mengintimidasi. Sekitar perjalanan 15 menit Bapak ini menyapa, spontan saya begitu tercengang, terlontar sapaan yang ramah, dan bersahabat. Barangkali karena melihat saya bersongkok dan bersarung, kemudian ia bertanya asal dan status pendidikan. Di sepanjang perjalanan, ia bercerita tentang kekagumannya terhadap para kiai, sedikit juga berbicara tentang ruang agama bagi kehidupan sosial yang mulai tidak dianggap oleh individual masyarakat karena faktor ekonomi, bahkan ia mengakui di masa lalunya pernah hidup jauh dari agama, karena merasa tuhan tidak adil dalam kehidupan walaupun telah berbuat amal Sholeh.

Dari situlah saya mulai merasa bahwa di dunia ini banyak sekali tembok kehidupan sosial yang tidak di tembus oleh kebanyakan orang. Terlena dengan perspektifnya sendiri. Padahal, ada banyak sisi lain yang tidak dijangkau oleh pandangan, akal, bahkan hati. Saya pun mulai sedikit mengkaji di mana masih banyak orang – orang sekitar yang akrab dengan cara berpikir yang dibangun oleh dirinya sendiri. Mereka semacam hidup di zona nyaman, tidak mau keluar dan memilih diam dengan pilihannya tersebut. Hal yang paling terlihat sebabnya, karena faktor tidak mau mengambil risiko dari pergerakannya. Jika dikaji lebih dalam lagi, manakala mau mengambil hikmah dari para ilmuan, mereka mengajak otak berpikir agar mencari sesuatu hal baru dari apa yang telah terlihat selama ini, melalui arus dan sisi berbeda dari kebiasaan. 

Saya kira untuk memajukan suatu Negara atau organisasi seperti komunitas dan lembaga pendidikan harus melewati tembok-tembok sosial. Sehingga kemudian terpikirkan membuat gerakan-gerakan yang mengundang reaksi positif dari semua kalangan. Sebab cerita yang dilontarkan dari sejumlah perspektif yang berbeda menuntun atas lahirnya Pround Project, salah satu gerakan yang berporos pada storytelling (menceritakan kembali). Sehingga, menerima dari sekian banyak keluhan dan solusi dari segenap elemen, tanpa pilah-pilih. Ibarat komposisi makanan yang disatukan dalam satu adonan kemudian dikukus atau dimasak, lalu jadilah makanan yang siap disajikan hingga kemudian di sebut semur, soto, bergedel, lumpia, donat, kue pisang atau jenis makanan lain.

Di lingkungan pergaulan kehidupan masyarakat, sering kali kita temukan seseorang yang sulit menerima pendapat orang lain dari sisi yang berbeda untuk keluar dari tembok sosial. Kita sering kali mendapati cara pandang pragmatis yang cenderung mendoktrin orang lain untuk mengikutinya. Bantahan-bantahan logis pun hanya sebagai lontaran pemikiran pribadi sebagai sebuah kritik, untuk selanjutnya tidak memaksa sama. Bagaimanapun tidak akan bisa menemukan aspek sosial yang setara dalam kesamaan berpikir. Solusinya, tidak ada cara lain selain menerima pendapat orang lain dengan lapang dada. Bolehlah kita memandang sesuatu melalui jalan pikir yang telah kita tangkap, tetapi tidak bisa dipungkiri atas adanya perbedaan, akan senantiasa berjalan bersama dengan norma sosial sebagai bukti intensitas kehidupan.

Leave a Reply