Tradisi itu suatu hal yang sudah tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan duniawi akan lebih beseri-seri dengan dihiasi tradisi Islami. Membahas tentang tradisi, pasti akan merembet ke arah adat dan budaya, baik yang sudah sesuai dengan syari’at atau masih ternodai dengan keyakinan jahiliyah. Seperti ritual-ritual yang dilakukan pada bulan-bulan yang dianggap sakral. Contohnya, tradisi bubur shafar yang familiar dengan bulan shafar.

Bulan Shafar merupakan bulan ke-2 pada kalender hijriah. Kebanyakan orang memiliki tradisi dan ritual tersendiri untuk menyambut datangnya bulan shafar, salah satunya dengan membuat bubur shafar. Memang dalam hal ini tidak ada hukum yang  secara gamblang melarang adanya tradisi bubur shafar, namun ada banyak peninjauan untuk memvonis hukumnya. Bisa ditinjau dari segi sosial, keagamaan, maupun sebuah bentuk kemusyrikan.

Jika ditinjau dari segi sosial kemasyarakatan, tradisi bubur shafar ini memang boleh-boleh saja, karena sesuai dengan pesan yang tersirat di dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Bersegeralah untuk bersedekah, karena musibah dan bencana tidak akan mendahului sedekah.”

Dari hadits tersebut dapat ditarik benang merah bahwa, berbagi rezeki antar sesama manusia itu disunnahkan oleh Rasulullah SAW, bahkan dapat digunakan sebagai media penolak balak. Sehingga dalam hal ini tradisi bubur shafar hukumnya diperbolehkan.

Namun ketika bubur shafar digunakan sebagi hidangan untuk sesajen terhadap hal-hal ghaib (jin) sehingga timbul keyakinan bahwa jin bisa memberi pengaruh, maka hal inilah yang tidak diperbolehkan. Karena sudah menyalahi aturan ketauhidan dan termasuk menyia-nyiakan rezeki yang telah diberikan oleh Allah SWT. 

Instruksi pengajuan sesajen kepada makhluk-makhluk gaib biasanya digagas oleh para dukun yang awam akan ilmu keagamaan. Mereka memberikan arahan kepada para pasiennya dengan menyelipkan berbagai bentuk kesyirikan terhadap Allah swt, seperti menghidangakan sesajen tadi. Dengan demikian, sudah sepatutnya dan sewajarnya bagi kita kaum Aswaja untuk selalu mewaspadai dan membentengi diri dari tradisi-tradisi yang menyesatkan tersebut.

Penulis: Ikmal Sholihin

Editor: Kholili

Leave a Reply

Your email address will not be published.