Oleh : Sirojul Munir *)

Berbicara peradaban modern yang serba digital, tentu kemudian kita akan digiring kepada pembahasan tentang Efektivitasnya bagi kehidupan. Demikian ini merupakan alasan mengapa mempelajari sejarah peradaban umat terdahulu begitu penting. Hikmahnya, kita dapat menarik benang merah dari naik turunya kemajuan peradaban pada masa lalu untuk dijadikan pelajaran dan pengajaran bagi kehidupan saat ini dan selanjutnya.

Digitalisasi diera modern ini begitu marak. Buktinya dari tahun ketahun brand brand dari beberapa perusahaan ternama berlomba lomba mempromosikan kecanggihan produknya guna meningkatkan elektabilitas pasar yang begitu panas. Yang demikian ini acap kali disebut sebagai kemajuan baru peradaban modern.

Satu contoh bukti produk digital yang akhir akhir ini dielu elukan dimasyarakat kita adalah Smartphone. Berbeda dengan produk digital yang lain, Hampir semua kalangan masyarakat mengenal tekhnologi canggih ini. Bahkan anak kecil lima tahunan tidak sedikit yang sudah candu dengan fitur fitur yang disediakan. Saking canggihnya.

Kemajuan tekhnologi merupakan bentuk semakin majunya ilmu pengetahuan dan terapanya. Begitu banyak manfaat bagi kehidupan, hampir semua pekerjaan terasa terbantu dengan hadirya. Belum lagi kita membahas tentang Ilmu Sains yang mempu melahirkan temuan temuan kimiawi yang bermanfaat bagi kehidupan Alam dan Manusia. Artinya diperadaban modern sekarang manusia sebagai pengelola alam benar benar dimanja.

Disatu sisi ada sedikit bisikan bisikan kekecewaan terdengar ditelinga terhadap kemajuan tekhnologi dewasa ini. Sebab disamping pula memiliki kemaslahatan yang luas, mafsadat bagi proses berjalanya kehidupan sosial ditengah² masyarakat juga begitu menghawatirkan. Lebih lebih jika kita membahas tentang smartphone sang handpohne pintar penyambung silatutahmi yang mendunia.

Didalam kitab Ihya’ Ulumuddin mengutip perkataan Wahab bin Munabbah dikatakan :
 حَقٌّ عَلَى الْعَاقِلِ أنْ يَكُوْنَ عَارِفًا بِزَمَانِهِ حَافِظًا لِلِسَانِهِ مُقْبِلًا عَلَى شَأْنِهِ
“Orang yang berakal, hendaknya bisa menjadi pribadi yang mengenal zaman, menjaga lisan, bertindak sesuai keadaan

Dalam kitab Qotrul Ghoits menurut qil lafadz tersebut terdapat dalam Suhuf Ibrahim namun teksnya lebih mendahulukan حافظ للسانه dari pada عارفا بزمانه. Namun terlepas dari itu konotasi maknnaya sama, tentang pentingnya membaca zaman, menjaga lisan (Jika sekarang berupa tulisan) dan tindak tanduk atau sikap, kita sesuaikan dengan keadaan.

Smartphone sebagai tekhnologi canggih, tentu tidak bisa dipisahkan dari kehidupan zaman saat ini. Jika kita pahami makna lahiriyah dari perkataan Wahab bin Munabbah tersebut mellek tekhnologi merupakan termasuk sebagai bentuk dari cerdasnya membaca zaman. Namun, selain itu kita tidak bisa menghiraukan kedua poin penting yang lain yaitu; menjaga lisan dan bertindak sesuai keadaan.

Berjalan bersamaan dengan semakin tingginya minat dunia digital, dunia sosialpun juga meluas. Jika dahulu pergaulan sosial atau dunia berkomunikasi hanya terbatas pada dunia nyata yang dalam arti pergaulan antar tetangga, keluarga, dan orang orang terdekat, saat ini dunia sosial media menjadi pendatang baru dalam urusan berkomunikasi. Berkomunikasipun saat ini tidak lagi terbatas pada obrolan oborlan lisan saja, tulisan ketik ibu jari telah menjadi bahan sehari hari yang bahkan lebih mendominasi.

Bukan merupakan suatu hal yang tabu dibeberapa dekade terkahir, beberapa pengguna sosial media yang diringkus polisi karena sembrono dalam berinteraksi. Mulai dari kasus yang berlatar belakang pemberitaan Hoax, Adu Domba, Pelecehan, Diskriminasi Ras dan semacamnya. Tak ayal hal tersebut terjadi sebab memang sosial media merupakan senjata ampuh yang begitu kuat dalam menyebarkan informasi untuk sampai diantara individual publik.

Dalam hal ini kecerdasan pengguna smarthphone ketika berkomentar dan obrolanya dalam media sosial perlu benar benar dijaga. Hafidzon lilisanihi perlu diterapkan pula dalam interaksi didalam media sosial.

Sebagaimana disinggung diatas bahwa komunikasi sosial media saat ini adalah yang semakin mendominasi bagi kehidupan. Jika kita mendatangi kafe atau gerai kopi pasti akan dipertontonkan beberapa anak muda bahkan tua yang fokus pada gadget digenggamanya. Bahkan sering kali ketika kita berkumpul dengan kawan, keluarga, dan orang orang terdekat seolah olah setan kotak ini menjadi gap. Dapat dipahani pngaplikasian “Muqbilan Ala sa’nihi” Tiada penerapan.

Dr Haidar Bagir dalam satu artikel mengatakan, “Hari ini kita berada dikeramaian tapi merasa kesepian”. Lebih keras lagi Buya Syafii Maarif dalam satu kesempatan menjelaskan bahwa di era modern saat ini hanya menciptakan manusia yang tidak berguna “Mereka akan menciptakan barang barang yang tidak berguna, yang nantinya manusia lainya berlomba lomba untuk mendapatkan barang yang sama sekali tidka berguna tersebut”. Sebagaimana yang disampaikan guru kami pula “Bukan Zaman Modern tapi Zaman Mudirrun”.

Walhasil, poin penting yang bisa kita ambil bersama adalah menyelaraskan hidup dengan zaman ditengah tengah kehidupan yang semakin caggih merupakan keebutuhan agar terselamatkan dari kegagapan tekhnologi, lebih dari itu meggunakan tekhnologi dengan baik merupakan bentuk kecerdasan tiada tanding . Sebab maju dan secanggih apapun zaman medern tetap tidak akan terlepas dari sabda nabi
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ (متفق عليه )
Manusia terbaik adalah manusia di masaku, lalu yang setelah mereka, lalu setelah mereka”. (Muttafqun Alaih)

Sedang kita di zaman qurun yang keberapa?

*) Santri PP. Miftahul Ulum Bakid

Leave a Reply

Your email address will not be published.