Tutur bahasa yang baik adalah kebiasaan yang tidak bisa di remehkan dan menjadi nilai penting bagi kita yang berpendidikan agama, dengan membiasakan bahasa yang baik, kita bisa bersikap bagaimana menjaga pembicaraan kepada yang lebih tua. Selain itu dapat membuat rasa hati-hati ketika berhubungan dengan seseorang.

Saat ini kebiasan tersebut belum sepenuhnya terjalin atau terlaksana. Akibatnya banyak anak anak di zaman sekarang tidak terkontrol dalam menjaga segi pembicaraannya. Kian merosotnya akhlak secara drastis, sehingga sering terdengar kebiasaan menyebut nama panggilan dengan kata kata yang tidak senonoh dan kurang sopan. Hal ini tidak dapat dipungkiri penyebab hal tersebut dikarenakan tontonan tontonan yang terlalu bebas dan vulgar.  Hal itu menjadi pertanda bahwa tutur bahasa baik sudah asing di ruang lingkup kita.

Terkait dengan masalah ini penulis sangat ingin mengajak pembaca merenungkan hal itu dan membuang jauh kebiasaan buruk tersebut. Di mulai dari yang lebih tua memberi contoh akhlak pada yang lebih muda serta menyuruh berbicara sopan baik kepada sesama, lebih lebih guru dan orang tua.

Tutur bahasa yang baik dan bijak menjadi pola kebiasaan penting yang perlu kita laksanakan agar menjadi pribadi yang lebih baik. Bahkan di Pesantren praktek tutur bahasa yang baik atau parbhesan sudah di nadzomkan mulai dari awal masuk kelas ibtida’, hal itu menjadi bukti betapa pentingnya berbicara dengan tutur bahasa yang baik dan sopan.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk mempelajarinya bahkan wajib mengamalkanya. Di Pesantren sendiri pun, para santri sangat ditekankan untuk selalu berbicara dengan sopan, karena salah satu elemen penting dalam mencari ilmu adalah pengamalan. Sehingga berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah merupakan harga mati yang harus dipegang erat. Hal ini senada dengan definisi santri yang dirumuskan oleh KH. Hasani Nawawi Sidogiri “Santri berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah orang yang berpegang teguh dengan al Qur’an dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW serta teguh pendirian ini adalah arti bersandarkan sejarah-sejarah dan kenyataan yang tidak dapat di ganti dan di ubah selama lamanya”. 

Dari kutipan kata-kata tersebut bisa di tarik kesimpulan bahwa santri dari zaman dulu sudah di anggap orang yang berperilaku baik, mulai dari  tindak langkahnya adalah orang yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan mengikuti sunnah rasulullah.

Maka dari itu pentingnya akhlak dalam kehidupan merupakan hal urgent yang harus dipertahankan. Dimulai dari tutur kata yang sopan, perilaku yang baik lebih lebih kepada guru dan orang tua. Karena esensi bagi seorang pencari ilmu terletak pada pengamalan ilmunya, dan pengamalan tersebut tidak bisa diterapkan tanpa adanya kebiasaan.

Penulis: Anas redaktur Mading El Hijrah

Leave a Reply

Your email address will not be published.