Kemerdekaan suatu negara yang sebelumnya pernah terbelenggu oleh biadabnya imperium penjajah, penting untuk diperingati. Sebuah bentuk kecintaan dan kepeduliaan terhadap tanah air yang telah dibangun diatas perjuangan yang berdarah darah. Sebagaimana negara tercinta kita ini negara Indonesia. Salah satu negara yang merdeka tidak karena pemberian atau opsi muslihat para penjarah.

Ada aneka cara masyarakat memperingati Euforia Kemerdekaan. Mulai dari membuat perlombaan perlombaan, mengadakan acara Majelis Sholawat dan Pengajian dalam rangka memperingati kemerdekaan, Ritual Upacara Kemerdekaan, atau dengan mengibarkan bendera diatas tiang didepan Rumah oleh masyarakat Kampung maupun Perumahan.

Sebagaimana yang telah disinggung diatas (Memperingati kemerdekaan) sudah menjadi tradisi  setiap kali hari ulang tahun kemerdekaan sering kali diperingati dengan penuh gegap gempita. Walaupun pada haqiqatnya memperingati kemerdekaan berarti mengenang perjuangan para pahlawan yang telah berjuang memperjuangkan hidupnya guna tercapainya cita² bangsa yang berdikari, berwibawa, berkarakter, dan berperadaban luhur. Suatu peringatan yang sejatinya dalam rangka mengenang beribu ribu jasa pahlawan dimasa lalu yang telah gugur. Bukan perayaan pesta pora belaka.

Dalam pembahasan awal tentang makna dari memperingati kemerdekaan ini kelihatanya rata rata bangsa kita telah merasa puas atas kemerdekaan fisik Negara. Merdeka dari cengkraman orang lain, berbendera Merah Putih, Berlambang Garuda, berlagu kebangsaan Indonesia Raya. Merasa puas dengan beranggapan bahwa kemerdekaan sebatas bermasyarakat dengan hidup dinegara sendiri.

Ditahapan bahasan lebih mendalam, makna kemerdekaan lebih dari itu. Jika kita menelisik dari pembahasan konsep para sufi, kemerdekaan terbesar adalah ” Ketika mampu mengendalikan hawa nafsunya“. Apabila kita pahami secara mendalam tidak dapat kita pungkiri konsep para sufi inilah kelihatanya satu satunya solusi untuk merdeka di tengah tengah terjajahnya bangsa dari cengkraman oknum oknum yang tidak bertangung jawab dalam pengelolaan negara. Sebab secara kenyataan, fisik bangsa kita memang benar sudah merdeka akan tetapi secara substansi masih ada pekerjaan Rumah yang harus diselesaikan.

Konsep Kemerdekaan para sufi inilah yang dimaksud merdeka menurut Islam. Kendati konsep islam tersebut kedengaranya begitu sederhana dibanding konsep para pakar dalam menyelesaikan problem bangsa. Dikenyataan dari awal Konsep islamlah yang selalu menjadi solusi terbaik dalam menjawab beberapa problem permasalahan bangsa dimasa perjuangan kemerdekaan. Satu diantara gerakan terbesar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan adalah Konsep Islam yang dikenal dengan Resolusi Jihad. Suatu ketetapan yang dilahirkan dari galian galian para ulama’ terhadap konsep jihad dalam kitab turats.

Setelah kemerdekaanpun konsep Agama Islam menjadi dasar terbaik. Bisa kita pelajari filosofi Pancasila. Disila pertama berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” suatu pengajaran bahwa hal pertama yang seyogyanya dipenuhi dalam berbangsa ialah harus bertauhid, bertaqwa, dan senantiasa menjadi masyarakat yang tidak ikut akan hawa nafsuya. Seolah olah tim sembilan yang satu diantaranya KH Wahid Hasyim sebagai penyusun dasar negara dimasa lalu menyampaikan kepada para anak bangsa bahwa “Ketika bangsa sudah merdeka secara fisik dengan menjadikan semangat jihad melawan penjajah, langkah selanjutnya tugas kalian (Setelah Merdeka) jadikan agama yang kalian imani untuk jihad melawan hawa nafsu”.

Jika kita tarik pada kenyataan yang terjadi kelihatanya bangsa kita masih belum selesai untuk hal ini. Bangsa kita belum sepenuhnya merdeka. Kemerdekaan yang kita dapat hanya secara Fisik, tapi tidak secara substansi. Sebab berdasar hal tersebut adalah karena ulah nafsu dari oknum oknum tak bertangung jawab di beberapa jabatan strategis dipemerintahan maupun swasta dalam pengelolaan sumber daya bangsa, yang efeknya kemerdekaan bangsa kita hanya “Merdeka Setengah Tiang.”

Penulis: Sirojul Munir

Leave a Reply

Your email address will not be published.