Hiruk-pikuk dunia semakin hari semakin banyak menyediakan ‘kebahagiaan’ instan, seperti game online dan semacamnya, tanpa sadar membuat para pelajar semakin kehilangan semangat belajarnya. Betapa kebahagiaan sesaat semacam game online ini memabukkan dan mengesampingkan kewajiban menuntut ilmu, jika dibandingkan belajar dengan tekun yang akan baik pada akhirnya.

Pahit dan lelahnya belajar di era kecanggihan teknologi sekarang ini dapat ditinjau dari dua perkara, yaitu: Pertama, pahit atas lelahnya masa belajar; Kedua, pahit atas kesediaan meninggalkan segala macam ‘kenyamanan’. Seperti yang biasanya menggunakan handphone untuk bermain game, nonton film, maupun untuk sekedar bersenda-gurau maka dengan terpaksa meninggalkan zona nyamannya itu demi dapat menuntut ilmu di pesantren. Sebagaimana kewajiban pesantren yang menuntut santri untuk menanggalkan gadget (perangkat komunikasi elektronik) demi fokusnya keberlangsungan kegiatan belajar mengajar. Hal itu menuntut santri untuk bersabar dan meredam nafsunya untuk menggunakan alat-alat tersebut.

Implementasi sabar atas dua perkara kepahitan yang disebut sebelumnya merupakan tantangan tersendiri bagi Generasi Z (manusia yang lahir dalam rentan waktu 1995-2010). Mengingat mereka sudah terbiasa -untuk tidak mengatakan sudah terlena- oleh kenyamanan. Sehingga semakin sulit untuk menyadarkan bahwa untuk meraih sesuatu itu selalu disertai dengan pahitnya perjuangan. Semakna dengan hadits riwayat Bukhari-Muslim bahwa Rasulullah SAW sama sekali tidak khawatir umatnya ditimpa kemelaratan, yang Rasulullah SAW khawatirkan justru bila (kenyamanan) dunia dibentangkan atas umatnya kemudian dunia itu menghancurkan mereka karena telah terlena dengan fatamorgana dunia.

Meskipun demikian, bukan berarti pahit dan lelah itu membuat para santri menjadi berkecil-hati maupun patah arang. Justru pada tiap-tiap kesulitan selalu ada nilai dan kandungan hikmah. Betapa kita tahu bahwa semakin lelah kita berproses maka hasil akan semakin indah.  الاجر بقدر التعب, pengertian gampangnya hasil akan disesuaikan dengan kadar lelah yang dijalaninya. Jadi dapat dikatakan semakin sulit Generasi Z bersabar atas pahitnya nyantri (belajar menuntut ilmu), maka akan semakin besar pahala dan berkah yang akan dihasilkan.

Pendiri mazhab Syafi’i, Imam Muhammad bin Idris menyenandungkan syair untuk memotivasi para pelajar, beliau berkata:

ومن لم يذق مر التعلم ساعة … تجرع ذل الجهل طول حياته

“Barangsiapa tidak tahan atas pahitnya belajar maka bersiaplah untuk menanggung perihnya kebodohan selama hidupnya.”

Kandungan syair karya imam mazhab kita ini selaras dengan dawuh kiai saat memotivasi para santri agar terus sabar dalam mengarungi pahitnya belajar. Dengan bahasa yang lebih mudah dipahami beliau berkata, “Sompekkah monduk sakejjek, sompekkah buduh saomur odik” (penatnya belajar hanya sebentar, namun penatnya – menderita oleh – kebodohan akan dialami seumur hidup).

Terkait motivasi belajar para santri ini, Imam Syafi’i dalam lanjutan bait syair di atas menyebutkan sebuah kata yang dibilang cukup sarkastik, yaitu:

ومن فاته التعليم وقت شبابه  فكبر عليه أربعا لوفاته

yang artinya, “Barangsiapa tidak belajar pada masa mudanya, takbirlah kepadanya empat kali sebagaimana salat jenazah, anggap saja dia sudah mati. Imam Syafi’i berkata demikian tidak lain hanya untuk menyadarkan pemahaman santri bahwa ilmu sangatlah penting untuk kehidupan di dunia ini.”

Dari sini, penulis merasa perlu untuk mengutip percakapan Ibn al-Mubarak sang pemuka sufi, saat ditanya tentang siapa itu manusia. Beliau pernah ditanya: “Siapakah yang dapat dikatakan manusia?”

Beliau menjawab: “Ulama, orang berilmu.”

Lantas kenapa ibn al Mubarak menjawab ulama kala ditanya siapa itu manusia?

Dalam kitab ihya’ ulumiddin dijelaskan bahwa  yang membuat seorang manusia berbeda dengan binatang hanyalah ilmu saja. Sebab dalam aspek kekuatan, makan dan minum, berhubungan badan, manusia kalah jauh dari binatang. Dalam aspek kekuatan misalnya, unta lebih kuat dari manusia. Sedangkan dalam aspek keberanian, hewan buas lebih berani dari manusia. Lalu dalam aspek makan, manusia tidak bisa lebih banyak makan seperti sapi karena keterbatasan perutnya. Pun pula dalam aspek kekuatannya dalam bersenggama, burung pipit jauh lebih perkasa dalam aspek bersenggama dibandingkan manusia. Sehingga hanya dengan ilmulah yang dapat menjadi pembeda dan memberi nilai keistimewaan derajat manusia daripada yang lainnya.

Dari penjelasan di atas bisa dipahami, bahwa jika kita merasa manusia maka mau tidak mau harus belajar. Sebagaimana sabda nabi yang diriwayatkan oleh Abu Darda’:

كن عالما او متعلما او مستمعا ولا تكن الرابع فتهلك.

Artinya: “Jadilah engkau orang yang berilmu atau orang yang mempelajari ilmu dan atau orang yang mendengarkan ilmu, janganlah engkau menjadi orang yang keempat (selain orang berilmu, pelajar dan pendengar) karena engkau akan celaka.”

Oleh karenanya, sudah seharusnya bagi kita untuk tidak patah semangat dalam belajar. Dan di saat kita merasa kelelahan dalam menggali ilmu, sejenak kita kuatkan kembali keimanan kita. Kita kuatkan kesabaran, bersabar dengan ujian dalam menuntut ilmu, bersabar dalam ujian-ujian kehidupan dunia.Thariq bin Ziyad mengungkapkan, “Barangsiapa bersabar dengan kesusahan yang sebentar saja (dunia) maka ia akan menikmati kesenangan yang panjang (akhirat)”.

Penulis: Abdul Halim

Tulisan Buletin Pesantara Edisi 01

Leave a Reply

Your email address will not be published.