Headlines

Mencetak Manusia Ala Nyupote

Penulis: Sirojul Munir

Kecanggihan otak manusia dari zaman ke zaman semakin terbukti. Menguatkan pembuktian Allah kepada malaikat yang semula ragu atas kredibilitas Adam yang kelak diamanahkan untuk mengemban amanah sebagai Khalifah di muka bumi. Faktanya adalah tidak sedikit penemuan-penemuan baru tercipta dari otak manusia, mulai dari mesin-mesin canggih, teori teori sosial, ekonomi, dan sains yang telah dikaji dan menjadi fan ilmu pokok di beberapa jenjang pendidikan. yang kesemuanya sangat berpengaruh dan bermaslahat bagi kehidupan.

Namun tidak sampai di situ saja, otak yang telah terbukti kecanggihanya tersebut perlu pula diimbangi dengan asupan ilmu yang bersifat etika dan mengandung nilai ketuhanan. Sehingga kemudian kecerdasanya menjadi amaliyah ilmiah yang mendominasi dalam setiap keputusan dan langkah yang dijalankan. Isitilah guru saya, agar terciptalah manusia berotak Jerman dan berhati Makkah. Dan hal itulah sependek pemahaman saya mengemban amanah lembaga pendidikan di penjuru negeri ini yang harus dipegang teguh dan diterapkan dengan sebenar-benarnya, guna mencetak generasi yang mapan ilmu dan akhlak dan berguna bagi agama bangsa dan negara.

Atas dasar hal tersebut, sebagai santri yang sedang aktif di pesantren, saya berinisiatif untuk sedikit mengulas ciri khas pesantren yang menjadi almamaternya dalam kaitanya meningkatkan akhlak.

Sebagai santri yang masyhur dikenal dengan nama santri nyupote, penulis sedikit banyak cukup memahami karakteristik pesantren berbudaya Madura ini. Sebuah pesantren yang lebih mengedepankan etika dan akhlak daripada ilmu kepada santrinya, lebih mengedepankan kualitas dan kuantitasnya, hingga profesionalitas daripada formalitasnya.

Sebab hal itu, di pesantren ini kitab bernuansa akhlak dan adab, hingga akhlak tasawuf menjadi kajian utama di setiap tingkatan kelas mulai dari Ula seperti Bidayatul Hidayah dan syarah Ta’limul Mutallim, di tingkat Wustho seperti Maraqil Ubudiyah, dan Durrotun Nasihin di tingkatan Ulya, ditambah kitab Al Hikam yang selalu menjadi kajian tahunan setiap ngaji Ramadhan. Uniknya kitab-kitab tersebut tidak diujikan seperti kitab yang lain namun diulas secara detail sebagai hataman. Alasan dasarnya kata Ustad-ustad sepuh : “Akhlak tidak untuk diujikan melainkan diamalkan”.

Hal yang paling mendasar, sebuah bentuk cita cita besar pesantren dalam mencetak santri yang berakhlak yang mungkin tidak banyak disadari oleh kebanyakan santri pesantren ini adalah pembacaan tiga kalimat Tauhid lalu disertai doa permohonan cahaya petunjuk yang menjadi bacaan wajib setiap kali hendak memulai kegiatan belajar mengajar.

Perlu kita sadari, bahwa dalam kalimat tauhid inilah sebenarnya sebuah bentuk misi besar pesantren dan masyayikh dalam mendidik dan mencetak santri dari masa kemasa, bahwa pokok inti tujuan dari setiap proses perjalanan dalam perjuangan menjalani pahit manis pendidkan ma’hadiyah yang diprogramkan adalah untuk mencetak manusia yang bertaqwa. Hingga kemudian terbentuklah manusia yang berkeadaban dan berperadaban. Bahkan hal itu dapat dipahami sebagai Miqat dan Manhaj pesantren nyupote yang harus menjadi pegangan teguh semua santri santrinya.

Lalu pertanyaanya, sebagai santri di pesantren ini, dan mungkin pula berlaku bagi para alumninya adalah, sejauh mana kita menerapkan apa yang menjadi cita cita besar tersebut?. Bolehlah kita membanggakan Guru, dan pesantren kita ini, tapi tidakkah lebih baik sebaliknya?, yaitu dibanggakan guru dan pesantren karena akhlak yang telah dididik setiap harinya.

Leave a Reply