Oleh: Nur Komariyah *)

Suara mereka riuh, meminta apa yang mereka mau, antrian panjang seperti ular belasan meter, terkadang mereka berkerumun jadi satu bagaikan menyerang musuh sekaligus.

“Ah…! makanan itu mengundang  selera makan mereka.” Gumamku.

Rasanya menu ini spesial banget. Ikan tongkol, dengan taburan tomat dan cabai yang diiris-iris di atasnya, tahu masak kecap, kuah sop, sayur masam kacang panjang, manisa, terong dan sayur lainnya, telur masak bali dan telur puyuh. Ternyata ini yang telah membuat mereka rela berdesak-desakan, ditambah nasinya yang masih mengepul, menambah selera makan saja.

”Wuh… aku pun agelunyuk eber.

            “Mbak, saya mbak….”

            “Mbak, guleh mbak….”

            “Mbak, kulo mbak….”

“Ah…..! semua bahasa rasanya ada.”

Mereka para santri bilang lebih dulu hanya ingin diberi dulu menu-menunya, tapi aku pegang prinsip, “siapa yang cepat pasti kan dapat.”

Prinsip itu sangat penting agar diri tidak plin-plan dalam bertindak. Berprinsiplah semampu dan sebaik mungkin, karena hasilnya akan kita rasakan setelahnya.

Ada anak-anak santri hanya diam memandang menu-menu, jika di pikir-pikir kalau diam saja terus kami  sebagai pelayan Dekosan Santri Putri, jika pembelinya diam terpaku dengan menu-menu kasihan yang lainnya sama-sama ngantri.

“Ya, kalau anaknya hanya diam saja, mau dikasih apa entar,” pikirku.

Terkadang ada anak yang ketika sudah sampai di depan etalase mereka bingung mau pilih apa, semuanya dilihat mulai dari gorengan, sayuran, kuah sampai sambal pun jadi sorotan ekor matanya yang melihat ke sana-sini, mungkin benaknya bilang “Pilih apa ya…?”

“Mau menu yang mana ya…?”

“Ikan apa gorengan saja ya….?”

Jika sudah ada anak yang hanya diam sambil memandangi menu-menu masakan terpaksa kami bertanya.

“Hai Dek. mau menu apa? Kok bengong” tanyaku dan rekan-rekan yang lain.

Eh, hanya dibalas dengan senyuman. Sedangkan yang lainnya meminta tanpa henti biar cepat di kasih duluan. Jangan hanya diam saja jika kebutuhan pokok kita, yuk berusaha agar mudah tercapai, mudah didapat.

Suara mereka bak lagu pagi dan sore, semua suara bervariasi ada yang bariton, cempreng, lembut dan  suara itu menjadi hiasan.

“Tahu Mbak.”

Juko’ Mbak….”

“Tempe Mbak….”

“Sambal Mbak….”

Iwak Mbak….”

Oseng-oseng Mbak…..” Begitu banyak menu bikin pusing saja.

“Tempe selimut Mbak….”

Kami memberi sesuai dengan permintaan mereka. Berusaha untuk profesional. Anehnya lagi kok bisa ada tempe selimut, dari mana selimut itu di cantol-cantolkan sama tempe jadi lucu bukan.

Tempe selimut itu tempe yang diiris tipis tapi bentuknya lebar dan dibungkus dengan tepung terigu ada tambahan bumbu penyedap rasa terus digoreng. Aku pun juga ketagihan nih, sama yang namanya tempe selimut, jika kalian mencicipi tempe selimut, Kami yakin pasti ketagihan juga apalagi pas hangat.

“Emmm, enak banget.”

“Santri-santri ada-ada saja buat nama” Kataku suatu hari.

“Biar keren Mbak.” Kata mereka yang kebetulan lagi mengantre. Jawaban itu bikin ketawa yang  mendengarnya.

Samean iki Dek….”

“Santri nyebutin nama lauk pauk di sini aneh-aneh, tempe selimut, piring terbang, tempe basah. Kok bisa ya Mbak?” tanyaku pada rekan-rekanku waktu itu.

Piring terbang ialah jagung manis yang di pasat terus dikasih tepung terigu dan bumbu penyedap rasa. Dan di goreng lebar memang seperti piring saja lebarnya. Jadi santri menjuluki menu itu piring terbang.

“Apa kata anak-anak sudah,” jawab Nasyia enteng.

Beh! itu kan nama yang keren-keren Mbak,” timpal Cahya. Mendengar komentarnya aku dan Nasyia jadi ketawa juga. Nama menu Dekosan Santri Putri di Pondok tempatku menimba ilmu keren-keren, menjadi menu yang dirindukan. Ada juga ketika santri Alumni yang sudah menikah dan lagi ngidam tidak sedikit banyak alumni ngidam menu-menu di Dekosan Pesantren. Ada lagi yang sangat di sukai namanya Amburadul ialah semacam kuah bakso dan ada lontong, gobes, sawi, sladri dan bawang preng. Namanya lucu Amburadul

“Lucu bukan dan unik, tapi rasanya enak banget lohhhh”

                                                                        ***

Suatu hari seperti biasanya pada jam-jam yang sudah ditentukan, kami sudah siap untuk melayani santri yang mengantri.

“Mbak, ada tempe selimut?” tanya seorang santri.

Dak ada Dek, masih digoreng di dalam” Jawabku.

“Uhh! Kenapa ‘dak ada tempe selimut sih Mbak? Dengan muka cemberut.

“Dak ada tempe selimut, tapi adanya dadar jagung” jawabku seraya menunjuk satu talam dadar jagung yang ada di hadapannya.

Enggi pon, sebuh Mbak” sambil menyodorkan uangnya. Aku mengambil dua dadar jagung diberikan kepadanya, karena satu dadar jagung harganya lima ratus rupiah, murah kan. Lima ratus rupiah itu harga yang sangat murah.

“Terima kasih….” kataku.

“Sama-sama Mbak” berlalu pergi ke asramanya.

                                                                        ***

Bukanya Dekosan mulai dari jam 08:00 sampai jam 11:00, sebelum jam delapan pas santri sudah siap ngantri dengan kotak makan dan kartu catering nya. Sesudah menu ada di kotaknya ada anak yang masih nambah menunya.

“Mbak, nambah ikan tongkol dua ribu”

“Nambah tahu satu Mbak”

“Nambah dadar jagung dua Mbak?” Banyak anak-anak yang nambah menunya, bukan karena catering nya kurang, tapi mereka menginginkan menu-menu yang lainnya, dan tidak sedikit satu catering dimakan berdua. Kata mereka kalau satu catering di makan sendiri terkadang tidak dihabisin, rasa eman jika di buang sehingga mereka berinisiatif di makan berdua bersama temannya.

Itulah ala santri. Semua bisa memeriahkan hati, tapi terkadang ada juga yang membuat menjengkelkan dengan sikap dan tingkahnya, yah, itulah sifat seseorang, tidak semua memiliki figur yang sama, pasti ada perbedaan yang mencolok baik dari sisi tingkah dan bicaranya. Melayani santri memiliki suasana tersendiri terhadap diri sendiri. Minimal kita bisa saling tegur sapa, dan mengetahui mana santri yang baru dan yang sudah beberapa tahun menetap, bahkan bisa tahu mana yang ketua dan bukan.

Dengan menjadi staf Dekosan Pesantren Putri, banyak pelajaran yang harus disyukuri, saling berkomunikasi dan bersosialisasi.

                                                                        ***

“Mbak…”

“Mbak…..”

“Mbak….”

Sana-sini manggil Mbak, Mbak, sampai-sampai plempengen telingaku, kami bingung mau ditaning yang mana dulu. Aku pun tak omes tiba-tiba dengan suara lantang.

“Stop…!, diam!”

Suaraku walaupun agak kecil bisa juga lantang hehehe. Anak-anak yang ngantri diam, eh, ternyata hanya sesaat selang beberapa menit dari teguran itu riuh lagi. Aku hanya geleng-geleng kepala.

“Sabar…, sabar… ‘tak boleh marah, ‘tak boleh marah,” lirih dalam hatiku.

 Jam 08:00 kami buka Dekosan kami berdiri sudah mulai melayani sampai jam sembilan lebih. Rasa lelah, payah terasa begitu sangat. Badan pegal-pegal, karena melihat ekspresi mereka sedikit mengurangi rasa yang begitu sangat melelahkan, lengan yang terasa mati rasa setelah bergerak sekian lamanya, membuat terkadang hati ini mengeluh.

Cek sakeèn lengen” (sakit sekali lengan saya), namun rasa itu hilang dengan sendirinya setelah ada saja santri yang melawak.

Santri yang melihat menu kesukaannya, riangnya tidak terkira, tapi yang menunya masih dalam proses memurungkan wajahnya. Anak-anak tak pelak begitu doyan tempe selimut, bukannya dibuat menu makannya, tapi dibuat menu jajannya, sekali naruh satu keranjang kue, wah…sudah datang nih yang nyerbu, sampai pesan dulu.

Guleh Mbak…..lema ebuh

Guleh Mbak sebuh

Duibuh Mbak”

Untung saja tangan-tangan kami lihai, jadi cepat dalam melayani, itu disebabkan kebiasaan yang menjadi luar biasa sekarang. Tidak lain juga sudah memahami menu-menu yang diharapkan anak-anak. Awalnya kami kesulitan dalam melayani banyaknya santri yang mengantri, lambat laun cepat sendiri dan tangkas awalnya 2 jam, tapi sekarang satu jam bisa di atasi atau satu jam setengah.

“tak miloh lah” kata mereka yang mendapati hanya keranjangnya saja.

“Kasihan yang tidak kebagian” rilih batinku.

Gik aguring dek…..nanti ke sini” kata Nasyia.

Enggi Mbak” kata mereka dan berlalu meninggalkannya.

Mbak de’erreh?” ajak rekan kerja. Sieh rekan kerja katanya, hehehe. 

Ngireng” tanda setuju.

Mompong tadek sengantri, ayo kita isi bensin” celetuh Cahya. Ia langsung ambil talam, tuang nasi dan lauk pauknya, makan dengan memakai lima jari-jari tangan, terasa begitu nikmat. Dengan lima jari ini kami melayani santri dan dengan jari ini pula kami menikmati rezeki Allah SWT., yang merupakan makanan. Ketika perut sudah keroncongan tidak ada yang tidak enak, semua kan terasa nikmat dan lezat.

                                                                        ***

Jika ada teman dekosan yang udhur atau sakit, maka kami mencari bantuan kepada santri yang siap membantu, karena jika hanya dua orang saja maka akan kewalahan nantinya. Tiga orang itu sudah cukup, dua orang bagian menu satu orang bagian nasi jadi itu tidak akan kewalahan. Jika sudah rasa lelah datang kami tukar tempat, pokoknya saling melengkapi satu sama lain.

Namun sebagai manusiawi kami juga sering beradu argumentasi sehingga tanpa kami sadari sering mempertahankan pendapatnya. Dan Kami pernah tidak saling tegur sapa akibat kesalah pahaman yang di salah artikan oleh satu sama lainnya sehingga ada pertentangan, akibatnya saling diam  tidak banyak bicara.

Jika sudah seperti itu tegang jadinya senyum jadi mahal yang ada teng nyeroteng, mekabin ales katanya.

Pro dan kontra pasti ada, tapi itu tidak akan berlangsung lama tanpa di sadari kami akur sendiri. Teman, yang berjuang bersama di Dekosan Putri sekarang hanya ada kata rindu buat kalian. Salam semangat.

***

Pukul 17:00  Dekosan siap untuk tutup, tapi terkadang sampai adzan maghrib masih ada anak yang meminta menu, yang penting melayani. Lebih lagi yang menjadi kenangan sangat melekat jika sudah menu habis, nasi habis, menu tidak ada maka kami kompak bersama Mbak-mbak dapur bekerja sama.

Mbak-mbak dapur cepat menanak nasi dengan gerakan cepat, ditambah kompornya yang ikut andil, air sudah siap tinggal menghidupi langsung mencuci berasnya. Dan kami sendiri dengan sigap membuat menunya, tahu kecap, mie sawi dan tahu sedap.

Tahu sedap ialah tahu yang sudah matang namun tidak berasa apa-apa, jadi kami tinggal kasih bumbu penyedap rasa, kalau tidak kasih tidak dikasih bumbu buat kecap pedas jadi tahu pedas atau tahu sedap.

Setelah usai pukul sebelas terkadang ada saja anak-anak yang melewati batas jamnya alasannya banyak jika sudah di tanya.

“Kenapa baru belanja?”

Anuh Mbak, ghik asalen, ghik abejeng, ghik, ghik”

Banyak alasan sudah dari mereka. Ketika kami sudah meluruskan otot-otot yang lesu, masih ada santri yang datang, ketika badan sudah di rebahkan punggung sudah berada di tempatnya untuk merebahkan diri, mata terpejam ada suara memanggil.

“Mbak, belanja”

Mau tak mau bangun, jika pikir lelahnya malas untuk bangun, tapi Kami ingat bagaimana rasanya menahan lapar, kami sadar bagaimana ketika cacing di perut sudah menerjang-nerjang berteriak. Ahhhh! lapar buat tidak fokus pada kegiatan. Kami bangun memenuhi panggilan mereka, jika bukan saya maka Nasyia atau Cahya. Semoga kesabaran ini akan menjadi buah manis nanti di agama dunia dan akhirat. Aamiin

Ketika banyak yang mengantri terkadang kami sampai lupa makan, tak terasa waktu sudah siang sudah pukul sebelas, jika rasa lelah sudah menerka rasa lapar pun tidak terasa sehingga istirahat menjadi pilihan yang tepat buat sekujur badan yang sudah sedari tadi minta istirahat.

Ada keunikan dalam kebersamaan kami. Sehingga anak-anak santri menjuluki kami Kutu Buku, karena setiap hari kami diam bersama dengan buku dan koran harian yang tidak akan absen setiap hari pasti baca koran.

Kami memiliki kesenangan tersendiri, kebiasaan tersendiri bahkan kami memiliki hobi yang sama ialah suka membaca buku. Mbak Nasyia orangnya cerdas. Ia suka mengisi teka-teki silang yang biasa ada di koran mingguan Jawa Pos. Mbak Nasyia juga suka membaca cerita yang ada di koran tersebut, untuk berita juga tidak ketinggalan dari ekor matanya. Ia perempuan yang mempunyai talenta, suka membaca karya-karya penulis terpopuler seperti karyanya Sujiwo Tejo, Cak Nun jadi tidak heran jika orangnya cerdas. Ia pintar dan bicara apa adanya tanpa di tutup-tutupi yang penting benar. Dari sisi luar Mbak Nasyia kelihatan Cuek, sangat cuek itu menurut orang yang baru mengenalnya, tapi setelah berkumpul dan berinteraksi setiap hari akan mengetahui bahwa ia anak yang cerdas. Keunikan lagi, ia suka menggambar jika bakatnya terus di asah saya yakin ia akan menjadi pelukis, tapi ia tidak pernah ada niatan mengembangkan bakatnya. Cerita lucu yang membuat saya ketawa ia membuat naskah cerita pendek dengan judul Sisir dan Kutu membaca cerpennya saya ketawa tidak percaya saja, namun setelah saya lihat dan baca keseluruhannya saya sangat kagum ternyata Sisir dan Kutu memiliki hubungan yang sangat erat. Mbak Nasyia buat seperti komik dan gambarnya pun lengkap, saya benar-benar kagum kepadanya, tapi ya itulah ia, tidak berniat untuk mengembangkan bakat yang dimilikinya.

Teman yang satu ini Mbak Cahya, nama lengkap Cahyati ******* perempuan tinggi semampai dan cantik, pintar masak, dandan, ia perempuan yang selalu berbicara jujur meski pun itu akan membuat dirinya di gojloki atau ditertawakan atau lainnya, meski pun begitu Mbak Cahya orangnya humoris. Dari kejujurannya dan pintarnya bergaul sehingga ia banyak memiliki teman, Mbak Cahya tidak pilih-pilih dalam berteman, selama teman itu baik dan sesuai dengan etika berteman ia akan tetap berteman. Ia perempuan yang pintar dan cerdas, namun rasa malasnya lebih menguasai dirinya, namun jika sudah berniat untuk mengerjakan, maka itu akan di diselesaikannya. Ia suka membaca novel bergendre apa saja yang penting menyenangkan. Kepintaran dan kecerdasannya memang sudah sengaja ia tutupi, tapi jika sudah saling komunikasi atau saling sharing serta musyawarah, ia tunjukkan kepintaran dan kecerdasannya.

 Saya hanya suka membaca dan menulis, dari kesibukan di Dekosan tidak menjadi halangan untuk berkarya. Alhamdulillah jika antrean tidak ada saya bersenda gurau dengan pena dan buku sehingga lahirlah karya Dekosan ini dan cerpen-cerpen lainnya. Harapan dalam diri semoga manfaat dan barokah.

Dalam melayani kami tidak pilih-pilih apa itu ketua atau anak buah, jika namanya santri tetap santri tidak akan menjadi ketua santri atau anak buah santri. Jika mengantri semuanya juga harus ngantri, jangan merasa karena seorang ketua yang sudah lama mondok dengan seenaknya nyerombol atau mendahului santri lainnya, mereka cepat mengantri karena dorongan sebagai kebutuhan jadi sama. Ketua sama dengan santri lainnya, jangan merasa wah atas segalanya, karena ada masa di mana kita akan berada di bawah lagi tanpa kita sadari.

Kami tetap berprinsip sesuai antrian kecuali anak-anak kecil baru itu di layani secara khusus, karena tidak sedikit anak-anak santri yang di bawah kelas empat SD jadi khusus anak-anak kecil di layani lebih dulu. Kasihan jika menunggu mereka yang badannya lebih tinggi dan lebih besar. Kasihan juga jika mereka mengantri di antara santri lainnya apa itu bisa akan menjepit tubuhnya yang kecil.

Melayani kebutuhan pokok santri, ternyata punya hikmah tersendiri, kami saling tegur sapa, guyonan, bisa tahu kesukaan mereka. Dan satu lagi ini juga termasuk dari ibadah jika diniatkan dengan ikhlas.

Ketika mereka sedang melakukan kegiatan, tiba-tiba rasa lapar menyerang, jangan khawatir, tangan lihai kami siap memberi menu-menu sesuai permintaan kalian semua, tapi ingat… apabila itu pada jam-jam buka yang sudah ditentukan. Jika sudah jam tutup itu sudah waktunya kami istirahatkan badan yang sudah lelah.

Dari sekian kebersamaan ada yang menjadi keistiqamahan bersama ialah shalat sunah Dhuha, sebelum bereaksi di Dekosan, shalat dhuha menjadi teman bersama.

Melayani santri pasti tersimpan beribu-ribu barokah. Biarlah kami di sini melayani dan melayani hingga melayani yang melayani, jangan pernah menilai negatif tentang kami, meskipun hanya sebagai staf Dekosan, karena kami yakin pekerjaan ini mulia di sisi Allah SWT., di luar sana barokah akan menyapa kami.

Ada sebuah cerita ini juga tentang staf Dekosan. Suatu hari ia menjadi terpilih sebagai utusan daerah A sebagai peserta Qiraatul Kitab, awalnya anak santri putra itu menolak, tapi teman-teman dekosannya menyemangati sehingga ia menyanggupi. Sejak itu ia belajar jika ada anak santri meminta menu ia dengan sabar melakukan tugasnya, jika ada santri menyodorkan kotak nasi ia dengan sabar mengisinya, setelah sepi ia buka kitabnya, belajar lagi, jika ada anak santri meminta menu ia kembali lagi melayani santri-santri tersebut sampai selesai. Apabila waktu istirahat ia belajar lagi, semangatnya tumbuh dari motivasi-motivasi teman dekosannya.

Santri putra tersebut tidak jarang mendengar cibiran-cibiran santri-santri lainnya.

“Dekosan ikut lomba baca kitab, apa bisa?”

“Ia ya. Bukannya setiap harinya hanya ada di dekosan melayani santri lainnya”

Iyeh, benni ben arenah ghun bedeh e dekosan meloloh naning nasek ben jukok?”  itu sebuah pertanyaan, juga sebuah sindiran  yang ditujukan kepada Santri putra tersebut.

Namun janganlah hanya memandang fisik atau hal luarnya saja, karena tidak ada yang tahu isi hati seseorang, tidak ada yang tahu interaksi hati orang lain dengan Sang Pencipta, ia kita menilai ini dan itu, tapi kenyataannya ia seorang yang sangat dekat dengan Tuhannya. Jadi kita harus berbaik sangka, karena itu lebih baik.

Ketika waktu lomba sudah tiba Santri Putra dekosan itu mendapat nomor peserta paling belakang, semua peserta waktu itu santri-santri yang sudah mumpuni ilmunya dalam mengkaji kitab baik dari segi mengartikan, membahas, menerangkan bahkan bisa di kaitkan dengan kitab-kitab karangan ulama-ulama populer, sehingga santri putra dekosan merasa minder.

Setelah Nomor peserta trakhir dan namanya terpanggil untuk menaiki pentas, ia gemetar dengan menarik nafas dalam-dalam seraya ia berdoa

Ya Allah, Ajunan lebbi ngauningih sadejenah, Ya Allah parengih abdinah ka gempangan”

(Ya Allah, Engkau lebih mengetahui segalanya, Ya Allah berilah hamba kemudahan)

Usai doa yang sangat khidmat dalam hatinya ia berseru secara pelan.

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan mantap ia menaiki pentas dan duduk, di hadapannya ada kitab kuning yang ‘tak ada makna dan harkatnya. Ada beberapa juri yang senyum-senyum entahlah apa yang ada dalam pikirannya, mungkin juri itu juga mengetahui kalau kesehariannya hanya di Dekosan Santri Putra melayani santri-santri yang mengantri untuk kebutuhan pokok.

Santri putra dekosan itu melakukan adab-adab dalam perlombaan baca kitab sambil menenangkan hati, menegarkan keyakinannya bahwa ia bisa, sekuat tenaga ia berusaha tenang sambil menunggu Shohifah yang mana dan Bab apa yang akan di baca.

Setelah mendengar ketentuan bacaannya, bab apa yang akan dibaca ia sedikit lega dan senang, ternyata bacaan yang akan di baca merupakan isi kitab yang sangat ia fahami dan sampai ia hafal.

Dengan lancar, lugas serta padat penjelasannya, akhirnya, bacaan tersebut selesai akan berakhir pula lombanya, karena ia peserta yang terakhir.

Pengumuman pemenang akan sebentar lagi di bacakan, Santri Putra tersebut langsung pergi ke asramanya, karena ia sadar kalau bacaan kitabnya tidak sesempurna peserta lainnya, ia berganti pakaian dan akan segera ke Dekosan, namun tiba-tiba dirinya tercengang serta terkejut karena teman-teman asramanya menyongsong dirinya bersorak ria bahagia. Ia bertanya-tanya ada apa kenapa ia di perlakukan seperti itu. Ternyata eh ternyata Santri Putra Dekosan itu mendapat rezeki, ia juara satu dalam lomba tersebut, siapa yang tidak akan senang dan bahagia jika seorang santri yang kesehariannya memiliki kesibukan yang tidak di lakukan oleh santri lainnya bisa menjuarai lomba Qiroatul Kitab. Rasa syukur selalu ia kumandangkan dalam hatinya. Itulah alam, dan itulah rencana Allah yang tak di sangka-sangka.

Ada sebuah pepatah “Kerja keras tidak pernah menghianati hasil”

Itulah hasilnya dari seorang santri penjaga Dekosan Putra ia bisa juara, meskipun lelah, payah menerpanya masih menyempatkan membuka Kitab-kitab yang akan dilombakan.

Itulah sebuah cerita yang menyemangati Kami sebagai penjaga Dekosan Santri Putri, akan tiba waktunya di mana rasa lelah semoga menjadi lillah.

Keberkahan dalam suatu hal itu pasti ada, pasti ada. Bukan hanya pada ilmu atau pengabdian namun banyak hal. Pondok Pesantren juga memiliki keberkahan, yang mana keberkahan tersebut ada tiga.

1. Barokahnya Pondok Pesantren dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang sudah ditentukan di Pesanren. Mengabdi kepada Pesantren juga akan menuai keberkahan.

2. Barokahnya guru dengan mematuhi nasehat dan petuah-petuahnya, menjauhi apa yang sudah dilarang, mengabdi sepenuh hati.

3. Barokahnya teman dengan memberi hak-haknya teman sebagai mana mestinya.

Apabila kita sudah berusaha berjalan dijalan yang semestinya, jalan yang seharusnya Kami percaya bahwa semuanya akan ada hikmahnya sekecil apapun itu. Yang kami lakukan di sini pasti menyimpan seribu manfaat dan barokah. Aamiin itulah doa dan keyakinan dalam dada bahwa akan indah pada waktunya dan janji Allah tidak akan meleset.

Inysa Allah tiga barokah yang di sampaikan di atas semoga kami dapatkan di dalam agama, dunia dan akhirat. Aamiin…….

“Untukmu santri, janganlah nyerombol dalam mengantri, itu juga yang tertera dalam kitab Sullam Taufiq, bersabarlah, karena kita lagi menempa untuk menjadi masa depan yang cerah kelak.” Amin…..

Berjalanlah di mana seharusnya kita berjalan, karena di situlah akan ada kemenangan, jangan ambil pintas, atau keegoan karena itu semua akan berujung kepiluan.

*) Alumni PPMU BAKID

Leave a Reply