Cerpen Karya : Nur Komariyah *)

Kajian yang rutin dilakukan malam Selasa kini berujung pembekuan. Sebagian anggota kecewa dan sebagian lainnya santai-santai saja.

“Zainal. Gimana ini jika benar-benar di fakumkan?” Tanya Huda khawatir.

“Siapa sih yang bilang kalau kita tidak konsisten dalam forum?” Tanya Zainal kesal.

Mereka berdua saling bertanya-tanya kenapa forum kajian sejarah difakumkan dan siapa yang bilang bahwa mereka tidak konsisten dan tidak bertanggung jawab terhadap forum. Zainal beringsut pergi sambil menahan kesalnya.

“Nal tunggu!” Seru Huda sambil mengejarnya. Mereka beriringan sampai ke asrama D7, semua penghuni asrama D7 sudah menyelam dalam damainya tidur, bermimpi membawa dirinya dalam angan yang akan tergapai jika sudah terjaga.

“Nal. Ayo kita buktikan kalau kita bisa.” kata Huda sambil duduk di tempat pembaringannya.

Zainal menghembuskan napasnya keras “setidaknya kita mencoba dulu Nal.” kata Huda lagi.

“Kita akan memulainya dari mana?” Sanggah Zainal.

“Dari mana saja. Kita angkat cerita dalam cerita bagaimana?” Tanya Huda antusias.

“Itu sulit Da. Coba di pikir, kita masih amatiran dalam menulis mau menulis cerita dalam cerita? Itu berat.” Sanggah Zainal.

Mereka terdiam sejenak sambil rebahan di samping teman-temannya yang sudah terlelap.

“Kita tidur dulu. Siapa tahu besok punya ide untuk menulis.” kata Zainal sambil memejamkan matanya.

Huda masih terjaga, dia terus mencari ide menulis, bagaimana sekiranya tidak monoton, tapi tak kunjung ada juga ide naskah itu muncul.

“Seandainya aku seperti Habiburrohman penulis novel Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih mungkin sudah aku garap itu ide, tapi kok pikiranku buntu ya?” bicara sendiri sambil menatap langit-langit kamar asrama.

“Sudah Da. Kita istirahat dulu, sudah sangat malam.” Seru Zainal sambil memejamkan matanya, berusaha untuk tidur.

“Tumben kamu cepat istirahat Nal. Bukannya hari-hari biasa kamu tidurnya jam dua.” masih dalam posisinya menatap langit-langit kamar.

“Aku lelah.” jawaban yang simpel namun membuat Huda bungkam tidak bisa bertanya apa lagi, karena Huda sadar sejak tadi Zainal berusaha meyakinkan pengurus Pondok kalau dirinya bisa mengurus forum kajian sejarah, tapi tanggapan Zainal tidak ada respons sama sekali.

“Kasihan Zainal, ia berusaha agar forum kajian sejarah tidak terhenti, tapi hasilnya nihil.” batin Huda.

Jam empat pagi Zainal sudah siap mau berangkat ke masjid. Zainal membangunkan Huda, tapi Zainal sangat terkejut melihat Huda. Dia langsung menghampiri dan melihat keadaannya.

“Da. Kamu kenapa?” panik.

“Nal. Aku sangat kedinginan, tolong selimuti, tolong…” lirihnya pelan.

Zainal menyentuh dahi Huda “Kamu demam Da, tunggu sebentar saya akan kompres” seraya beranjak dari tempatnya buru-buru mengambil air dan handuk.

Zainal menjadi sangat khawatir melihat keadaan Huda, tapi Zainal tidak bisa terus terusan berada di samping Huda.

“Nal. Lebih baik kamu jamaah sana” suaranya parau.

Zainal tanpa banyak bicara langsung pergi ke Masjid ikut Shalat berjamaah Subuh.

Shalat berjamaah subuh banyak sekali faedahnya. Apalagi jika sebelum subuh melakukan shalat qobliyah subuh yang mana pahalanya sungguh sangat besar, bahkan melebihi dunia dan seisinya.

***

Baca juga : Cerpen : Berakhir Bahagia

Usai mengikuti kegiatan Pesantren serta melakukan semua kewajiban sebelum jadwalnya. Zainal melalukan itu semua, karena khawatir keadaan Huda yang demam tinggi.

Zainal membawa Huda ke Poskestren (Pos Kesehatan Pondok Pesantren). Huda demam tinggi dan diberi vitamin serta obat penurun demamnya.

Dalam perjalanan ke asrama, Zainal menghentikan langkahnya.

“Ada apa Nal?” tanya Huda pelan, karena kepalanya terasa sangat pusing, hingga Huda memutuskan untuk duduk di pinggiran taman yang berada di depan Poskestren.

Zainal hanya beranjak dari tempat berdirinya, dia mengambil secarik kertas yang agak jauh dari tempat duduk, kertas itu sudah lusuh, karena diinjak anak-anak yang berlalu lalang. Kertas itu bertulis Hamzah Sang Singa. Zainal memegang kertas itu setelah membaca senyumannya mengembang.

Melihat dari senyuman Zainal, berarti dia menemukan sebongkah berlian yang diangkat dari dasar lautan.

“Aku sudah menemukan harta karun Huda.” Antusias, membuat Huda bertanya-tanya.

“Harta karun apa?” tidak mengerti.

Zainal memberikan kertas kecil lusuh kepada Huda “baca ini” sambil menyodorkannya.

Huda membaca dan langsung menatap Zainal yang masih menampakkan kebahagiaan dalam dirinya.

“Nal. Bagus ini.” Serunya bahagia. Tanpa disadari wajah Huda menampakkan semringah, urat-urat sedih, pucat dan aura wajah yang diambil oleh Malaikat secara tak langsung terlihat di wajahnya.

“Kita harus mulai menulisnya dari sekarang, Nal” ungkap Huda tanpa pikir panjang.

“Tapi kamu belum sehat?” Tanya Zainal.

“Tidak. Aku sudah sehat, obat ini manjur” seraya menunjukkan kertas lusuh itu.

“Kamu benaran mau ikut menulis?”

“Kenapa Nal? Apa aku tidak boleh?”

“Bukan begitu Huda, tapi saya kepikiran kesehatan kamu.”

“Tenang. Aku  sehat, karena obat manjur ini.”

Zainnal dan Huda berjalan ke Perpustakaan Pondok, karena di sana ada sarana prasarana kepenulisan.

Zainal tanpa basa -basi dengan cepat mengetik di depan layar laptop.

“Sesosok laki-laki yang bertanggung jawab terhadap keponakannya Muhammad Saw. Setelah mendengar kalau keponakannya telah disiksa oleh Amr bin Hisyam alias Abu Jahal, laki-laki itu menjadi marah.

Di bukit Shofa, Amr bin Hisyam mencaci keponakannya yang tampan rupawan, baik akhlak, rupa, kehidupan individu dan kelompok. Tanpa disadari ternyata ada sepasang mata yang telah mengawasi kejahatan Abu Jahal.

Budak perempuan itu melihat dengan saksama apa yang  di lakukan Hisyam. Cacian, makian sudah seperti lalapan saja yang diutarakan di hadapannya, tapi Muhammad SAW tidak membalas walau sepatah kata pun.

Mata yang mengawasi sejak tadi ialah budak perempuan Abdullah bin Jud’ah at-Taimi.

Setelah mendengar keadaan keponakannya dalam keadaan lelah, letih tanpa hasil buruan membuat Hamzah marah. Hamzah hanya ingin mencari Abu Jahal dan ingin menghajarnya.

Hamzah berjalan cepat dengan wajah yang beku, dalam benaknya hanya ingin menghajar Abu Jahal. Ketika melihat Abu Jahal bersama kaumnya Bani Makhzum Hamzah menatapnya lekat-lekat dan memukulkan busur panahnya yang sangat keras. Kepala Abu Jahal berdarah.

Hamzah membentak Abu Jahal dengan perkataannya.

“Apakah engkau menghinanya sedang aku mengikuti agama dan membenarkan perkataannya? Balaslah ini jika engkau mampu!”

Bersatunya Hamzah dalam Islam membuat Kaum Quraisy takut dan waswas, karena Hamzah memberikan keuntungan moril kepada agama Islam.

Keberanian Hamzah membungkam orang-orang Quraisy. Peran Hamzah dalam perang Badar berhasil membuat pemerhati sejarah berdecak kagum. Ketangkasannya memantulkan cahaya Kematian pada pedang perak yang senantiasa ia pegang dan menjaganya. Gelar Singa Allah dan Rasulullah SAW dia sandang penuh dengan ketangguhan.

Singa pun mengaum kelaparan di daratan Badar, hingga banyak pengakuan dari sahabat kalau Hamzahlah yang membuat mereka (Quraisy) kalah, dalam perang Badar ada 313 pasukan Islam dan 1.000 pasukan Quraisy.

Mendung di daratan Uhud, karena Sang Singa bertasbih dengan menggerak-gerikkan pedang ke arah musuh hingga tanpa disadari ada sepasang mata selalu mengawasi gerak-geriknya. Mata itu terus mengawasi hingga entahlah bagaimana akhirnya senyum pemilik mata mengembang, karena ia akan merdeka.

Wahsyi seorang budak yang mengawasi Hamzah berhasil menancapkan tombak ke tubuhnya.

Umat Islam menangis sedih, usai perang Hamzah ditemukan dalam keadaan tubuh hancur terkoyak. Hatinya ke luar, dalam keadaan telah di kunyah. Hindun seorang perempuan yang memiliki dendam besar kepada Hamzah menuntaskan dendamnya dengan mengoyak tubuh serta mengunyah hati Sang singa yang berzikir dengan pedang mengilat menebas musuh.

Sang Nabi menahan gejolak batin memandangi tubuh Hamzah. Nabi ingin membalaskan perbuatan itu lebih kejam, namun Allah menurunkan firmannya surah an-Nahl ayat 126 yang berbunyi.

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”

****

“Alhamdulillah akhirnya sudah selesai.” Kata Zainal sambil merenggangkan kedua tangannya.

“Alhamdulillahhhh” puji Huda sembari membacanya.

“Nanti kita tempel di mading” kata Huda lagi.

“Pasti”

“Apa judulnya nih?” tanya Huda lagi.

“Tasbih Singa Gunung Uhud”

“Ok” kata Huda langsung.

“Meskipun tidak ada kajian sejarah lagi, kita harus tetap menulis sejarah dalam bingkai yang berbeda”  kata Zainal sambil merangkul bahu Huda, sebagai sahabat yang selama ini berjuang bersama untuk mengenalkan sejarah yang lumrahnya teman-teman tidak menyukainya.

“Huda coba bayangkan jika perbuatan keji Hindun mengunyah hati Hamzah saat beliau syahid dalam perang Uhud dibalas keji juga oleh Rasulullah Saw.? Mungkin akan membuat sejarah islam memiliki catatan kelam”

“Pasti. Dan Allah SWT., menurunkan firmannya. Memang benar adannya Nal. Pembalasan yang terbaik ialah memperbaiki diri sendiri untuk menjadi lebih baik. Jika sama-sama membalas apa bedanya kita dengan orang yang berbuat salah kepada kita, jadi inilah jalan terbaik buat kita, karena kita tidak mencari siapa yang telah menyalahkan kita kepada pengurus, tapi kita masih bisa menyejarahkan sejarah untuk tidak dilupakan oleh kawula muda”

Zainal menepuk-nepuk bahu Huda, dia sadar kalau Hudalah yang terus menyemangati kala dirinya berputus asa.

“Terima kasih sahabat” batinnya.

*) Alumni PP. Miftahul Ulum Bakid

Leave a Reply