Oleh : Ali Habsyi Kailani *)

Air mata Farhan kembali tumpah. Dia tidak tahu kepada siapa lagi harus berharap agar impian mulianya itu segera terwujud. Sebuah impian yang mengakar kuat sejak tiga tahun yang lalu.

Di kamar berukuran 4 kali 5 meter itu, Farhan berdiri memandangi foto di dinding, sambil menangis, foto bersama Ibu dan Ayah saat tubuh mungilnya berseragam toga dan baju kurung warna hitam. Tepat saat dirinya menaiki panggung kehormatan guna diwisuda bersama teman teman kelasnya. Kelas enam. Pikirannya kini di tarik kembali ke dunia tiga tahun lalu pilu itu, di  saat mendiang ayahnya mengecup kening Farhan  dan berbisik ketelinganya.

“Nak, setelah lulus ini, ayah ingin kamu menjadi santri, agar setelah ayah dan Ibu tiada nanti, kamu bisa mendoakan kami,”.

Waktu itu, Farhan yang lugu mengangguk penuh semangat. Sebentar lagi dia akan menjadi anak kebanggaan ayah, menjadi santri. Menjadi manusia yang bisa mengantarkan kedua orang tuanya ke dalam surga lewat doa-doa. Farhan masih lugu, tidak mengerti betapa berat dan pahit hidup ini bila tanpa kehadiran kepala keluarga.

 “Maafkan Emak, Nak.” Farhan segera mengusap bulir bening di matanya. “Emak tak bisa mewujudkan impian ayahmu itu,”

Emak Farhan, Laila, adalah perempuan yang tangguh. Dirinya sabar menjalani hidup bersama anak semata wayang meski tanpa tulang punggungnya. Taqdir Allah memang tiada yang tahu, manusia hanya bisa berencana, Farhan dan Emak Laila harus rido ditinggalkan tulang punggungnya, karena kecelakaan itu, nyawa ayah Farhan tidak tertolong.

“Sudahlah, Mak. Gapapa” Farhan mendekat ke Emaknya. “Farhan sudah tidak lagi memikirkan itu,” kata Farhan dalam pelukan Emaknya.

            Dalam hati, sebenarnya Farhan ingin membuang jauh-jauh impian itu, tapi selalu gagal. Saat keinginan itu datang, saat itu juga hatinya teringat pesan ayahnya. Farhan hanya bisa mengelus dada, karena hanya dirinya yang tidak seberuntung sebayanya. Pendidikan Farhan putus, karena hanya rupiah.

            ***

            Saban hari, kesibukan Farhan adalah membantu Emaknya, yaitu pergi ke ladang. Di usianya yang masih sangat muda dan haus akan  menjadi santri, Farhan  harus rela bergelut dengan kerasnya dunia, tidak ada pilihan lagi, Farhan bukan terlahir dari keluarga yag serba ada, alm ayah tidak meninggalkan warisan apa-apa selain  dua petak tanah berukuran empat kali tujuh meter di belakang rumahnya, sementara Ibu Laila juga tidak jauh beda dengan keadaan suaminya. Setiap hari, Farhan dan ibunya harus bersabar dengan keadaan yang menimpanya.

            Farhan adalah anak yang cerdas lagi tekun. Saat SD dulu, Farhan tidak pernah mendapat rangking selain nomer satu, dia selalu unggul dalam semua mata pelajaran mengalahkan teman-teman yang lain. Sampai-sampai Kepala Sekolah mengajurkan Farhan untuk melanjutkan ke sekolah Negeri saja, namun Farhan menolak sangat halus dengan berkata: “Farhan ikut ayah ,Bu”.

***

Sore Hari.

 “Assalamulaikum”

“Wa’alaikumsalam” jawab Farhan dari dapur dengan suara sedikit berteriak. Dia baru saja datang dari sawah dan sedang  membuatkan teh untuk dirinya dan ibunya.

“Loh, kamu im, bukannya sekarang kamu seharusnya ada dipondok?” kata Farhan bernada heran. “Mari masuk!” imbuh Farhan.

“Iya, Han, seharusnya si gitu, tapi saya pulang karena ada keperluan” jawab Baim menjelaskan.

“Keperluan apa?”

“Ngambil Ijazah dan KK”

“Buat apa?” tanya Farhan lagi, dia benar benar tidak mengerti. Bukannya di pesantren hanya mengaji dan belajar kitab kuning, kenapa harus ada Ijazah dan KK.

“Buat daftar UN, Han,”

“Emmmm,,,,” Farhan sedikit tertegun mendengar jawab Baim. Dia semakin sadar bahwa pendidikannya terputus sudah tiga tahun yang lalu. Dia kembali ingat pesan ayahnya saat wisuda itu. Ya Allah kenapa aku tidak seberuntung temanku ini.

“Ya Allah, Farhan kan satu kelas dengan saya, kenapa aku menceritakanya” sesal Baim dalam hati. Dia sama sekali tidak berniat untuk membuat hati temannya itu gundah. Tapi keadaanlah yang harus menjelaskan.

“Ya sudah Han, saya mau pamit dulu”

“Kenapa terburu-buru?”

“Masih belum fotocopy Ijazah dn KKnya”

“Assalamuakum”

“Waalikumsalam”

Farhan memandangi Baim yang semakin jauh melangkah. Hatinya gundah kembali. Seandainya ayah masih hidup mungkin aku akan sama seperti Baim. Hari ini akan pulang bersama dengan Baim untuk mengambil Ijazah dan KK, ya Allah apa sebenarnya rencana indahmu ini, sehingga aku harus tidak berpendidikan, bukankah ayahku menginginkanku  kebaikan? Bukankah aku akan mendalimi ilmumu? Lalu kenapa Engkau putus harapan ini, apa sebenarnya rencamu wahai Tuhanku,? Farhan kembali menangis.

*) Staf Pengajar Madin Miftahul Ulum Bakid

2 thoughts on “Cerpen : Ya Allah, Aku Ingin Mondok

Leave a Reply