Hafalan adalah sebuah kata yang tidak begitu asing bagi para pengghuni pesantren. Sebuah aktivitas yang sudah di kenal oleh para santri dari dulu hingga sekarang. Di beberapa pesantren tentu sudah ada lembaga khusus atau program yang memang untuk menghafalkan. Bahkan, bukan hanya lembaga khusus yang ada, tapi pesantren yang memang setiap harinya untuk menghafalkan pun sudah ada.

Di pesantren kita tercinta ini,telah berdiri sebuah wadah program menghafalkan yaitu Lajnah Tahfidzul Kutub atau yang sering kita kenal dengan sebutan LTK untuk para santri yang mempuyai keinginan untuk menghafalkan kitab ataupun nadham.

Program LTK di dirikan pada tahun 2015 awal yang di pelopori oleh beberapa asatidz waktu itu dan di sepakati oleh ustad Umar Faruq yang pada saat itu menjadi pendidikan pesantren. Dalam satu tahun itu, tepatnya pada tahun 2015 program LTK berjalan dengan lancar dan memfokuskan pada kitab yang berbentuk nadham yaitu Imrithi dan Alfiyah. Pada tahun tersebut target hafalan nadham Imrithi harus bisa faham sekaligus bisa murod, sedangkan nadham Alfiyah hanya di tekankan pada nadhamnya terlebih dahulu, melihat banyaknya bait nadham di kitab Alfiyah dari pada nadham Imrithi. Mungkin LTK yang telah berdiri sudah lama, hanya terdengar di tahun sekarang. Memang  dulunya LTK masih banyak kendala-kendala yang masih perlu di perbaiki, dan program LTK pun sempat mauquf selama lima tahun , baru ditahun ini LTK telah berjalan untuk membina para santri yang mempunyai keinginan untuk menghafalkan kitab ataupun nadham.

Memang di pesantren sudah ada program muhafadhah namun program tesebut merupaka program murni dari pesantren yang bersifat seperti lomba antar kelas. Sedangkan LTK merupakan wadah bagi para santri yang mempunyai keinginan menghafalkan, seperti halnya program tahfidz quran di pesantren, yang mana bukan untuk di perlombakan.

Adanya program LTK adalah untuk mencetak kader santri yang hafal (tahfidz) kitab ataupun nadham. “Kami berharap adanya LTK bisa mencetak santri yang hafal kitab atau nadham” ucap beliau ustad Muayyani selaku Pembina LTK dari luar. Kitab dan nadham yang di hafalkan, ada bermacam-macam fan seperti halnya Imrithi dan Alfiyah (yang berbentuk nadham) fathul qorib, fathul mu’in dan bulugul maram (yang berbentuk kitab).

KBM (kegiatan belajar mengajar) yang di lakukan pihak LTK bisa dibilang waktunya cukup terbatas, yaitu setelah kajian kitab ba’da isya’ (jam pertama), dan di waktu pagi pada jam 06.00 WIS sebelum kajian sullam kelas 2 MID ke bawah. Sejauh ini, kegiatan mengajar LTK ada di dua waktu ; pagi dan malam. Pagi digunakan untuk pemahaman atau pendalama materi dan malam untuk setoran dan taqror (mengulangi hafalan) itupun jika ada pembina yang mengajar, mengingat kendala pengajar yang terbatas. Oleh karena itu pihak LTK berharap adanya asrama khusus pagi para santri yang menghafalkan. Seperti di pesantren yang telah memiliki asrama khusus tersebut. Mungkin dengan adanya asrama khusus bisa menfokuskan para santri untuk menghafalkan.

Di tahun sekarang santri yang sampai pada target  hanya di bidang kitab nadham Imrithi dan pesertanyapun lumayan banyak. Untuk fan-fan yang lain menyusul, seperti nadham Alfiyah, bulugul maram dan fathul qorib. Kalau dibilang daya ingat para santri yang menghafalkan itu lemot dan memang seperti itu kenyataannya sekarang, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Semangken kemampu’ennah cah kancah se ngapallagi hanya seket persen (50%) be bawah, bideh sareng taon e duibuh lema belles (2015) segik skeet  persen ke atas, mangkanah kuduh cek openah oggu mangken”, tutur beliau menggunakan bahasa Madura.

Disini pihak LTK hanya membantu para santri yang menghafalkan agar bisa sampai pada target yang dituju. Bisa tidak bisa itu adalah masalah perorangan, seperti apa yang ustad Muayyani katakan di atas, kemampuan daya ingat kawa-kawan sudah beda dari yang dulu. Tapi jika kita sebagai penghafal yang memang ingin dan niat, tentu akan terus berusaha sampai pada titik yang dituju. Apalagi, posisi kita sekarang sebagai طلب العلم (orang yang mencari ilmu) yang sudah sepatutnya kita berbaur dengan yang namanya hafalan. Ada salah satu pepatah yang berkata “Ilmu tanpa hafalan itu kurang sempurna, kalau dikombinasikan antara ilmu dan hafalan maka itu yang sempurna.”

Semoga dengan adanya wadah menghafalkan di pesantren kita yaitu program LTK ini, bisa lebih membawa minat para santri untuk menghafalkan, yang mana ini memang sudah menjadi tradisi santri dari senior-senior terdahulu.

Adit & jidan/eL-Hijrah

Leave a Reply