Di suatu waktu kalian terbangun dari tidur nyenyakmu. Itu adalah rumahmu, dirimu sedang berada di dalam kamar, di atas tempat tidur. Perlahan kau berjalan menuju ruang tengah, di luar terlihat ibu, ayah, kakak, adik, beserta seluruh keluargamu telah berkumpul di sana. Namun ada yg aneh, mereka semua menangis.

“Ibu ayah kenapa semuanya menangis?” Tak ada yg menjawab pertanyaanmu.

“Mungkin mereka tidak mendengar suaraku” batinmu.

Engkau pun mendekat, agar suaramu lebih terdengar.

“Ibu ayah kenapa semuanya menangis” tanyamu sekali lagi. Lagi lagi pertanyaanmu menyisakan jawaban kosong.

“Hey kenapa semuanya menangis?” Kali ini kau sedikit berteriak, agar mereka merespon kata katamu. Jangankan menjawab, mereka seperti tidak merasakan kehadiranmu.

Parasaanmu sedikit jengkel dan marah, tanganmu berusaha menyentuh dan menggoyang bahu kakakmu. Namun ada yg aneh, tanganmu sama sekali tak menyentuh bahunya, kulitmu menembus seperti di film Casper yg pernah kau tonton sewaktu kecil. Kau berlari berusaha menabraknya, namun tubuhmu menembus tak mengenainya sama sekali.

Kau terpaku keheranan dan mulai berpikir ini adalah mimpi. “Mimpi yg aneh” gumammu dalam hati. Sembari berharap untuk cepat cepat bangun dari mimpi aneh yang sedang kau alami.

Tak lama kemudian di luar rumah terdengar ramai suara orang orang. Kau pun keluar untuk melihatnya,”Mengapa orang orang berkumpul di rumahku” gumammu dalam hati. Dan sekali lagi kau berpikir ini adalah mimpimu yg aneh.

Tapi ada yg lebih aneh lagi, dari arah depan orang orang membawa keranda mayat sekaligus peralatan peralatan tajhizul mayyit lainnya. “Siapa yg meninggal? Mengapa orang orang membawa keranda mayat ke rumahku”. Kau masuk lagi ke dalam ingin bertanya pada keluargamu. Ah… tapi sia sia, keluargamu hanya menangis semakin menjadi. Dan pikiran itu tiba tiba saja berkelabat… secepat nya kau berlari kedalam kamar, menghiraukan segala hal yang baru terjadi. Tiba di dalam kamar mata mu melebar, dirimu mematung.

Perlahan kau melangkah mengahampiri tubuh itu. Mata terpejam tak ada syaraf penyanggah, bibir pucat berbau kematian, jantung tak lagi memompa darah ke sekujur tubuh. Engkau melihat dirimu sendiri terbujur tak berdaya.

Ingatanmu kembali lagi pada saat dimana kalimat talqin mengalun lembut di telingamu. Sanak keluarga menumpahkan tangis di sisi kiri kananmu. Rasa sakit seperti kambing di kuliti hidup hidup memang benar benar terjadi, pada saat ruh secara perlahan meninggalkan setiap anggota tubuh.

Dari arah pintu kamar orang orang berdatangan melewati ruhmu yg masih terpaku. Jasadmu di angkat dan di bawa keluar. Kau masih belum percaya bahwa itu jasadmu. Kau mengikuti nya dari belakang. Di luar kau melihat sendiri jasadmu yg di mandikan, di kafani dan di shalati.

Saat itulah tangismu mulai tumpah, kau berteriak sejadi jadinya, teriakanmu terdengar menyedihkan, namun sia sia saja, tak ada lagi orang yg bisa mendengarkan, tak ada lagi yg bisa menolongmu. Terbayang segala rekam jejak hidup yg kau jalani, masih belum cukup bekal untuk di bawa  ke hadapan ilahi rabbi.

                                                                                ***

“Kullu nafsin dzaaiqatul maut”. Apa yang kalian pikirkan pada saat orang orang terdekatmu meninggal? Apakah mereka juga mengalami hal yang terjadi pada renungan di atas? Atau barangkali kematian itu hampir mirip seperti saat kita baru terbangun dari tidur? Sampai saat ini, belum ada satupun teknologi ataupun penelitian yang bisa mengungkapkan tentang misteri kematian. Namun kematian seperti wabah yang akan menyerang siapa saja, meninggalkan tangis yang mendalam, dan dapat memutus tali kekerabatan.

Kawan, hidup itu adalah pilihan. Tentang bagaimana kita mengemban tanggung jawab masing masing. Bukan tanggung jawab keturunan, kerabat maupun teman. Apa yang kita lakukan pada saat ini kelak kitalah yang akan menanggungnya. Rehatlah sejenak, lepaslah semua pekerjaanmu. Ada saat dimana kau harus beripikir bahwa maut tidak pernah menuliskan tahun, hari maupun tanggal. Tapi ia pasti akan datang menghampiri tiap hembusan nafas seorang insan. Sekian.

Leave a Reply