PERNAHKAH kalian menonton sebuah film dengan adegan aksi yang menarik ?. jawabannya pasti iya. Karena hal tersebut merupakan sesuatu yang definitif pada era sekarang ini, ditambah lagi dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat menjadikannya sangat mudah untuk ditemui.Bahkan sebab terpublikasikannya film-film tersebut tidak sedikit juga yang adiktif akan eksistensi dari film itu sendiri, seakan menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Jadi tak ayal, jika smartphone, laptop atau memori kita banyak koleksi dari bernagai film-film menarik baik adegan dalam aksi, perang, sejarah, romantis, anime atau dari segi lainnya.

Baca juga :

IDEOLOGI TRANSNASIONALISME: TANTANGAN IKSABA

Seringkali seusai kita menonton film, pikiran kita melayang-layang karena terbawa alur cerita film tersebut. Sebenarnya kalau kita lebih spekulatif dalam mencermati esensi dari film itu sendiri, tentu kita tidak akan terlalu tenggelam dan terbawa perasaan atas adegan dari lakon (actor)nya istilah kerennya baper. Hal ini disebabkan, karena film hanyalah sebuah drama  yang diperankan oleh actor berdasarkan atas intruksi dari sutradara. Jadi semua aksi yang kita lihat hanyalah cerita fiktif yang tendensinya mengarah pada hayalan dan imajinasi belaka, sehingga tak jarang isinya mengandung distorsi dari kenyataan yang ada.

Dari pembahasan di atas penulis mencoba mengaitkannya dengan kehidupan yang saat ini kita jalani.

وتلك الأمثال نضربها للناس و ما يعقلهاالا العالمون

Artinya :“Dan perumpamaan-perumpamaantersebut kami jadikanuntukmanusia, dantidakakanmemahaminyakecuali orang yang berilmu” (Q.S al-ankabut: 43)

sejatinya kita hidup di pesantren tak ubahnya pemeran film (drama) yang sedang melakukan lakonnnya masing-masing. Bahkan, bisa dikatakan pesantren lebih dramatis dan substansial dari pada drama yang kita kenal. Betapa tidak, dalam suatu adegan drama misalnya sang aktor akan melakukan aksinya atas intrusksi dari sutradara dengan kata lain ia melakukan sesuatu bukan atas dasar dirinya sendiri melainkan ada intervensi dari pihak lain. Lain halnya dengan kehidupan pesantren yang mencerminkan kehidupan sebenarnya. Seorang santri akan melakukan kewajibannya sebagai santri secara otomatis, ketika sang santri tersebut menyandang suatu jabatanstaf keamanan pesantren misalnya, nah pada saat ada santri yang melanggar peraturan pesantren maka keamanan tersebut secara otomatis tanpa disuruh seorang pun dia akan menindak pelaku tanpa memandang dia punya jabatan, teman dekatnya atau bahkan kakak kelasnya.

Secara general semua adalah santri sama-sama muridnya kyai, saru barisan satu tujuan. Walaupun ada perbedaan itupun hanyalah lakon kita dalam memainkan drama di pesantren.pada artikel ini penulis mengistilahkan drama, karena pada saat kang santri menjalanan tugas sesuai predikat yang disandangnya esensinya bukan dia yang melakukan, melainkan ia hanya sebagai lakon atas pengejewantahan tugas atau amanah yang di embannya. Gambarannya demikian, dalam kelas sekola baik formal maupun nonformal semuanya teman sekelas. Di luar kelas jika ia memiliki jabataban maka posisinya berada di atas mereka yang tidak memiliki jabatan. Semisal staf keamanan pesantren atau staf pendidikan, siapapun yamng melanggar aturan pesantren sudah menjadi kewajiban bagi keamanan untuk menindaknya dan bagi pendidikan untuk memberikan penyuluhan sebagai didikan untuk anak tersebut meskipun ia teman karibnya. Nah, pada giliran kajian Al-Qur’an semua mutaallim baik yang memiliki jabatan atau tidak semuanya harus patuh terhadap muallimnya meskipun ia tidak menyandang apapun dalam staf kepesantrenan. Singkatnya, mereka hanya sedang memerankan lakon atas amanahnya masing-masing, ini yang disebut penulis sebagai drama yang sebenarnya.

Ironisnya, realita tersebut banyak menjadi kesalahan pahaman diantara kawan santri, tatkala ada teman karibnya menjadi staf pesantren mereka berubah acuh tak acuh kepadanya, padahal sejatinya dia tetaplah sahabatnya namun, dalam melaksanakan tugasnya ia bertindak tidak berdasarkan kemauan dirinya melainkan tuntutan yang memaksakannya sedimikian rupa.

إنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلىَ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah  menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”(Qs. An-Nisa: 58)

Jikakitatelahmerenungkanhalini, setidaknyaakanterlintasakansedikitkesadaranuntuksalingmemahamisatusama lain. Karenaالتفهم سر الحياة “salingpengertianadalahkuncikesuksesan. Dengandemikian, kitamenjalani proses belajar di pesantrendenganlancar.

Penulis : Abdul Qodir

Leave a Reply