Oleh : Siti Nur Khofifah *)

Saat mentari pagi itupun telah menampakkan senyumnya menyinari sang bumi yang kini telah nampak cerah dengan langitnya yang berwarna biru, lengkap dengan awan putih dan sepoian angin yang juga ikut melengkapi suasana di pagi ini, begitupun dengan kicauan-kicauan burung yang terdengar merdu. Panggil saja Nada, seorang gadis cantik yang sedari tadi sudah siap berangkat ke sekolah lengkap dengan kerudung putih, baju putih dengan rok dongker yang tengah digunakannya sekarang. Berangkat ke sekolah Nada sering di antar jemput oleh kakaknya, Hasan. Meski wajahnya yang terlihat cantik dan manis, namun tak jarang Nada malah di buli oleh teman seangkatannya kelas IX, tak jarang hinaan dan cacian dia dengar akibat kelainan otak yang ada pada dirinya itu.

“Cantik, cantik, eh tapi sayang, otaknya bego amat sih.”

“Gimana kalau UN nanti, pasti dia gak bakalan tuh dapat nilai 100, jangankan nilai 100, lulus aja udah alhamdulillah, haa…haa…”

“Lulus? dia lulus, gue yakin dia gak bakalan lulus dari sekolah ini, naik kelas aja karena orang tuanya yang ngemis-ngemis ke Kepala Sekolah.”

“Udah cukup …” ucap Nada penuh air mata mendengar cacian dan hinaan dari teman-temannya itu. Bahkan diapun sekarang langsung pergi entah kemana. Sedang teman-temannya hanya bisa tertawa melihat Nada.

“Kalian benar-benar keterlaluan.” ucap Haris yang memang mendengar semua cacian dari Rena dan teman-temannya yang lain.

“Ngapain sih Ris, kamu belain Nada segala udah tahu dia oon banget jadi anak, dia itu gak pantes sama kamu.” ucap Rena kesal

“Udahlah, terserah kalian.” ucap  Haris yang langsung pergi meninggalkan Rena dan teman-temannya.

“Astaghfirullah hal’adzim.”ucap Nada yang tiba-tiba saja bangun dari tidurnya.

“Ya Allah, kenapa mimpi itu datang lagi.”ucap Nada lagi masih tetap mengelus dadanya.

Kejadian 3 tahun silama itu memang sering hadir dalam mimpi Nada belakangan ini, mimpi yang selalu membuatnya sedih ketika kejadian itu diingatnya. Sejak lulus dari sekolah SMP, Nada memang langsung meminta melanjutkan sekolah SMA nya di pesantren. “An-Nur” nama pesantren yang ketika itu menjadi pilihan Nada untuk melanjutkan sekolah SMA nya.

“Kenapa Nada ?” tanya Avril, teman sekamar sekaligus teman akrabnya.

“Mimpi itu lagi ya..?” tanya Avril lagi menebak.

“Iya Ril.” Jawab Nada singkat.

“Ya udah, kamu tenang ya, aku akan ambilin minum.” Ucap Avril yang kemudian langsung pergi meninggalkan Nada sendirian di kamar pesantren.

“Ya Allah.” Gumam Nada pelan. Dan tak lama kemudian Avril pun datang dengan membawa segelas air minum yang kemudian langsung dijulurkannya pada Nada. Kontan saja Nada pun langsung meminum air yang di bawa Avril tadi.

“Makasih Rill.” Ucap Nada singkat setelah selesai meneguk air minum tadi. Avril pun kemudian hanya merespon ucapan Nada dengan anggukan kepala.

“Gimana kalau kita langsung sholat tahajjud saja, Da. Udah jam 02.30 tuh.” Ucap Avril sambil melirik jam tanggan yang ada di tangan kirinya. Nada pun kemudian langsung mengiyakan ajakan temannya itu untuk segera melaksanakan sholat tahajjud.

                                                             ***

Ya Allah … Ya Rabb.. Entah kenapa, hamba juga tidak tahu kenapa mimpi masa lalu itu belakangan ini selalu hadir dalam tidur hamba, Ya Allah. Sesungguh Engkaulah yang lebih mengetahui alasan dari semua itu, Ya Rabb. Sekarang hamba begitu bersyukur dengan semua karunia dan pemberian dari-Mu ini, terima kasih Ya Allah. Terima kasih karena Engkau telah menormalkan kembali fikiran hamba, semoga Engkau meridho’i setiap jalan yang hamba langkahkan ini. Semoga tersimpan juga keberkahan atas segala hal yang telah Engkau gariskan pada hamba Ya Allah, kabulkanlah do’a hamba ini. Robbana atina fiddunya hasanah wa fil a khiroti hasanah wa qina ‘adza bannar. Isma’ du’aana ya Allah istajib du’aana ya Allah wal hamdulillahi robbal ‘alamina, Amiin.”

Itulah kira-kira do’a yang Nada panjatkan setelai selesai sholat tahajjud. Setelah itu Nada kemudian lansung bermurojaah dengan kitab suci yang sudah menjadi temannya setiap hari. Memang sejak 3 tahun yang lalu setelah Nada memutuskan untuk meneruskan sekolahnya di pesantren, dan setelah kelainan itu menghilang dia bahkan sekarang selalu menjadi murid teladan di kelasnya, beberapa kali ikut lomba tahfidz di pesantren dan juga sering mendapatkan juara. Hingga kemudian Nada pun sempat diutus menjadi perwakilan pondok pesantren “An-Nur” untuk mengikuti lomba tahfidzse Provinsi Jawa Timur.

“Allahu akbar… Allahu akbar …” suara adzan subuh yang terdengar begitu lantunnya dari speaker masjid pesantren An-Nur. Bahkan di dalam masjid maupun di musholla putri pun sudah banyak santri yang bangun dan duduk di musholla sembari menuggu asatidzah yang akan mengimami sholat subuh kali ini.

                                                ***

“Nada.” Panggil B.Nyai Romlah.

“Enjeh, umi.” Jawab Nada sopan.

“Besok aku mau pergi ke Yogyakarta ke dalemnya kiai Arifi, kamu ikut ya, InsyaAllah Cuma 2 hari saja.” Ucap B.Nyai Romlah dengan santai.

“Enjeh, umi.” Jawab Nada singkat.

Meski baru 1 tahun Nada menjadi khadimah B.Nyai Romlah di pesantren An-Nur ini, namun karena sifatnya yang lemah lembut B.Nyai Romlah pun lebih senang pada Nada. Bahkan menurut teman-temannya  dipesantren Nada malah di bilang santri beruntung dan istimewa. Selain cantik, sopan, ramah, lemah lembut, pintar dan baik Nada juga santri hafidzoh sekaligus khadimah yang paling dekat dengan B.Nyai Romlah.

                                                            ***

Sang mentari itupun kini telah terbit di ufuk langit sana,memancarkan sinarnya begitu cerah. Seusai sholat subuh berjama’ah tadi, Nada memang langsung menyiapkan semua barang-barang yang diperlukan oleh B.Nyai Romlah sekeluarga dan juga keperluannya sendiri selama meginap di Yogyakarta 2 hari.

“Gimana Nada, sudah kamu siapkan semua barang-barangnya?” tanya B.Nyai Romlah.

“Enjeh umi, sudah kulo siapkan semua.” Jawab Nada lembut.

“Ya sudah, ayo kita berangkat.” Ajak B.Nyai Romlah, kemudian kontan saja Nadapun langsung berjalan mengikuti B.Nyai Romlah dari belakangnya sambil membawa semua barang-barang yang di perlukan sekeluarga. Setelah semua rombongan sudah masuk ke dalam mobil, supir pun kemudian langsung melajukan pelan-pelan mobil yang di bawa itu.

“Nada.” Panggil B.Nyai Romlah.

“Njeh ummi.” Jawab Nada singkat dan sopan.

“Boleh ummi mendengar kamu melantunkan ayat suci Al-Qur’an ?” Pinta B.Nyai Romlah.

“Njeh ummi.” Jawab Nada singkat dan sopan yang kemudian langsung di iringi dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang di bacanya hingga tak terasa selama perjalanan 2 setengah jam. Akhirnya mereka semua sudah sampai di depan dalem Kiyai Arifi di Yogyakarta.

                                                      ***

“ Sepertinya mba Romlah, membawa khadimah baru?” tanya B.Nyai Iis

“ iya dik,dia khadimah baru 1 tahun ini di pesantren,tapi nggak tahu kenapa saya suka dengan smua sikap dan perlakuannya itu’’jawab B.Nyai Romlah santai.

“sepertinya mbak,khadimah yang di bawa oleh mbak Romlah itu,suatu saat nasibnya akan beruntung dan akan menjadi pengasuh pondok pesantren’’ucap B.Nyai Iis santai yang juga di sertai senyum.Sedang B.Nyai Romlah sendiri hanya bisa diam mendengar ucapan adik iparnya itu,karna beliau sendiri sudah mengerti dengan maksud B.Nyai Iis

                            ***

        2 hari di Jogjakarta itu memang terasa sebentar bagi B.Nyai Romlah dan keluarganya,namun selama 2 hari itu juga Nada merasa begitu krasannya berada di dalam Kiai Arifi itu karna memang dai sangat di perlakukan nyaman oleh keluarga Kiai Arifi di sana.Bahkan B.Nyai Iis sendiri sudah menganggap Nada seperti anaknya sendiri,tak jarang juga Nada bermurojaah hafalan Al-Qur’annya di temani oleh B.Nyai Iis.

                             ***

         Waktu memang berjalan begitu cepatnya,hingga tanpa terasa ujian nasional tingkat SMA itu sudah berlalu 3 bulan yang lalu.Bahkan hari ini,hari di mana semua siswa –siswi SMA di pondok pesantren An-Nur akan mendapatkan surat kelulusan.Pagi itu seperti biasa,nada masih saja sibuk di dapur dalem menyiapkan makanan untuk B.Nyai Romlah sekelurga.

      “nanti siang,kamu pasti mau ambil surat kelulusan ya da?”tanya mbak ningrum.

      “iya mbak,doakan saja semoga saya lulus”pinta nada dengan sopan.

     “tenang,pasti mbak do’akan”

    Jam memang berputar begitu cepatnya,siang ini Nada sudah siap dengan segala tawakkalnya pada Allah,siap dengan segala keputusan yang akan di terimanya kali ini.

      “Nada,ini punya kamu”ucap Avril penuh senyum sambil menjulurkansebuah surat yang di bungkus dengan amplop berwarna putih itu.Nada pun kemudian kemudian langsung mengambil surat yang di julurkan Avril dan membukanya dengan bismillah.Air mata haru itupun kemudian langsung mengalir begitu derasnya di pipi kanan dan pipi kirinya,terharu karna dialah ternyata mendapatkan pringkat pertama Ujian Nasional se-Provinsi,bahkan banyak juga tawaran bea siswa yang di dapatkannya.

       “selamat ya”ucap Avril penuh senyum yang kemudian langsung memeluk nada.

      “makasih ril”ucap Nada sambil menghapus air mata yan sedari tadi mengalir itu.

                          ***

Sebulan kemudian,sudah banyak santri yang lulus dari SMA An-Nur,pulang dan pamit boyong dari pesantren karna ingin melanjutkan kuliahnya.Sedang Nadapun masih tetap memilih di pesantren untuk beberapa bulan ini.

“kau mau melanjutkan kemana?”tanya B.Nyai Romlah pada Nada

“teman-temanmu yang lain juga sudah banyak yang pamit boyong dan melanjutkan kuliah di kampus impian mereka”lanjut beliau lagi.

“insyaallah,saya tetap di sini saja ummi,saya ,asih belum kefikiran soal nerusin kuliah”jawab Nada santai dan sopan.

“kalau itu,memang terserah kamu Nada,ummi tidak akan melarangmu untuk tetap jadi khaddimah,tapi masak iya,siswi peringkat pertama seprovinsi,masih tetap jadi khaddimah,gak mau nerusin kuliah?kan sayang bea siswanya kalok gak ada yang di ambil”

“kalau soal itu ummi,Nada sama sekali tidak keberatan jadi khaddimah di pesantren ini karna yang masih Nada harapkan hanya barokah dari pesantren ini,juga barokah dari abah dan ummi”ucap Nada penuh senyum dan keikhlasannya untuk tetap menjadi khaddimah di pesantren An-Nur ini.B.Nyai Romlah pun kemudian hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Nada.

“benar kata dik Iis,saya juga tambah yakin pada anak ini”gumam B.Nyai Romlah dalam hatinya.

“Nada…?”

“njeh ummi”ucap nada sopan

“ummi ingin sekali berbicara penting padamu”ucap B.Nyai Romlah serius.

“kemaren,Kiai Arifi dan B.Nyai Iis kesini,mereka bilang ingin melamar kamu untuk anaknya,Gus Haris namanya,sekarang anaknya itu masih ada di kairo dan insyaallah akan pulang 1 bulan lagi,Kiai Arifi dan B.Nyai Iis bilang pada ummi,sebenarnya waktu kau ikut ummi ke jogjakarta,beliau berdua bilang kalau mereka senang dengan semua sifat dan perlakuanmu”

“semua itu terserah kamu Nada,ummi tidak menjawabnya,ummi bilang pada mereka kalau ummi akan tanyakan dulu pada kamu,kau tidak usah jawab sekarang,tanyakan dulu pada kakakmu dan ibumu”

                     ***

 Seiring dengan berjalannya waktu Nada memang sudah menyampaikannya pada kakak dan ibunya,dan alhamdulillah mereka juga sudah setuju.Bahkan dengan keyakinan hatinya setelah melaksanakan sholat istikhoroh,Nadapun kemudian menerima lamaran dari Kiai Arifi dan B.Nyai Iis,meski sebenarnya dia sendiri belum tahu pada Gus Haris.

                    ***

Pagi ini begitu cerah,yang juga di lengkapi dengan kicauan-kicauan burung yang begitu merdu di dengar,di masjid pesantren An-Nur itu pun sekarang sudah mulai banyak tamu yang hadir dalam acara pernikahan Gus Haris dan Nada.Banyak alumni-alumni santri yang seangkatan dengan Nada ikut hadir dalam acara pernikahan temanya itu.Gus Haris yang sedari tadi duduk di depan penghulu itupun kemudian tersenyum ketika melihat calon istrinya itu kini berjalan menuju arahnya yang di dampingi B.Nyai Iis,B.Nyai Romlah dan Avril teman akrab Nada.Begitupun dengan pandangan semua orang yang juga tertuju pada Nada sebagai mempelai wanita.

Nadapun kemudian kaget setelah dia tahu siapa calon suaminya sekarang.Kakak kelas sewaktu masih sekolah SMP dan laki-laki yang selalu membelanya ketika dia selalu di hina teman-temannya yang kemudian membuatnya diam-diam jatuh cinta pada Haris.

                     ***

Ijab qobul pun kemudian terdengar begitu lantunnya,tangi haru yang membasahi pipi  Nada,betapa dia begitu bersyukur dengan semua pemberian dan karunia dari Allah ini.Haris pun kemudian langsung memakaikan cincin di jari tengah tangan kanan Nada dan kemudian di susul dengan ciuman yang di daratkan Haris di kening Nada sang istri yang sejak dulu di cintainya itu.

The end.

*) Santri Aktif PP. Miftahul Ulum Bakid

Leave a Reply