IBLIS dan setan beserta kawan-kawannya tidak akan pernah rela jika melihat anak adam taat kepada Allah SWT, yaitu dengan melakukan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Belum lagi faktor internal dalam diri manusia dengan notabene sebagai musuh terbesar dalam dirinya; nafsu, juga ikut andil mengambil posisi dalam rangka mengelakkan manusia dari kebaikan. Jika tetap dibiarkan maka anak adam tersebut akan semakin tebal imannya sehingga mempersulit bagi iblis untuk menjerumuskannya. Jadi, setiap seseorang hendak melakukan kebaikan maka banyak rintangan yang harus dihadapinya hingga terjadilah pergulatan sengit dalam dirinya yaitu melawan nafsu angkara murka.

Kehidupan santri di pesantren merupakan sasaran utama setan untuk menggencarkan siasatnya sehingga dia terus menggoda para santri. Karena orang yang kuat agamanya dan tebal imannya akan lebih sulit bagi setan untuk menjerumuskannya. Jadi, tak ayal jika banyak keluhan dari mereka dengan berbagai alasan. Pasalnya, ujian silih berganti datang menghampiri dengan beragam corak yang berwarna-warni. Mulai dari ujian lahir seperti penyakit gatal-gatal, sakit-sakitan hingga ujian batin seperti problematika dengan kawan  sehingga menimbulkan kesenjangan sosial.

Ujian yang dialami seseorang sesuai kadar keimanannya, semakin meningkat iman seseorang dan semakin banyak kebaikan yang ia lakukan maka semakin tinggi pula ujian dan cobaan yang harus dihadapinya. Namun, perlu kita ingat Allah SWT tidak akan menguji kita diatas kadar kemampuan kita

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها

Artinya : “Allah SWT tidak akan membebani seseorang diatas kadar kemampuannya”.

Tak jarang kita mengeluh ketika manghadapi sebuah problematika. Kesana kemari mencari solusi demi memecahkan permasalahan yang dihadapi. Dengan mengklaim bahwasanya ujiannya ialah yang paling berat dari yang lain, dalam benaknya berkata “mereka tidak merasakan apa yang aku rasakan”. Padahal, bukan hanya dirinyalah yang berada dalam kesulitan, melainkan tiap individu merasakan hal yang sama hanya saja coraknya berbeda.

Apapun yang kita kerjakan selama itu bernilai kebaikan, maka selama itu pula rintangan akan selalu mengiringinya, artinya ujian akan tetap ada. Perlu kiranya bagi kita untuk selalu waspada dan mempersiapkan diri dari segala apa yang mungkin menimpa kita. Ketika musibah datang seyogyanya kita hadapi dengan sabar dan lapang dada. Sebagaimana sifat-sifat orang sabar yang termaktub dalam Firman Allah Ta’ala.                          

الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون

Artinya : “Yaitu (orang yang sabar) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ; sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali.                                                                                                                                                 

Sebenarnya eksistensi dari ujian itu sendiri, untuk mengetahui siapa yang memang benar-benar lurus dalam pekerjaan dan yang ikhlas karena Allah Ta’ala. Karena sesuatu akan tampak melalui kebalikannya, meskipun kebalikan itu tidak kita ridai. Kita tidak rela dengan adanya ujian, namun sebenarnya kita butuh untuk diuji.  seperti halnya menteri dan pasukan berkuda, yang berharap adanya penentang yang memusuhi raja. Kalau tidak begitu maka kejantanan dan kecintaan mereka pada raja tidak akan tampak, dan mustahil raja akan mengumpulkan mereka sebab ia tidak butuh pada mereka. Meski demikian, para menteri dan pasukan berkuda itu tidak rela dengan keberadaan para penentang. Tetapi, kalau mereka tidak beharap seperti itu, mereka tidak akan berperang.

Manusia hendaknya menghormati hasrat-hasrat jahat yang ada dalam diri mereka, sebab Allah mencintai manusia yang  bersyukur, dermawan dan bertakwa. Semuanya itu tidak akan terwujud tanpa adanya hasrat-hasrat dalam diri tersebut. Keinginan terhadap sesuatu adalah keinginan semua yang melekat pada sesuatu itu. Tapi manusia hendaknya tidak mendukung hasrat-hasrat yang jahat itu, melainkan berjuang keras untuk mengatasi pengaruhnya.

*M Abdul Kodir (Santri PPMU Bakid asal Trenggalek)

Leave a Reply