Sudah berapah tahun ini aku meninggalkan tanah kelahiranku.demi mengejar impian ku. Kini mulai saatnya aku pergi menghampiri kedua orangtua ku. Aku selalu menggirim separuh hasil dari pekerjaanku untuk mereka. Akhinya tiba waktunya aku akan pulang menjumpai keduanya setelah aku mulai perjalananku sekitar enam tahun yang lalu. Aku mulai tidak sabar melihat keadaan mereka selama enam tahun tanpa kepulanganku.

Aku baru saja mengakhiri studi ku di tahun ini. Perjalanan jauh harus ku tempuh sendiri.Hatiku sudah sangat rindu.Selama ini hanya surat –surat  dariku yang ku kirim dan sekarang adalah saatnya aku untuk kembali pulang.

Bayang-bayang tubuh kuat bapak datang silih berganti. Teringat tentangnya yang selalu  memberiku semangat  dari atas ontelnya yang setia mengantarku pergi ke sekolah. Wajah seduh penuh kebahagian biasa datang dari arah timur rumah kecil ku. Sorot matanya yang selalalu tersinari cahaya senja di ujung sore sepulang dari mengais rezeki di pinggir jalanan kota. Tak jarang seyumnya sering menyertai kebohongan dari apa yang telah ia rasakan seharian itu. Sesekali aku memergoki kotak sol sepatunya nahas tersita satpol pp. Aku tak dapat mengejarnya yang sedang terbawa mobil hitam bermuatan para pedagang kaki lima illegal.Aku tak memberi itu pada ibu,namun ketika kepulangannya di ujung senja, ku peluk ia dengat sangat erat  dan sekuat mungkin menahan air mata yang mulai tak sanggup di bendung.Aku sangat  mengingat kejadian itu.

Selama aku menempuh pendidikan dengan dana beasiswa pemerintah di jenjang menengah pertama dan menengah atas, bapak selalu berpesan “Bagi orang Jadilah pengaruh lain, dan tirulah sikap ikan yang selalu berenang sesuai arus tetapi juga menghasilkan arus”. Pesan itu tidak pernah mati.

Aku berharap garis wajahnya tak semenderita dahulu. Sungguh aku sangat merindukannya.

Sudah beberapa jam lamanya aku menempuh perjalanan di atas roda besi yang berjalan begitu cepat.Aku kembali tersibukan oleh kerinduan ku. Aku biasa di sambut ibu ketika sepulang dari sekolah. Ia selalu mengigatku untukselalu berganti pakaian dan meletakkannya kembali di atas paku di balik pintu.

Masakannya tak perna semahal masakan dapur lainnya. Namun dari masakannya aku selalu mensyukuri nikmat pencipta atas kekayaan alam di negeri ini. Kayu dapat menjadi sumber makanan kami, rerumputan di atas tanah yang tergenang air hujan dapat menjadi lauk pauk kami. Berbagai jenis tumbuhan di tanam oleh ibu di halaman rumah sebagai pelengkap makanan kami di saat gaji bapak tidak dapak di andalkan. Keulesan menghadapi segala kekurangan keluarga selalu teratasi olehnya. Senyumnya selalu tergaris di hadapan kami.Meski terkadang celoteh tetangga selalu menghujani telingahnya.Kesabarannya tak pernah tampak namun dapak aku rasakan.Dialah  wanta terhebat yang menjadi pelengkap kesederhanaan keluarga kami.

Aku merasa cukup senang dengan pekerjaan ku yang mulai menaiki titik kejayaan di tahun ke empat aku merintisnya.Banyak orang beranggapan miring tentang usaha yang ku kembangkan ini. Pasalnya aku adalah pengusaha muda yang mampu melejitkan usaha yang cukup besar dalam kurun waktu yang sangat cepat. Aku hanya menganggapnya bagai angin lalu.

Aku cukup bangga walau pun pendidikan S1 yang ku tempuh lebih panjang dari teman- teman ku yang lainnya akibat membagi waktu pelajarku dengan merintis pekerjaanku. Walaupun masih terbilang labil, tapi setidaknya akuyang telah mendirikan sebuah perusaan yang cukup untuk mengirim uang ke rekening bapak. Aku sudah pernah mengrim uang lebih dari setiap harinya untuk membeli smartphone. Tapi sampai saat ini tak ada panggilan masuk dari kartu perdana baru bapak. Sehingga  membuat ku tetap setia mengirimkan surat untuknya.

Kurang dua stasiun lagi aku akan sampai di kotaku yang entah bagaimana kabarnya selama enam tahun terakhir ini.

Seluruh isi gerbong hampir terlihat kosong, karena kereta hampirsampai di tempat pemberhentian terakhir. Aku mulai menurunkan barang yang ada di bagasi kereta.Kereta pun berhenti, Aku bergegas menuruni anak tangga dari kereta menuju pintu keluar stasiun.

Udara di luar kereta terasa sangat panas.kota ini masih saja sama seperti dahulu, panas dan penuh dengan polusi.Jalanan di depan stasiun basah habir terguyur air hujan. Aku terus berjalan mencari angkutan umum yang akan membawaku ke ujung jalanbesar kota ini. Dan berjalan sedikit kea rah jalanan kumuhtepat di bahu jalan, angkutan itu dengan cepat membawaku di tengah hari yang mulai meredup. Akhirnya aku berdiri di persimpangan jalan rumahku.

Ketika pelupuk senja kian meredup di ufuk barat, menyeruput asap-asap kopi diujung jalan nan basah. Bau tanah dengan air hujan yanag mengenang tercium begitu khas. Aspal hitam yang mengkilat oleh lampu-lampu jalanan. Biasa menjadi saksi kedatangan bapak. Tubuhnya semakin menua dimakan zaman yang kejam. Kulitnya legam oleh terik matahari di siang bolong. Garis wajahnya menampakkan kesukaran dari kehidupan yang ia jalani. Kini matanya berbinar di tangah jalanan  kota yang masih menyeruh pada tintik sisa hujan petang ini. Tubuh yang dulunya tegap dan sigap menangkap tubuhku yangterjatuh ketika belajar berjalan, kini habis termakan usia. Bajunya tak lagi berlebel layak pakai. Aku menyeruh kepada alam yang semakin beringas “mengapa kau perlakukan bapak begini ?” geram ku pada kejamnya metropolitan. Mengapa bapak masih menjadi saksi sadisnya kotaku? Apa salahnya? Celahku dalam hati.

Bapak tak lagi mengayuh ontel tuanya. Namun, merambat dipagar-pagar tetangga. Telinganya mengarah padaku, senyumnya begitu lebar. Mungkin bapak sangat senang akan kedatanganku. Aku berlari menyambarnya dan hampir saja terjatuh karena tak  ada lagi pagar untuk tempat bersandarnya. Kubiarkan koper oleh-oleh yang ku bawa tergeletak begitu saja demi menahan tubuh renta itu. Ku peluk erat tubuh tuanya dengan peluk kerinduan seakan tak pernah ku lepaskan

Kemudian bapak bertanya dengan suaranya yang berat untuk di keluarkan.

“Ss,si,siapa kau anak muda? pelukkan mu begitu kuat”. Aku sedikit melonggarkan pelukkan ku. Ku ratap wajah tuanya terlihat dingin menyapaku yang jelas-jelas anakmu. Begitu murkanya kah  bapak pada ku masih kah ia menyimpan anugerah pada ku selama ini. Tubuhku tergulai lemas.

Bapak pernah marah besar padaku atas kepergianku yang sangat jauh dari kota ini. Aku nekat pergi karena ambisiku terhadap pendidikan terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kedua orang tuaku menginginkan aku menempuh pedidikan di sebauh pesantren di desa sebelah. Rumahku dekat dengan pebatasan kota yang masih sangat besih dari polusi. Disana bediri sangat banyak pesantren di masing-masing desanya. Namun aku menolak dan memilih untuk keluar kota yang cukup jauh dengan rumahku. Walaupun mereka mengizinkan kepergianku namun terlihat sangat jelas bahwa hati mereka sangat berat untuk ,melepas kepergianku. Dan di pagi itu aku pergi kemudian tak pernah kembali. Aku sempat menyesalinya, namun aku yakin semua itu dapat aku ganti dengan semua kekayaan yang akan ku peroleh dari usaha yang di dirikan..

“pemisi anak muda, aku ingin pergi ke bahu jalan, tenang walaupun aku sudah rabun, aku tidak akan terjatuh lagi karena aku sudah menghafal jalanan ini selama lima tahun terakhr ini”ungkapnya sambil melepas pelukanku.

Serasa tersambar halilintar mendengar pengakuan bapak tadi. Bapak telah rabun sehingga matanya tak lagi berfungsi seperti sedia kala. Oleh karena itu ia tak mengenaliku. Tubuhnya mulai bungkuk, aku merasa sangat terpukul mendengarnya. Kemana saja aku selama ini? Anak macam apa aku ini ?

Tubuhku masih berdiri tegap memandangi tubuh renta itu berjalan mendekati jalan raya besar. Koperku menghentikan langkahnya. Ia berusaha untuk memindahkan koper itu dari hadapannya, aku menghampirinya yang sedang kesulitan.

“Bapak mau kemana?” tanyaku sesaat,spontan dia menjawab pertanyaanku

“aku menunggu Laila anakku yang sudah lama tak pulang, mugkin petang ini ia akan pulang” walaupun terbata-bata, aku memahaminya, kemudian ia tercengang.

“Siapa kamu anak muda ? tanya bapak padaku. Air mataku mulai bercucuran menahan amarah pada diriku sendiri. Sejahat itukah aku pada bapak? Gumamku dalam hati.tangannya mencari wajah ku kemudian ku dekatkan wajahku pada tangannya sampai menghapus air mataku.Matanya yang sedari tadi tak berkedip kini memejamkan mata dan meneteskas air mata. Tangisnya semakin menjadi bersamaan dengan suara peratnya.

“Apakah kau Laila anak ku ?” Tangis kami pecah setelah aku mulai mengangguk dan mencium tangannya. Aku bersimpuh bersimpuh di depannya sambil berkata”. Maafkan Laila bapak, Laila telah membuat bapak begitu menderita.”

Tanganya memintaku untuk kembali berdiri. Kemudian ia mengajakku untuk pergi ke rumah. Kami berjalan berdua menuju rumah. Ibuku masih tak terlihat wujudnya. Bapak tidak mempersilahkan aku masuk ke dalam rumah, ia mengajak ku ke halaman samping rumah yang tak terawat. Ia bercerita panjang lebar selepas kepergianku di pagi itu. Ibu yang waktu itu menderita penyakit kanker terpukul menyaksikan kepergianku, bapak memangil mangil ku tapi aku sengaja tak menggubrisnya.saat itu pula ibuku pergi. Bapak banyak menagis karena tak bisa mengabulkan permintaan ibu untuk menyehkolahkanku di pesantren karena keterbatasan ekonomi. Tangisku semakin meledak ketika sampai di sebuah tempat dengan batu bata menghiasi tepinya dengan bunga-bunga yang mulai kering di atasnya.

Jidan Mu’tashim/eL-Hijrah

Leave a Reply