BEBERAPA bencana yang terjadi akhir-akhir ini sempat memicu munculnya berbagai interpretasi dari beberapa kelompok. Sebagian orang memaknainya sebagai azab dari Allah SWT, dan sebagian yang lain memaknainya sebagai ujian dari-Nya. Perbedaan makna itu berimplikasi pada sikap mereka terhadap para korban bencana. Mereka yang menganggap bencana sebagai azab dari Tuhan lebih sulit diharapkan uluran bantuannya terhadap para korban. Seringkali mereka malahan menyalahkan korban dengan mengatakan bencana itu terjadi sebagai hukuman dari tuhan akibat perbuatan dosa yang banyak mereka lakukan. Lain halnya dengan mereka yang memaknai bencana sebagai ujian dari Allah SWT. Umumnya, mereka lebih berempati dan mudah mengulurkan bantuan bagi para korban.

Seyogyanya bagi kita untuk turut memberi sumbangsih bantuan bagi para korban baik dengan material maupun non material yakni dengan do’a tanpa mempersoalkan apa makna bencana itu bagi para korban dihadapan Tuhannya. Hal ini untuk menghindari jangan sampai mereka mengalami apa yang disebut sudah jatuh tertimpa tangga pula. Lagi pula, derita mereka juga derita bagi kita karena kita adalah keluarga dalam bingkai NKRI.

Baca juga :

Tanggung Jawab Melestarikan Tradisi Pondok Pesantren

Sejatinya, ujian dari Allah kepada hambanya tidak hanya mengerucut pada musibah-musibah termasuk juga bencana. Karena pada dasarnya, semua adalah ujian dari Allah baik yang berupa kenikmaatan maupun kesulitan. Ketika kita menghadapi sebuah kenikmatan apakah kita mau bersyukur kepada Allah ataukah lupa diri. Sama halnya dengan eksistensi dari bencana yang secara implisit Allah memerintahkan hambanya untuk berlaku sabar yaitu dengan mengembalikan semua problematika kepada Allah semata. Sebagaimana sifat-sifat orang sabar yang termaktub dalam Firman Allah Ta’ala.

الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجعون

Artinya : “Yaitu (orang yang sabar) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata ; sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kita kembali.

Jadi, jangan gegabah memvonis bahwa korban gempa bumi adalah orang-orang yang mendapat teguran (azab) dari Allah. Vonis semacam ini dilarang sebab hanya Allah yang tahu rahasia di balik setiap kejadian. Dulu kita bisa tahu bahwa suatu bencana merupakan teguran Tuhan terhadap suatu kaum sebab mereka membangkang kepada nabinya. Namun di era ketiadaan Nabi seperti sekarang, kita hanya bisa berprasangka (dhann) dan Al-Qur’an sudah menegaskan bahwa sebagian prasangka itu adalah dosa (QS. Al-Hujurat: 12).

*M Abdul Qodir/eL-Hijrah

Leave a Reply