Di era zaman modern ini jarang kita ketahui orang yang suka atau hobi menulis dan membaca, atau bahkan tidak berminat dengan kedua kegiatan tersebut. Mungkin karena bagi mereka menulis dan membaca merupakan hal yang paling membosankan sehingga langka menemukan seseorang yang menjadi  penulis, bisa di bilang (Angel ; Jawa, RED).

Menulis dan membaca adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Melintasi zaman dan peradaban sekarang, menulis adalah untuk di kenang orang, memulai berkarya tentu harus memulai membaca pula karena antara menulis dan membaca ada keterkaitan dan saling membutuhkan satu sama lain, karena dengan membaca maka seseorang dapat menjadi penulis. Apabila orang jarang membaca, kemungkinan besarnya orang tersebut tidak akan bisa menulis.

Pertanyaannya sekarang mengapa di zaman ini jarang orang-orang yang  suka menulis dan membaca? padahal, menulis merupakan hal yang sangat penting di zaman sekarang. Misalnya di kampus, dalam perkuliahan seorang dosen pasti menyuruh kita untuk membuat makalah, deskripsi dan proposal. Tapi, dengan canggihnya teknologi sekarang orang-orang semakin meremehkan untuk berkarya melainkan mereka memilih untuk membeli dan menyuruh penulis untuk membuat tugas tersebut.

Bahkan, di zaman sekarang bukanlah hal yang sangat sulit untuk mencari bahan bacaan, karena semakin canggihnya teknologi semakin mudahlah bagi kita untuk mencari bahan bacaan. Tapi, titik salahnya disini adalah kurangnya para remaja para penerus bangsa untuk minat membaca di Indonesia. Maka dengan itu, kita para santri harus minat membaca, dengan kita minat membaca kemungkinan besar kita akan bisa menulis dan berkarya.

Jadi, dengan kita melakukan keduanya maka semangat literasi selamanya akan menjadi budaya.Sehingga  generasi yang ada di negara ini harus memiliki minat membaca yang tinggi agar melahirkan generasi-generasi yang memiliki semangat dalam menulis, membaca dan berkarya.

Disini saya dan rekan-rekan saya akan persuasi kalian para santri untuk berkarya dan menjadi penerus bangsa yang mempunyai keahlian dalam hal literasi, sebagaimana saya dan rekan-rekan saya menjadikan mading ini tidak lain iyalah bertujuan ingin membuat kalian para santri berminat untuk membaca.

perang media tentu tidak bisa dibalas dengan suatu pembunuhan dan dentuman peluru. Hoax yang tersebar dimana-mana tidak mungkin di lawan dengan radangan atau kernyit dahi dari belaka. Tentunya penulis yang baik, memiliki hati Nurani, dan itu semua harapan besarnya berada pada diri kita semua ; santri kyai, pewaris nabi dan benteng NKRI.

Maka dari itu kita perlu tahu bahwa dengan sering menulis dan membaca kita bisa meningkatkan pemikiran otak dan memperkuat untuk mengingat ilmu kita. Bahkan ada beberapa istilah yang sering diremehkan oleh kita dalam hal kepenulisan. Istilah tersebut antara lain yaitu ; menulis, tulisan, dan tulis menulis.

Dari ketiga hal tersebut memiliki arti yang berbeda-beda, seperti halnya seseorang yang menulis cerpen disebut cerpenis, orang yang menulis novel disebut novelis, dan disebut kolumnis bagi orang yang menulis artikel. Dari arti-arti tersebut kita belajar bahwa menulis dan membaca memiliki arti yang tidak kita ketahui atau bahkan di remehkan oleh kita selama ini.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh UNESCO tahun 2012 dari 61 negara se-dunia Indonesia lah dinobatkan salah satu negara yang paling sedikit dalam hal membaca. Lebih lanjut juga ditemukan bahwa tingkat membaca warga Indonesia hanyalah 0.001. itu artinya, dari 1000 penduduk Indonesia hanya ada 1 orang yang mau membaca buku dengan serius dan teliti. Dengan rasio ini, berarti diantara 250 juta penduduk Indonesia hanya 250.000 yang punya minat baca, hal ini terbukti masih sedikitnya penulis-penulis pemuda yang lahir di republik ini.

Membangun budaya literasi maksudnya adalah melakukan kebiasaan berfikir yang di ikuti oleh sebuah proses membaca dan menulis yang pada akhirnya dilakukan dalam sebuah kegiatan tersebut akan menciptakan sebuah karya.

Hal yang terpenting untuk mengwujudkan hal itu, yang utama adalah kemauan. Kemauan untuk terus membaca buku dimana harus di biasakan dan kebiasaan tersebut harus diasah sehingga menjadi kebiasaan yang tidak dapat di tinggalkan.

Oleh karena itu kita para santri, para penerus bangsa harus bisa meneruskan keahlian yang mungkin sudah langka di era sekarang. Keahlian menulis dan membaca itu bisa di miliki semua orang hususnya para remaja, cuma bedanya para remaja sekarang tidak memiliki sedikit pun keinginan untuk  mengetahui minat literasi.

Menjadi seorang penulis pasti akan memiliki sebuah karya,dan karya tersebut pasti akan di baca semua orang. Disitulah kita akan di kenang meskipun umur kita (sang penulis) telah tiada, Bahkan dengan menjadi seorang penulis kita bisa di ingat meskipun berabat-abat contohnya iyalah para pengarang kitab, kebanyakan kita tidak tahu wajah-wajah mereka atau bahkan nasab-nasabnya yang mungkin sudah meninggal sekian lama. Itulah keutamaan dalam keahlian menulis.

Berkarya merupakan hal yang sangat penting bagi kita, karena dengan berkarya kita bisa memberi motivasi kepada semua orang melalui sebuah tulisan. Kita para santri, para penerus bangsa yang menjadi benteng untuk NKRI diharapkan supaya mempunyai sebuah karya selama masa hidup kita. meskipun karya tersebut hanya bisa membuat 1 motivasi bagi semua orang. Salam berkarya, semangat !    

Sholeh & fathur/eL-Hijrah

Leave a Reply