Akhir – akhir ini kita digemparkan dengan kabar akan banyaknya ulama yang wafat. Baik ulama yang ada di sekitar kita maupun yang jauh di luar sana. Bahkan dalam waktu yang singkat kita telah banyak kehilangan ulama sekaligus da’i lokal yang namanya sudah pasti masyhur di telinga kita seperti : Kiai Sattar, Kiai Hasan Huda, Habib Thohir bin Muhammad Al-Hamid (cucu habib Sholeh), Kiai Adnan Syarif. Begitu juga dengan daerah-daerah seluruh nusantara bahkan kota Tarim pun kota dengan julukan negeri seribu wali yang ada di Hadromaut – Yaman juga telah banyak kehilangan para ulama nya.

Mereka (para ulama) yang notabene sebagai pewaris para nabi dalam mengemban amanah menyeberkan ilmu agama dan membenahi akhlak manusia kini mulai diangkat oleh Allah satu persatu. Dengan demikian ilmu-ilmu agama sedikit demi sedikit juga akan semakin hilang, karena kematian ulama berarti diangkatnya ilmu – ilmu yang ada pada diri mereka dari muka bumi. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori :

إن الله لا يقبض العلم إنتزاعا ينتزعه من العباد و لكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالم إتخذ الناس رؤسآ جهالا فاسألوا فافتوا بغيرعلم فضلوا و أضلوا. رواه البخاري

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak menggenggam ilmu dengan sekali pencabutan yang Dia (Allah) cabut dari hambanya, tetapi Dia (Allah) mencabut ilmu melalui kematian ulama. Hingga ketika tidak disisakan seorang alim pun, manusia mengangkat orang bodoh (akan ilmu agama) menjadi pemimpin, mereka ditanya kemudian mereka memberi fatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhori).

dari Anas bin Malik Nabi SAW Bersabda :

من أشراط الساعة أن يرفع العلم و يثبت الجهل.

“Artinya : Sebagian dari tandanya kiamat ialah diangkatnya ilmu dan tinggallah kedunguan”.

Tentu saja ini merupakan tanda akan dekatnya akhir dari usia dunia yang kini sudah semakin tua. Ibarat seseorang hendak merobohkan rumah maka benda-benda berharga akan dipindahkannya ke tempat lain yang lebih baik. Begitu pula akhir zaman, para ulama yang merupakan insan paling berharga pada setiap zamannya akan diwafatkan satu persatu. Setelah itu jumlah mereka semakin sedikit, hingga yang ada tingallah mereka orang – orang yang pintar dalam keilmuan agama namun tak sedikit pun berjiwa ulama. Karena ulama hanyalah mereka yang mengamalkan ilmunya dan yang takut kepada Allah.

Baca juga :

Makna Dan Tujuan Akhlak Dalam Islam

Fase berikutnya, bermunculan para ulama yang berorientasi pada jabatan dunia serta para penguasa bodoh yang hanya menjadikan ulama sebagai alat untuk mencapai kepentingan tersebut. Memang benar ilmu agama semakin meluas dan orang pintar dalam bidang tersebut semakin banyak. Namun bukan itu yang dikehendaki dengan ulama. Hal ini telah dijelaskan tuntas oleh imam Ghazali dalam kitab monumentalnya Ihya’ Ulumuddin juz 1 bab ilmu mengenai kriteria ulama dan mereka yang disebut ulama suu’.

Para ulama wali dan kaum abdal adalah penerus para Nabi. Dan para nabi adalah wakil Allah yang dipanggil ke hadapan-Nya. Mereka tidak takut kepada selain Allah dan tidak mengharap sesuatu kepada selain Allah.  Allah telah memberikan kekuatan di hati mereka, karena mereka adalah manusia-manusia pilihan Allah. Mereka orang arif (makrifat), ia tidak berdiri bersama maakhluk maupun bersama nafsunya di hadapan Allah. Ia berdiri hanya bersama Allah. Hatinya tidak pernah tidur dan mengantuk, selalu berada dalam belenggu Tuhannya. Lahirnya bersama manusia, tetapi batinnya berada di lembah takdir. Hatinya bisu akan keramaian dunia dan hanya mendengar bisikan tuhan. Adanya merekalah dunia ini ada dan baik-saja. Tanpanya, tentu dunia ini akan hancur sebab merekalah yang menunda turunnya azab dari Allah, karena maksiat yang dilakukan oleh manusia. Dengan begitu benarlah ungkapan Sayyidina ‘umar RA yang mengatakan :

موت ألف عابد قائم الليل صائم النهار أهون من موت عالم بصير بحلال اللهو حرامه .

Kematian seribu orang ahli ibadah yang rajin sholat malam dan puasa siang harinya itu tidak sebanding dengan kematian seorang alim yang mengerti halal haramnya aturan Allah Ta’ala (syariat).

Oleh karena itu, marilah kita siapkan kaderisasi ‘ulama generasi muda yang akan tetap menjadi penjaga Al-Qur’an, penghidup sunnah, penerang dunia, benteng kebodohan serta pengingat masyarakat dan penyebar keberkahan yaitu dengan cara mencari ilmu agama. Allah telah mengingatkan kita dalam Qur’an surah At-Taubah ayat 122 :

 “Artinya : Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Inilah kesempatan bagi kita semua yakni para santri untuk terus giat dalam mencari ilmu agama di pesantren, karena kitalah yang akan menggantikan posisi mereka (para ulama).

*M. Abdul Qodir/eL-Hijrah

Leave a Reply