Berbicara tentang zuhud,tentu tidak bisa terlepas dari pembahasan tasawuf. Meskipun istilah sufi belum begitu familiar di kalangan masyarakat luas ,namun pada dasarnya benih-benih tasawuf sudah ada sejak zaman Rasulullah. Begitu pula dengan kehidupan para sahabat dalam diri mereka pun benih-benih  ajaran tasawuf sudah mulai tumbuh, sebab para sahabat mendapatkan semua itu, langsung dibawah asuhan Rasulullah. Dari merekalah, ajaran tasawuf dan kehidupa para sufi mulai ada pada abad-abad setelahnya. Tasawuf sendiri baru dikenal setelah abad kedua dari hjrah, sampai pada awal abad ketiga dari hijrah, praktek pengaplikasian zuhud berkembang hingga pada abad ini. Zuhud bukan lagi sekedar ritus pribadi, melainkan berubah menjadi gerakan rapi yang pesertanya biasa disebut dengan sufi.

Istilah zuhud sendiri menurut Syeikh Abu BakarSyatha dalam bukunya Kifatul atqiya’ wa Minhajul Ashfiya’ dijelaskan, bahwa zuhud adalah mengesampingkan suatu perkara yang berbaur duniawi, untuk mengambil sesuatu yang lebih baik lagi yaitu dari sisi ukhrawi. Maksudnya ialah seorang sufi tidak memfokuskan kehidupannya pada kesenangan duniawi, melainkan mereka lebih cenderung memilih untuk kebahagiaan yang kekal (ukhrawi), karena menurut mereka hal itu jauh lebih baik dibandingkan kesengangan duniawi.

Nabi Muhammad SAW bersabda :

اذا رايتموا رجلا قد أوتىي زهدا فى الد نىا ومنطقا فاقتربوا منه فانه يلقن الحكمة

Artinya: “Apabila diantara kalian melihat orang zuhud dan berkata benar maka dekatilah dia. Sesungguhnya dia adalah orang yang mengajarkan kebijaksanaan. (H.R Abu khalad)

 Sebagian ulama mengatakan, zuhud ialah kewajiban untuk meninggalkan perkara haram dan lebih mengutamakan yang halal. Orang yang meminimalkan harta serta beribadah disebut dengan orang yang zuhud.  Allah SWT memberikan gambaran tentang zuhud dengan firmannya :

اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ قِيْلَ لَهُمْ كُفُّوْٓا اَيْدِيَكُمْ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۚ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّٰهِ اَوْ اَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوْا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَۚ لَوْلَآ اَخَّرْتَنَآ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌۚ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقٰىۗ وَلَا تُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْنَ قِيْلَ لَهُمْ كُفُّوْٓا اَيْدِيَكُمْ وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَۚ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ اِذَا فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللّٰهِ اَوْ اَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوْا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَۚ لَوْلَآ اَخَّرْتَنَآ اِلٰٓى اَجَلٍ قَرِيْبٍۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌۚ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقٰىۗ وَلَا تُظْلَمُوْنَ فَتِيْلًا ٧٧ ( النساۤء/4: 77)

Artinya: Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu (dari berperang), laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat!” Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu). Mereka berkata, “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tunda (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?”  Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa (mendapat pahala turut berperang) dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.” (An-Nisa’/4:77)

Selain ayat diatas terdapat beberapa ayat lain yang mencela kehidupan dunia dan menganjurkan hidup zuhud ,diantaranya kata-kata zuhud dikutip dari firman Allah SWT yang berbunyi :

لكي لا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ ٢٣ ( الحديد/57: 23)

Artinya: “Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.  (Al-Hadid/57:23)

Banyak ulama yang berbeda pendapat dalam mendefinisikan zuhud, diantaranya Sufyan Ats-tsauri yang beragumen  bahwasannya zuhud adalah memperkecil cita-cita, bukan memakan suatu yang keras dan bukan pula memakai pakaian (mantel) yang kusut. Namun dengan seiring berjalannya waktu, hakekat zuhud mulai luntur dari pemahaman masyarakat luas, banyak yang beranggapan bahwa tokoh-tokoh agama di luar sana sudah mulai terpengaruh dengan hal-hal yang berbau duniawi, dalam artian mereka sudah jauh dari hakekat zuhud.

Bahkan mereka mengklaim para habaib dan kyai di kehidupan digitalisasi ini  lebih mengedepankan kenikmatan dunia daripada perkara akhirat. Anggapan ini harus dihilangkan dari anggapan kalangan masyarakat awam, hanya dikarenakan habaib dan kyai memiliki mobil yang mewah dan harganya bisa tergolong setara dengan mobil milik pejabat daerah.  Karenanya ulama kontemporer beragumen bahwa yang dimaksud dengan orang zuhud adalah orang yang terisolir dalam kehidupan dunia, bukan berarti tidak memiliki dunia (harta).

Salah seorang cendekiawan berkata ada 4 hal yang kita cari, namun salah dalam memilih jalannya. Kita mengira bahwa kaya itu karena banyaknya harta yang kita punya, padahal kaya terletak pada hidup qana’ah. Kita mengira ketenangan didunia adalah harta yang begitu melimpah, padahal ketenangan yang sesungguhnya adalah sedikitnya harta. Kita mengira bahwa kemulian itu adalah apa yang dilihat manusia terhadap kita, padahal kemulian itu berada dalam takwa. Kita mengira bahwa kenikmatan ialah kenikmatan ketika kita sedang makan dan minum, padahal kenikmatan sesungguhnya ketika terhapusnya dosa kita.

Oleh karena itu, orang yang beriman meskipun dia kaya tetap dikatakan zuhud, karena harta bagi mereka hanyalah rezeki yang Allah berikan kepadanya, seperti hadist yang diriwayatkan Zaid bin Tsabit, bahwasannya Nabi SAW pernah bersabda :

من كانت نيته الاخيرة جمع الله سمله وجعل غناه فى قلبه واتته ادنيا وهي راغمة ومن كا نت نييته فى الدنيا فرق الله عليه امره وجعل فقره بين عينيته ولم يأتيه من الدنيا الاماكتب الله له.

Artinya: “Barang siapa yang niatnya untuk akhirat, maka Allah aakan menghimpun baginya semuanya.Allah menjadikan kekayaan pada hatinya dan dunia akan datang kepadanya dengana sendirinya. Dan barang siapa yang niatnya hanya untuk dunia,maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya. Allah menjadikan kefakiran di depan kedua matanya dan dunia tak akan datang kepadanya,kecuali apa yang telah ditentukan untuknya”.

Wallahu a’lamu bis showab.

Hizqiel/el_Ihsan (Santri Aktif PPMU BAKID)

Leave a Reply