Sebagai  Nabi  pilihan dan  sekaligus penutup para  Nabi,  Nabi  Muhammad  SAW memiliki banyak keistimewaan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Begitu juga dengan umatnya, Allah memberikan kelebihan-kelebihan yang sebelumnya tidak  dimiliki oleh umat umat lain. Namun dibalik itu semua  itu,  kebanyakan orang  tidak menyadari tentangnya. Sehingga tidak menyadari tentang hakikat diri maupun Nabinya. Efek dari kenyataan ini ialah mudah sekali terjerumus untuk melakukan keburukan dan tidak  memiliki kesemangatan dalam melakukan kebaikan apalagi untuk memperjuangkan agama Allah, karena di dalam dirinya tidak tersarang benih-benih perjuangan yang salah satu dari penyebabnya ialah tidak mengetahui tentang untuk apa ia diciptakan dan sikap acuh t ak acuh terhadap Nabinya.

Terlepas dari realita tersebut, kita kembali pada pembahasan  Nabi. Sebenarnya siapakah yang termasuk dalam  ahlu bait  Nabi?. Disebutkan dalam  Hadist Nabawi  yang diriwayatkan oleh Ummi Salamah bahwasanya ketika turun ayat 

إنما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تتطهيرا

Artinya: “Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa dari kamu wahai  Ahlu al Bait dan membersihkan kamu sebersi bersihnya” (QS Al Ahzab 33). Nabi  melebarkan pakaiannya seraya memeluk Sayyidina Ali, Fathimah, Hasan, dan Husein  Radhiallahu’anhum  lalu bersabda: “Wahai Tuhanku! Ini adalah  Ahlu Baitku,  maka hilangkanlah dosa darinya dan bersihkanlah sebersih bersihnya”.  

 Dan disebutkan pula dalam hadist yang lain:

عن أبي حميد الساعدي رضي الله عنه أنه قال يا رسول الله كيف نصلي عليك ؟ فقال رسول اللله صلى الله عليه وسلم قولوا أللهم صل على محمد ووأزواجه وذريته.

Artinya: Diriwayatkan dari Abu Humaid As Sa’idiy Radhiallahu’anhu bahwa ia bekata “Wahai Rasulullah! Bagaimana cara aku bersholawat kepadamu”. Lalu Rasulullah menjawab “Katakanlah Allahumma sholli ‘Ala Muhammad wa Azwajihi wa Dzurriyyatihi”.  

Dr. Abduh Al Yamani berkesimpulan bahwa yang dimaksud  Ahlu Bait  Nabi  Muhammad SAW  ialah Sayyidatina Fathimah, Sayyidina Ali, Hasan, dan Husein  Radhiallahu ta’ala ‘anhum ajma’in  berdasarkan nash hadis tersebut. Dan termasuk juga istri -istri  Nabi dengan berdalilkan Al -Quran surat Al -Ahzab ayat 06 dan surat Hud ayat 73 beserta hadis yang telah disebut, juga para dzurriyat Nabi melalui jalur Siti Fathimah Az-Zahra. 

  Jika dibenturkan dengan fakta dewasa ini, kita tahu di tanah Indonesia cukup banyak para habib yang berdomisili di  bumi  pertiwi ini. Banyak dari mereka juga ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan pada masanya. Hingga sampai sekarang para  dzurriyat Nabi ini  tetap berjuang di tanah air, namun kali ini mereka berjuang dalam rangka mengisi kemerdekaan yaitu berdakwah. 

  Dalam berdakwah tak jarang dari mereka melakukan penyampaiannya secara keras dan tegas, khususnya diperuntukka n bagi pihak pihak yang memusuhi   Islam atau kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil. Sebut saja Habib Rizieq shihab dan Habib Bahar bin Smith yang paling menonjol dalam media masa. Hingga keduanya dijerat hukum akibat orasi yang disampaikan selalu menuai provokasi, terlalu menohok, dan dianggap membangkang oleh pemerintah. Sudah pasti cibiran dan pujian dilontarkan oleh netizen dan masyarakat terhadapnya, meski opini mengatakan keduan ya diambang antara fitnah oknum-oknum tertentu dan di cap benar dalam menegakkan  amar  ma’ruf  hani munkar. dan akhir-akhir ini muncul lagi seorang Habib di media masa yaitu Habib Reihan. 

  Bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim mengenai peristiwa tersebut?  Ibnu Unuqa’mengatakan dalam kitab Syarhu an Maulid an-Nabawiyyi al -Musamma bi al -Kawkabi al -Anwari ‘ala Aqdi al-Jawhar,  sifat Iradah Allah adalah  azali,  sedangkan pekerjaan  Nabi  atau keturunannya telah tercakup di dalam sifat Allah ini. Kendati kita terkadang mengetahui semisal keturunan habib ada yang melakukan perkara maksiat dan  bid’ah.  Dan bel iau mengatakan pula sepantasnya bagi setiap muslim untuk meyakini bahwa  Nabi  dan keturunannya tidak akan meninggal dalam keadaan bermaksiat kecuali Allah akan memberikan hidayah taubat padanya. Pernyataan ini berkesesuaian dengan apa yang dijelaskan di dalam Al Quran dan Hadist. 

Kesimpulan dari pembahasan ini ialah tidak pantas bagi seorang muslim untuk tidak meyakini kemuliaan Nabi dan ahlu baitnya. Sehingga menganggap remeh dan mencaci maki. Walaupun terkadang ada sebagian keturunan  Nabi (habib) yang selalu melakukan maksiat dan perkara bid’ah. Karena semua pekerjaan itu telah masuk dalam pengawasan Allah. Dan Allah sendiri yang akan memberikan taubat pada mereka. Kejanggalan ini adalah bagian dari pemberian Allah yang tersamarkan, tidak semua orang menget ahui kecuali mengerti  tentang kemuliaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta Ahlu al-baitnya.    

Wallahu a’lamu bi as-showab…

Moch Ainul Yaqin/el_ Ihsan

Leave a Reply