(Mengatur Ulang Pola Pikir Kita)

Manusia merupakan makhluk paling sempurna diantara makhluk-makhluk Allah Swt. Diciptakan dengan bentuk sedemikian rupa dan didesain khusus dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas tertentu, yakni organ-organ tubuh yang menjadi sarana untuk mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam. Dengan bermodalkan akal sebagai acuan utama mampu menyulap apa yang ada di sekililingnya, mengubah benda yang tak bermanfaat menjadi bermanfaat, tanah gersang menjadi subur, menjadikannya tambang emas dan lain sebagainya. Seiring berjalannya waktu telah banyak munculnya penemuan – penemuan baru seperti halnya teknologi yang semakin canggih dimana semua itu merupakan hasil jerih payah para ilmuwan dan para cendikiawan . Sehingga oleh karenanya kita banyak mengambil manfaat dari jasa-jasa mereka dalam memenuhi kehidupan sehari-hari.

Mereka para ilmuwan dan cendikiawan mampu menggagas dan menggubah pola pikir mereka dengan cara memfungsikan akal pikirannya sebaik-baiknya, dengan begitu jelaslah bahwa akal manusia disini sangatlah signifikan. Sebenarnya manusia tidak ada artinya jika ia tidak memiliki akal, oleh sebab itu manusia menjadi makhluk yang paling mulia di antara makhluk ciptaannya, sebagaimana firman Allah ولقد كرمنا بنى آدم (sungguh telah kami muliakan anak cucu adam). Menurut ilmu manthiq manusia didefinisikan sebagai hewan yang dapat berfikir. Kata yang dapat berfikir di sini disebut dengan kulli fashl (كللي فصل) yakni yang membedakan antara spesies pada kulli jinsi dengan spesies yang lain. Dari sini dapat dipahami, andaikata manusia mampu memanfaatkan akalnya tentu tidak akan ada kata mustahil baginya. Sebagaimana petuah bijak mengatakan من جدّ وجد (barang siapa yang bersungguh-sungguh tentu ia akan memperolehnya), hal tersebut tidak ubahnya bagi Thomas Alva Edison penemu lampu listrik kali pertama setelah ± 1000 kali mengalami kegagalan dalam percobannya, namun atas dasar perjuangan keras dan pantang menyerah pada akhirnya mendapatkan kesuksesan atas usahanya itu.

Kalau boleh kita cermati, mayoritas manusia hanya memandang terhadap hasil saja tanpa pernah sesekali terbesit di pikirannya akan proses pahit yang dilalui. Seolah ia memvonis dirinya tidak bisa dan tidak tahu apa-apa, tidak seperti mereka yang sudah berada di depan. Akhirnya hanya tersisa pengandai-andaian belaka tanpa disertai kerja keras dan usaha untuk mencapainya, seraya berkata dalam hatinya “seandainya aku sepintar/sehebat dia, tentu aku akan bisa begini, begini, dan begini…”, hal seperti inilah, yang membuat dirinya tidak akan maju sedangkan yang lain sudah mulai melangkah.

Sebenarnya, inti dari permasalahan ini tidaklah rumit, hanya perlu sedikit mengubah mindset (pola pikir) kita, dengan kata lain berpikir dengan pikiran yang sehat sehingga dapat menemukan solusi dari berbagai masalah yang acap kali menimpa. Kalau melihat realita yang ada saat ini banyak dari para santri yang kurang percaya terhadap dirinya sendiri, padahal masing-masing mereka sudah dibekali akal dan pikiran yang sempurna, hanya saja mereka kurang dalam memanfaatkan sumber daya ciptaan Allah ini. Karena bakat manusia tidak ubahnya kita menyimpan belati, semakin sering belati tersebut diasah semakin pula bertambah ketajamannya, namun bila dibiarkan begitu saja maka belati tersebut akan menjadi tumpul dan bahkan berkarat. Singkatnya, kita sebagai manusia dengan notabene makhluk paling sempurna tentu bukan sekedar makhluk yang biasa-biasa saja, melainkan merupakan sosok yang luar biasa, tergantung kita sendiri mau mewujudkannya atau tidak. Hendaklah di pikiran kita selalu tertulis kalimat “aku pasti bisa” dan “aku harus bisa”. Karena dengan begitu akan menumbuhkan semangat juang yang tinggi dan percaya diri, sehingga apapun persoalannya akan mudah baginya. Hanya dengan sedikit mengubah mindset seperti inilah manusia mampu menjadi manusia yang sesungguhnya.

Penulis : Abdul Qodir (Santri PPMU Bakid)

Leave a Reply