Budaya minum kopi menjadi kebiasaan yang tak terbantahkan. Tua, muda, laki-laki, perempuan, kaya, miskin, sampai kalangan santripun mempunyai hak yang sama untuk menikmati kopi. Berawal dair kopi secangkir diwarung seharga dua ribuan huingga kopi dengan kualitas gengsi. Sehingga minum kopi menjadi trend kekinian saat ini. Upload secangkir kopi adalah bukti eksis agar bisa dibilang keren. Anda boleh percaya atau tidak, bahwa secangkir kopi tidak pernah ingkar, ia tetap hitam dan pahit. Ini menegaskan bahwa, tak selamanya yang kelam itu hitap dan yang pahit itu menyebalkan.

Santri pondok pesantren pun juga tak kalah saing dalam masalah perkopian, mereka mempunyai cara tersendiri untuk menikmati secangkir kopi. Tak hanya santri bahkan pengurus, ustad, kyai sekalipun senang dengan tradisi ngopi. Memang tak semua, tapi kebanyakan mereka benar benar menjadikan ngopi sebagai hobi. Ketika ngopi terealisasikan, tak lupa mereka membawa sebatang rokok yang menjadi teman sejati kopi. Memang ada sebagian santri yang suka kopi, namun tidak merokok. Karena begitu fanatiknya dengan kopi, terdapat beberapa santri yang membentuk sebuah komunitas santri ngopi. Salah satu tujuannya ya, sebagai pengikat kebersamaan.

Popularitas kopi membuat aktifitas seharian pun tak bisa lepas dari yang namanya kopi, mulai dari meeting dengan atasan sampai cangkru’an para santri. Bahkan mereka berkata “ngopi dulu biar ga edan”. Eksistensi secangkir kopi dalam suatu perkumpulan memanglah sangat viral. Minum kopi sering di jadikan ritual oleh para sntri agar tetap terjaga dimalam hari akan tetapi hal itu kebanyakan di isi oleh hah-hal yang kurang bermanfaat. Mereka  hanya bercerita tentang hal-hal tak berfaedah yang tak ada ujungnya.

Kebiasaan para santri yang suka berkerumun (berkumpul) yang ditengah-tengahnya pasti ada kopi, ini membuktikan bahwa para santri tak bisa lepas dari yang namanya kopi. Di perkumpulan para santri, yang selalu ada kopinya , di diskusikan banyak hal. Mulai dari sibuk sebar hoax, ada juga yang curhat, hingga tentang mantan yang telah move on. Semuanya didiskusikan didepan secangkur kopi.

Padahal, alangkah baiknya apabila perkumpulan  tersebut, yang Notabene  nya berisi para santri diisi dengan perbincangan-perbincangan yang berbau kelucuan. Ya, meskipun kita tidak menguasai tentang baca kitab, kita masih bisa lewat mendengarkan, toh cari ilmu bukan selalu lewat baca kitab.

Seorang ilmuwan Muslim “Ibnu Sina” (w.1037) dalam kitab al-Qânûn fi al-Thibb menjelaskan jenis minuman ini disebut ‘qahwah’ karena bisa menahan atau menghilangkan nafsu makan. Kata kerja ‘aqha’ berarti ‘meninggalkan’ makanan meski berselera.

Dalam kitab Tadzkir An-Nas halaman 177, disebutkan : 

Suatu saat as-Sayyid Ahmad bin Ali Bahr al-Qadimi berjumpa dengan nabi dalam keadaan terjaga. Berkata ia kepada Rasulullah:

“Wahai Rasulullah, saya ingin mendengar hadits darimu langsung tanpa perantara”.

Nabi Muhammad lalu bersabda :

Aku akan memberimu 3 hadits ;

  1. Selama bau biji kopi masih tercium di mulut seseorang, maka selama itu pula malaikat akan beristighfar (memintakan ampun) untuknya.
  2. Barangsiapa yang menyimpan tasbih untuk digunakan berdzikir, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang banyak berdzikir, baik ia gunakan tasbihnya atau tidak.
  3. Barangsiapa yang duduk bersama waliyullah yang hidup atau yang sudah wafat maka pahalanya sama saja dengan ia menyembah Allah di seluruh penjuru bumi.

Bahkan imam ibnu Hajar al-Haitami juga berkata :

“Kopi dapat menghilangkan rasa galau dan menarik asror” (baca : rahasia ilahi).

Namun perlu diingat, bahwa penjelasan-penjelasan diatas tentu tergantung dari niat. Maka yang berniat beribadah dengan kopi, akan mendapatkan apa yang diniatkan. Jika niatnya hanya sekedar minum kopi, ya hanya itu yang didapat. Jika niat agar kuat bermaksiat bukannya dapat pahala malah dapat dosa! Jadi, mari perbaiki niat kita semua. Niatkan minum kopi sebagaimana ulama terdahulu memberikan contoh kepada kita. Yaitu untuk kuat beribadah kepada Allah.

Lebih jelasnya bisa kita lihat ulasan tentang kopi secara lengkap dalam kitab yang sudah populer di kalangan dunia pesantren yang  berjudul “Irsyadu al-Ikhwan fi Bayani al-Hukm al-Qahwah wa al-Dhukhan” yang ditulis oleh Syaikh Ihsan Jampes. Kitab tersebut populer dikenal sebagai Kitab Kopi dan Rokok. Sebagaimana tersirat dari judulnya, kitab ini membahas soal status hukum kopi dan rokok.

Oleh karena itu, sebagai santri kita harus bisa memanfaatkan waktu dan tentunya kopi kita terhadap sesuatu yang dapat memberikan manfaat yang lebih baik terhadap kita kalangan santri dan juga masyarakat luas.

Penulis : Mahrus Al-Anwari (Santri Aktif PPMU Bakid)

                                                          

Leave a Reply