Datangnya sebuah virus yang disebut dengan covid-19 (corona virus disease 2019) sampai sekarang masih menyisakan banyak misteri. Sudah hampir satu tahun virus corona ini melanda masyarakat Indonesia yang hingga kini jumlahnya pun semakin bertambah. Akibatnya banyak aktivitas yang terhenti, banyak orang kehilangan pekerjaannya, dan ekonomi semakin sulit. Hal tersebut juga berdampak terhadap pendidikan anak-anak bangsa. Pasalnya, kegiatan belajar di sekolah-sekolah formal maupun non-formal seperti halnya madrasah kini terbengkalai, banyak sekolahan yang diliburkan demi menjaga kesehatan dan guna memutus rangkai penyebaran covid-19.

Dampak dari pandemi covid-19 juga dirasakan oleh para santri. Mereka yang sebelumnya lancar dalam kegiatan belajarnya, kinipun merasakan sedikit kendala dan serba ruwet (angel;jawa.red). Hampir seluruh pesantren baik di Jawa dan Madura dengan tekat yang sangat kuat mengaktifkan kembali kegiatan pesantren. Para santri pun di intruksikan untuk kembali ke pesantren dengan catatan tetap mematuhi protokol kesehatan yang telah di tetapkan oleh pemerintah. Walaupun terasa berat, hal tersebut harus dilakukan oleh pesantren-pesantren demi terlaksananya kegiatan belajar mengajar meskipun di tengah-tengah wabah yang semakin tidak menentu.

Tidak ada yang menjadi pegangan para santri kecuali 3 hal : “ikhtiar, doa, dan tawakkal”. Sebagaimana yang telah didawuhkan guru kita Kiai Husni Zuhri. Demikianlah cara yang harus kita lakukan  dengan teguh disaat menghadapi masalah apapun, termasuk covid-19. Buat santri, jikalau tiga hal tersebut sudah terlaksanakan dengan baik, maka masalah apapun yang terjadi pasti ada solusi yang menyertainya karena mereka yakin bahwa semua yang terjadi berasal dari Allah dan Allah jua lah yang akan memeberikan jalan keluar.

Pendidikan pesantren tidaklah sama dengan pendidikan di luar sana, meskipun wabah terus merajalela dan menyebar kemana-mana pesantren tetap menjalankan aktivitas belajarnya. Namun, dengan catatan harus sesuai dengan protokol kesehatan, dan mencegah siapapun yang keluar masuk area pesantren. Bahkan, pesantren bisa dikatakan dengan tempat pendidikan karantina mandiri yang paling efektif. Karena disamping para santri bisa belajar dengan tenang pesantren juga bisa menjadi tempat karantina bagi mereka. Pasalnya, mereka terus menetap disana dan tidak keluar masuk.

Akan tetapi, harus diperhatikan bagi para santri supaya tetap mengikuti protokol kesehatan seperti : rajin cuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, istirahat yang cukup dan lain sebagainya. Dari sisi lain, kehidupan di dalam pesantren sangatlah beda dibandingkan kehidupan di luar pesantren. Plakat yang bertuliskan “kawasan wajib memakai masker” itulah bentuk ikhtiar menandakan bahwasanya menjaga kesehatan secara rohaniah maupun jasmaniah dari semacam virus covid-19 ini sangat di perhatikan oleh para santri , dengan semangat dan keikhlasan dalam belajar maka santri tetap mengikuti perintah dari kiai, dawuhnya “santri pinter pakai masker”. Memakai masker kelihatannya hanyalah hal sepele, namun terkadang hal sepele itulah yang bernilai sepuluh dan mencegah lebih baik dari pada mengobati.

Ada hikmah tersendiri dari covid-19 ini antara lain; semakin percaya bahwa Allah sungguh maha kuasa karena dapat menjadikan dunia dan seisinya bertekuk lutut dengan takdir yang terjadi, menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak berdaya. Sepintar apapun, ternyata ketika terkena virus menjadi lemah dan tak berdaya. Membangkitkan semangat kebersamaan, mendorong empati antar sesama, gotong-royong dan saling membantu dalam mengatasi masalah. Kembali hidup sehat, makan minum dengan baik serta rajin berolahraga untuk meningkatkan daya tahan tubuh atau imunitas. 

Memang penularan ini ada, jadi kita sebagai santri harus percaya bahwa virus ini memang ada keadaan nya yang tidak dapat dilihat bentuk dan penulannya yang sangat cepat , namun hal tersebut bukan alasan untuk menghentikan pendidikan pesantren. Apabila pasar dan mall  harus dibuka di tengah-tengah masa pandemi ini, maka pesantren lebih utama untuk dibuka.

Imam fakhruddin al-razi menyatakan

ان ترك الخير الكثير لأجل الشر القليل شر كثير

“merupakan keburukan yang besar meninggalkan kebaikan yang besar hanya gara-gara adanya keburukan yang kecil”

Lantas, pesantrenlah yang sekarang menjadi temapt pendidikan yang berada di garda terdepan bagi nusantara kini. Disamping ilmu yang dipelajari tentang pengetahuan umum juga mempelajari tentang pengetahuan agama yang menyangkut soal keimanan. Jadi sebagai santri kita tetap bertawakal dan berdo’a kepada Allah supaya diberi keselamatan dunia maupun di akhirat disertai dengan ikhtiar kita disetiap saat.

Penulis : Sholehhuddin (Santri PPMU Bakid)

2 thoughts on “Ijtihad Santri Menghadapi Covid-19

Leave a Reply