Segala puji hanya bagi Allah swt yang telah menurunkan kepada kita ayat-ayat Al-Qur’an yang memberi penjelasan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kita dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa. Dan Allah memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki kejalan yang lurus.[1] Kemudian jika mereka berpaling, maka (ketahuilah) bahwa Allah maha mengetahui orang orang yang berbuat kerusakan. Shalawat dan salam kami haturkan kepada beliau saw sebagaimana shalawat dan salam sang khaliq kepada Beliau saw, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.

Wanita mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut, indahkan asosiai dengannya dan tidak dilakukan kerugian atasnya.[2] Dua Wanita juga berhak menjadi saksi sebagai ganti saksi satu laki-laki[3] ini menandakan Islam juga menghargai ilmu pengetahuan wanita. Ingatkah kita, ketika istri ‘imran, Hannah berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi (kepada-Mu), maka terimalah (nazar itu) dariku. Sungguh, Engkau yang maha mendengar, maha mengetahui.[4]

Hannah yang berharab kandungannya melahirkan sosok anak laki-laki, yang akan dijadikannya khadim baitil muqaddas, ternyata lahir anak perempuan. Maka ketika ia melahirkannaya, dia berkata, “ya tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan (tidak sesuai harapannya)”. Padahal Allah lebih tahu apa yang ia lahirkan.[5] Dengan ungkapan bahwa Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan itu, merupakan bentuk protes-Nya. Dengan artian, tidaklah perempuan yang dilahirkannya lebih buruk dari anak laki-laki yang di harapkannya.[6]

Dan ternyata anak perempuan itu menjadi sosok perempuan mulia di sisi Allah swt, Maryam binti Hannah, di saat semua bayi yang baru dilahirkan disentuh oleh setan sehingga membuka mulut dan bersuara minta tolong tidak dengan maryam dan putranya, Isa as.[7] Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, membentuk (karakternya) dengan karakter yang baik maka dia tumbuh sehari bagaikan setahun, sehingga anak perempuan itu menjadi rival atau ajang kompetisi untuk diasuh.[8]

Mengenali lebih jauh dia sebagai mufassir wanita

Aisyah adalah wanita yang dinikahi oleh Rasulullah saw pada bulan Syawal tahun ke sebelas dari nubuwah, selang setahun setelah menikahi Saudah atau dua tahun lima bulan sebelum hijrah. Rasulullah saw menikahinya saat dia masih berusia enam tahun, lalu hidup bersama Beliau saw pada bulan syawal, tujuh bulan setelah hijrah ke Madinah, yang saat itu umurnya sembilan tahun. Dia adalah seorang gadis yang Beliau saw tidak pernah menikahi gadis kecualinya. Dia termasuk orang yang amat dicintai Beliau saw dan merupakan wanita yang paling banyak ilmunya di tengah ummat.[9]

Sejarah yang mengukir kecerdasannya dia sebagai mufassir, penjelas tentang ayat-ayat suci al-qur’an, dia pernah meluruskan pemahaman kaum laki-laki yang keliru dalam menyampaikan penafsiran atau pemahaman mengenai ayat-ayat al-qur’an.

Ayat tentang firman Allah swt:

إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ ٱللَّهِ  فَمَنْ حَجَّ ٱلْبَيْتَ أَوِ ٱعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا  وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.(QS, Al-Baqarah: 158)[10]

Sebab Turunnya ayat:

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan selainnya dari Urwah berkata, aku berkata kepada Aisyah ra –istri Nabi Muhammad saw-, “apakah engkau telah melihat firman Allah, “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya” maka tidak mengapa bagi seorangpun untuk tidak melakukan thawaf (sa’i) diantara keduanya.

Aisyah Ra berkata, “sungguh salah yang engkau katakan wahai anak saudariku, sesungguhnya jika ayat itu seperti yang engkau tafsirkan, maka tidak mengapa untuk tidak melaksanakan tawaf (sa’i) antara keduanya. Akan tetapi, ayat tersebut turun karena orang-orang anshar sebelum masuk kedalam Islam mereka bertahlil untuk patung “manah thagiyah” dan orang-orang yang bertahlil kepada patung tersebut tidak ingin berthawaf antara shafa dan marwa, kemudian mereka menanyakan hal ini kepada Rasulullah saw, “wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami dahulu pada zaman jahiliyah merasa enggan untuk berthawaf antara sahfa dan marwa”, maka Allah menurunkan firman-Nya, “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah”, hingga firman-Nya “maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya”.[11]

Penulis : M. Ghufron Hidayatullah, SH (Alumni PPMU BAKID yang sedang menempuh studi program Magister di UINSA Surabaya)


[1] al-Qur’an, 2:142.

[2] Jalal Al-Din Muhammad Bin Ahmad Al-Mahally, Jalal Al-Din Abd Al-Rahman Bin Aby Bakar Al-Suyuthy, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim (Maktabah Darur al-Jauhar, Surabaya), Juz 1, 058.

[3] al-Qur’an, 2:282.

[4] Ibid., 3:35.

[5] Ibid., 3:36.

[6] Jalal Al-Din Muhammad Bin Ahmad Al-Mahally, Jalal Al-Din Abd Al-Rahman Bin Aby Bakar Al-Suyuthy, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim (Maktabah Darur al-Jauhar, Surabaya), Juz 1, 50.

[7] Ibid., 50.

[8] Ibid., 51.

[9] Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, Al-Rahiiq Al-Makhtum (Darussalam, Riyadh, 2019), 579.

[10] al-Qur’an, 2:158.

[11] Bukhari, Shahih bukhari, 4495.

Leave a Reply